Angkatan Udara AS Uji Coba Pelepasan B61-12 dari F-35A: Bom Nuklir Taktis dengan Kit Ekor Berpemandu Baru

Jet tempur F-35A Lightning II telah lama digembar-gemborkan sebagai platform masa depan bagi kemampuan serangan nuklir taktis Amerika Serikat dan NATO. Tonggak sejarah besar baru saja dicapai pada Agustus 2025, menegaskan F-35 sebagai pesawat stealth pertama yang siap membawa senjata nuklir.
Baca juga: Menlu Rusia: “Pelibatan Jet Tempur F-16 Membawa Ancaman Nuklir” – Seperti Bom Nuklir B61
Peristiwa tersebut bukan hanya tentang kemampuan serang jet tempur, tetapi tentang persenjataan intinya, yaitu bom gravitasi nuklir B61-12.
Pada Agustus 2025, Administrasi Keamanan Nuklir Nasional – National Nuclear Security Administration (NNSA) dan Angkatan Udara AS (USAF) berhasil menyelesaikan uji coba penting di Tonopah Test Range, Nevada. Uji coba ini berupa pelepasan B61-12 Joint Test Assembly (bom tanpa hulu ledak nuklir) dari ruang senjata internal (weapon bay) jet tempur F-35A.
Uji coba ini menunjukkan kemampuan F-35A untuk membawa sepasang bom B61-12 di dalam ruang senjata internalnya. Kemampuan ini vital karena memungkinkan pesawat mempertahankan profil siluman (stealth) selama misi. Tujuan uji coba ini menjadi tolok ukur penting dalam proses sertifikasi nuklir F-35A, memastikan seluruh sistem (pesawat, kru, dan senjata yang baru dimodernisasi) bekerja secara andal.

Uji coba ini secara resmi disebut sebagai Stockpile Flight Tests dan merupakan yang pertama kalinya melibatkan F-35A dan B61-12 dalam versi siap stok. Personel Angkatan Udara dan Departemen Energi AS memuat sepasang bom B61-12 Joint Test Assembly (JTA – bom tanpa hulu ledak) ke dalam ruang senjata internal F-35A di Pangkalan Angkatan Udara Hill, Utah. Langkah ini vital untuk memverifikasi logistik pemuatan yang sesuai dengan desain stealth pesawat.
Kemudian penguji melakukan thermal preconditioning pada JTA, yang memastikan bom tersebut akan berfungsi andal dalam berbagai kondisi lingkungan nyata sebelum dibawa terbang. F-35A kemudian menjatuhkan JTA B61-12 di Tonopah Test Range. Uji coba pelepasan ini sukses memverifikasi kinerja aerodinamis bom, sistem pemandu, dan integrasi elektronik antara pesawat dan senjata.
B61-12 flight tests yield positive results! Dual B61-12 on F35!
Link below pic.twitter.com/BOO4jddSS8— Casillic (@Casillic) November 13, 2025
Dalam uji coba ini, pihak yang terlibat adalah NNSA, pengawas program modernisasi dan sertifikasi, Sandia & Los Alamos Labs, yang bertanggung jawab atas desain dan komponen inti, serta Boeing sebagai kontraktor utama untuk Kit Ekor Berpemandu (Guided Tail Kit) baru.
B61-12 bukanlah bom baru, melainkan varian hasil dari Program Perpanjangan Masa Pakai (Life Extension Program/LEP) yang diselesaikan pada Desember 2024. Bom ini menggabungkan dan menggantikan tiga model lama (B61-3, B61-4, dan B61-7), menjadikannya model tunggal dan serbaguna.
Meskipun B61-12 terlihat serupa dengan pendahulunya, terdapat dua perbedaan, B61-12 menjadi sedikit lebih berat (sekitar 374 kg) dibandingkan varian lama (sekitar 317 kg). Peningkatan berat ini berasal dari penambahan Kit Ekor Berpemandu baru.
Semua bom B61 memiliki kemampuan dial-a-yield (daya dapat disesuaikan). Namun, B61-12 berfokus pada pilihan daya yang lebih rendah, dari 0,3 kt hingga maksimum sekitar 50 kt (kiloton). Konsep strategisnya adalah akurasi tinggi menggantikan daya ledak yang besar. Dengan akurasi yang lebih baik, B61-12 dapat mencapai target yang sama efektifnya dengan menggunakan daya hulu ledak yang jauh lebih rendah, mengurangi collateral damage (kerusakan ikutan) yang tidak perlu.
F-35A memberikan kemampuan untuk menembus pertahanan udara musuh yang canggih tanpa terdeteksi, sementara B61-12 memberikan opsi serangan nuklir yang presisi, terkendali, dan proporsional. Inilah jawaban definitif AS dan NATO untuk menjaga kredibilitas penangkalan mereka di tengah ketegangan global. (Gilang Perdana)
Respon Dinamika Global, AS Ciptakan B61-13 – Bom Gravitasi dengan Hulu Ledak Nuklir 360 Kiloton



bom nuklir taktis…. itu apa bom termo nuke?
ini cocok untuk menghadapi negara2 dunia ke tiga yg lemah militernya….untk menghadapi negara seperti cina, atau rusia…..terasa kurang menggigit.
Setelah itu, F-35A yang memiliki radius tempur lebih jauh dari F-35B yang boros pembawa bom gravitasi nuklir B61-12 siap ditempatkan di Estonia yang merupakan garis depan NATO dengan Rusia