Aliansi Tiga Negara: Hanwha dan Babcock Tawarkan Kapal Selam KSS-III Senilai US$42 Miliar untuk Kanada

Hanwha Ocean (d/h Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering/DSME) bersama raksasa pertahanan asal Inggris, Babcock International, secara resmi mengusulkan model kerja sama trilateral antara Korea Selatan, Inggris, dan Kanada. Tawaran ini merupakan bagian dari upaya mereka untuk memenangkan kontrak raksasa Canadian Patrol Submarine Project (CPSP) senilai 60 miliar dolar Kanada atau sekitar US$43 miliar (Rp675 triliun).
Seperti dikutip The Korea Times (20/1/2026), proyek ini bertujuan untuk menggantikan armada kapal selam Victoria class milik Angkatan Laut Kanada dengan 12 unit kapal selam patroli baru yang lebih canggih. Jika berhasil, kesepakatan ini akan menjadi kontrak ekspor tunggal terbesar dalam sejarah industri pertahanan Korea Selatan.
Aliansi ini menawarkan pembagian peran yang strategis untuk menarik minat pemerintah Kanada, yaitu Hanwha Ocean (Korea Selatan) akan memasok platform kapal selam KSS-III (Dosan Ahn Changho class) yang sudah terbukti operasional di Angkatan Laut Korea Selatan. Kapal selam ini dilengkapi dengan teknologi baterai lithium-ion dan sistem Air-Independent Propulsion (AIP) untuk masa selam yang lebih lama.
Sementara, Babcock International (Inggris) akan bertanggung jawab atas sistem subsistem kunci, termasuk sistem peluncuran senjata dan tabung torpedo, serta dukungan siklus hidup jangka panjang, dan Babcock Canada akan memimpin lokalisasi proyek di Kanada, mencakup pemeliharaan, perbaikan, pemeriksaan (Maintenance, Repair, and Overhaul – MRO), serta pelatihan tenaga kerja lokal.
KSS-III Batch-I submarine is lurking in the mist. Showing VLS section.
Reportedly, Babcock and Hanwha Ocean have officially teamed up for Canada’s massive submarine program. 🇨🇦🇰🇷 Also, Hanwha will build submarine facilities in western and eastern Canada, as well as an artillery… pic.twitter.com/iGsvAuc90d— Mason ヨンハク (@mason_8718) September 13, 2025
Eoh Sung-chul, president of Hanwha Ocean’s naval ship business, menegaskan bahwa CPSP bukan sekadar pengiriman platform kapal selam. “Kemitraan ini bertujuan membangun kapabilitas industri jangka panjang dan lapangan kerja terampil di Kanada,” ujarnya.
Proposal ini sangat menekankan pada konsep “Sovereign Sustainment”, yaitu kemampuan Kanada untuk mengoperasikan dan merawat armada kapal selamnya secara mandiri di dalam negeri. Selain itu, aliansi ini juga didukung oleh perusahaan besar Korea lainnya seperti Korean Air dan Hyundai Motor, yang siap berinvestasi di berbagai sektor industri Kanada sebagai bagian dari imbal dagang (offset).
Saat ini, Hanwha Ocean bersaing ketat dengan perusahaan pertahanan asal Jerman, ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS), yang telah terpilih sebagai salah satu dari dua pemasok terkualifikasi oleh pemerintah Kanada.
Pihak Hanwha mengklaim memiliki jadwal pengiriman tercepat di dunia. Jika kontrak ditandatangani pada tahun 2026, Hanwha mampu mengirimkan empat kapal selam pertama pada tahun 2035 untuk menggantikan armada lama, dan menyelesaikan seluruh 12 unit pada tahun 2043.
Kemitraan ini tidak hanya memperkuat keamanan maritim Kanada di wilayah Atlantik dan Pasifik, tetapi juga memastikan integrasi operasi yang mulus dengan sekutu NATO dan mitra di kawasan Indo-Pasifik. Dengan dukungan teknologi baterai lithium terbaru, KSS-III dianggap sangat ideal untuk beroperasi di perairan ekstrem seperti wilayah Arktik.
KSS-III (Dosan Ahn Changho class)
Kapal selam yang menjadi ujung tombak tawaran Hanwha Ocean untuk Kanada adalah KSS-III (Dosan Ahn Changho class). Secara spesifikasi, kapal selam diesel-elektrik ini memiliki bobot sekitar 3.000 hingga 3.600 ton dengan panjang mencapai 83 hingga 89 meter, menjadikannya salah satu kapal selam non-nuklir terbesar di dunia.
Keunggulan utamanya terletak pada sistem navigasi dan daya tahan di bawah air yang luar biasa berkat penggunaan teknologi baterai lithium-ion generasi terbaru serta sistem Air-Independent Propulsion (AIP). Kombinasi ini memungkinkan KSS-III menyelam lebih lama dan bergerak jauh lebih senyap dibandingkan kapal selam diesel konvensional, sebuah kemampuan krusial untuk beroperasi secara rahasia di perairan luas seperti Arktik dan Pasifik.
Dari sisi persenjataan, KSS-III membawa lompatan besar bagi kapal selam kelas serang dengan adanya sistem Vertical Launching System (VLS). Fitur ini memungkinkannya meluncurkan rudal balistik kapal selam (SLBM) varian Hyunmoo serta rudal jelajah strategis, sebuah kapabilitas yang sangat jarang dimiliki oleh kapal selam non-nuklir.
Selain itu, kapal ini dilengkapi dengan enam tabung peluncur torpedo 533 mm untuk menghadapi ancaman kapal permukaan maupun kapal selam lawan. Saat ini, KSS-III bukan sekadar konsep di atas kertas; Korea Selatan telah resmi mengoperasikan tiga unit pertama, yakni ROKS Dosan Ahn Changho (SS-083), ROKS Ahn Mu (SS-085), dan ROKS Shin Chae-ho (SS-086). Keberhasilan operasional unit-unit ini di Angkatan Laut Korea Selatan menjadi bukti nyata akan keandalan dan kesiapan tempur platform tersebut untuk diadopsi oleh angkatan laut negara lain, termasuk Kanada. (Bayu Pamungkas)



“Babcock Canada akan memimpin lokalisasi proyek di Kanada, mencakup pemeliharaan, perbaikan, pemeriksaan (Maintenance, Repair, and Overhaul – MRO), serta pelatihan tenaga kerja lokal”
Proyek 43 milyar usd aja Cuman dapet offset mro dan pelatihan tenaga kerja? Bersyukur dong Korea udh mau kasih lisensi Cuman untuk proyek 1 milyar usd untuk 3 kapal selam changbogo walaupun beda type kapal selam paling gak bisa dapet pengalaman membuat 🤣
Teknologi kapal selam emang mahal, kapal selam konvensional yg Cuman bisa meluncurkan torpedo tanpa vls aja harga nya dari ratusan juta usd – milyar an usd per unit.
Wajar aja kapal selam konvensional dengan sistem vls harga nya udah milyar an usd per unit😃
Wah cuan besar ini 🤣
@Tukang Ngitung : Emangnya kasel kita mau dibawa jalan kemana?
Sebenarnya kita cukup memiliki 8 – 12 unit kasel sekelas Scorpene Evolved asalkan tidak dalam kosongan
Selebihnya kita dapat membuat kasel (KSOT) Kapal Selam Otonom Tanpa awak) yang dikatanya mampu mrmbawa Black Shark dan Exocet
Terlebih lagi RI berencana membuat 30 unit KSOT
Pertahanan, keamanan dan peperangan saat ini didominasi oleh lompatan teknologi
Jika memiliki kasel 6 – 12 unit + 30 KSOT saya rasa untuk negara seperti kita sudah termasuk loncatan besar, tinggal di upgrade arsenalnya saja, penambahan unit KSOT dan penyempurnaan dari KSOT
KSOT yang katanya mampu membawa 6 Black Shark dan Exocet jika dikalikan 30 artinya 180 Black Shark seharusnya minimalnya dapat menghambat pergerakan musuh bahkan negara kuat sekalipun
Kita tidak usah tergiur dengan kehebatan alusista luar, karena sebagian dari itu belum tentu cocok dengan kondisi keuangan dan alam di wilayah kita
Jika memang diperlukan dan urgent bila perlu KSOT diupgrade membawa Poseidon dari om Putin 🤭
Jika ada yang lebih murah dan bagus kenapa harus cari yang mahal
Peta kekuatan Eropa sekarang pecah
Sebagian negara kuat di Eropa sekarang lebih mengedepankan kemandirian militer dan tidak ingin bergantung kepada Amerika
Jadi jangan heran jika negara di luar Eropa ataupun negara di Eropa menjalin hubungan kerja sama menghindari kerja sama dengan Amerika dalam hal dunia militer
Sebenarnya ada peluang untuk RI untuk ToT dan lisensi atau lainnya jika dimanfaatkan dengan baik terukur dan terarah
Sambil mrnunggu satelit militer mengorbit dan AWACS kita dapat benefit dari perpecahan antata Eropa dengan Amerika
Asalkan kita masih dapat bertahan dari tekanan Amerika hingga 10 tahun kedepan dan bekerja sama dengan negara kuat Eropa untuk ToT, lisensi atau lainnya, maka kemungkinan lebih besar 10 tahun mendatang kita akan jauh lebih mapan dalam dunia militer dan tidak terlalu bergantung kepada luar, khususnya Amerika
Si KIMCHI lagi promosiin ke mana2, cara promosinya br kali ini mpe ke public opinion….
PT PAL perlu tiru si KIMCHI
https://youtu.be/QpxtSREm2Kg?si=r0C6a5TnTAt6cAZW
42 dibagi 12 = 3.5
Per unit usd 3,5 miliar (termasuk biaya operasional dan pemeliharaan). Tuh kan biaya akuisisi murah tapi yang mahal itu biaya operasional dan pemeliharaan serta perbaikan selama 30-40 tahun yang bisa 4 sampai 5 kali lipat dari harga beli.
Jadi kalo mau beli alutsista perlu dipikirin juga biaya pemeliharaannya. Jadi kalo misal, ini misal lho, misalnya biaya akuisisi usd 200 billion maka biaya pemeliharaan dan operasional bisa mencapai usd 1 trilion selama 50 tahun ke depan. Itu sama dengan nilai aset danantara. Pertanyaannya : Sanggupkah kita memelihara alutsista yang sudah dan akan dibeli ?