Mengenal “Tawon 1.8” – Drone Mini Pengintip Kawah Puncak Gunung Agung

Foto: Kompas.com

“Tanpa drone kita tidak tahu apa yang terjadi. Citra satelit tidak dapat setiap saat memantau perkembangan kawah di Gunung Agung. Oleh karena itu, drone menjadi pilihan yang terbaik. Aman, efektif dan update,” ujar Kepala BNPB Willem Rampangilei dalam siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Untuk itu sejak beberapa hari lalu BNPB menginisasi penggunaan drone, yang terdiri dari drone jenis fixed wing dan rotary wing.

Baca juga: KOAX 3.0 – Drone Hybrid VTOL Untuk Misi Khusus

Dikutip dari Kompas.com (11/10/2017), disebutkan ada lima unit drone yang digunakan BNPB, terdiri dari 3 unit drone fixed wing yaitu KOAX 3.0, Tawon 1.8 dan Mavic, sedangkan 2 unit drone jenis rotary wing adalah multi rotor M600 dan Dji Phantom. Dan secara khusus, Indomiliter.com pernah mengupas seputar KOAX 3.0 produksi PT Carita Boat Indonesia (CBI), dan masih dari perusahaan yang sama, ada Tawon 1.8 yang namanya mendadak naik pamor dalam misi surveillance di puncak Gunung Agung.

Sesuai dengan namanya “Tawon,” drone ini memang berukuran kecil, bisa dibilang terbilang drone mini. Karena terbilang mini, Tawon tidak dirancang dengan roda pendarat, ini artinya drone yang dibuat dari bahan steering foam dan fiberglass ini diluncurkan dengan metode handlaunched, atau secara optional bisa juga dengan catapult launcher.

Dapat diluncurkan tanpa runway tentu memudahkan bagi tim di lapangan untuk mempersiapkan peuncuran Tawon di medan yang sulit. Dalam skenarionya, Tawon akan melakukan perekaman video dan pemotretan pada kondisi kawah menggunakan kamera Sony FDR-X-1000. Kamera adalah bagian dari payload yang bisa dibawa drone mini ini, selain kamera Tawon juga dimungkinkan untuk membawa FLIR (Forward Looking Infra Red) Vue.

Baca juga: Elang Laut 25 – Telah Resmi Dioperasikan Direktorat Topografi TNI AD

Secara teknis, Tawon 1.8 mempunyai berat hanya 3 kg dan bentang sayap keseluruhan 1,8 meter. Drone Tawon dapur pacunya mengandalkan mesin 25 QInch dengan bahan bakar metanol 1 liter. Sebagai transmisi untuk kendali menggunakan telemetri RFD 800 Mhz dan radio 430 Mhz. Sementara sang ‘pilot’ drone bisa mengendalikan Tawon dari GCS (Ground Control Station) maupun yang lebih simple lewat konsol FPV (First Person View) headset.

Dengan kapasitas bahan bakar yang terbatas, Tawon memang tak bisa terbang lama. “Maksimal endurance di udara selama 2 jam dengan jarak jangkau hingga 3.000 meter serta ketinggian terbang 4.000 meter,” ujar sumber dari PT CBI kepada Indomilter.com.

Ketinggian puncak Gunung Agung sendiri mencapai 3.169 meter, sementara Tawon diterbangkan dari ketinggian 800 mpdl (meter di atas permukaan laut), sehingga ada spare ketinggian yang cukup bagi drone untuk bermanuver. Meski mempunyai keunggulan dalam fleksibilitas penggelaran, drone Tawon 1.8 dalam operasinya di kawasan Gunung Agung mengalami sejumlah tantangan.

Baca juga: SDO 50V2 – Ini Dia! Drone Copter Andalan BASARNAS

Selain Tawon, pasukan elite Taifib Marinir TNI AL juga menggunakan drone jenis fly wing yang diluncurkan dengan handlaunched.

“Tantangan terbesar untuk menerbangkan drone ini adalah kecepatan angin di lokasi, bila kecepatan angin sampai 25 knots (46 km per jam) maka penerbangan harus ditunda,” papar pihak PT CBI yang berada di lokasi peluncuran. Drone Tawon secara teknis memang hanya layak diterbangkan pada kondisi kecepatan angin 20 knots (37 km per jam). Lain dari itu, drone yang dikendalikan secara LoS (Line of Sight) memerlukan area yang bebas obstacle.

Tidak adanya peralatan di puncak kawah menyebabkan tidak dapat diketahui kondisi puncak Gunung Agung visual secara terus menerus. Sementara itu puncak kawah berbahaya dan tidak boleh ada aktivitas masyarakat. Oleh karena untuk melakukan pemantauan puncak kawah dan lingkungan sekitar Gunung Agung, BNPB bersama PVMBG menerbangkan drone. (Haryo Adjie)

9 Comments