Albatross Class TNI AL: Korvet Beli Gress dari Negeri Pizza

KRI Patimura.
KRI Patimura.

Bersamaan dengan kedatangan dua unit destroyer escort Almirante Clemente dari Italia, TNI AL (d/h ALRI) juga membeli dua unit korvet yang juga dibeli anyar dari Italia, yakni Albatross Class. Kedua kapal yang di datangkan pada akhir dekade 50-an ini, punya andil besar dalam kampanye unjuk kekuatan armada RI dalam operasi Trikora di tahun 60-an. Tak hanya operasi Trikora, di tahun-tahun awal operasi Seroja, Albatross Class TNI AL juga masih mengambil peran.

Albatross Class yang masuk jajaran armada TNI AL adalah KRI Patimura 801 dan KRI Sultan Hasanuddin 802. Oleh karena adanya reorganisasi dalam pelabelan nomer lambung, dua kapal ini akhirnya diberi nomer lambung 3xx, sesuai kelas frigat dan korvet pada Satuan Kapal Eskorta (Satkor) TNI AL. Seperti KRI Patimura dengan nomer lambung 371. Meski asli buatan Negeri Pizza, namun Albatross Class dibangun oleh beberapa galangan. Untuk pesanan TNI AL, dikerjakan Stabilimento Luigi Orlando, Leghorn. KRI Patimura mulai dikerjakan pada 1 Juli 1956 dan rampung di 28 Januari 1958. Sedangkan KRI Sultan Hasanuddin mulai dibangun pada 24 Maret 1957 dan kelar pengerjaan pada 8 Maret 1958. Karena saat tibanya di Indonesia sedang banyak pergolakan, Albatross Class terbilang kenyang dalam banyak penugasan.

Baca juga: Almirante Clemente Class – Destroyer Escort TNI AL dengan Cita Rasa Italia

Aquila---disegno

Merujuk ke sejarahnya, Albatross Class lahir pasca berakhirnya Perang Dunia Kedua. Perancang desain kapal adalah Ansaldo pada awal tahun 50-an. Desain korvet ini lalu diadopsi untuk kebutuhan NATO dalam proyek MDAP (Mutual Defence Assistance Program). Karena disasar untuk kebutuhan operasi NATO, maka jelas pengguna korvet ini adalah negara-negara NATO, selain Italia, Belanda dan Denmark juga mengoperasikan Albatross Class. Di luar NATO, ya Indonesia-lah sebagai pemakai korvet berbobot standar 850 ton ini.

Secara keseluruhan, ada 11 unit Albatross Class yang diproduksi, Italia menjadi yang terlama mengoperasikan, yakni hingga 30 tahun lebih. Struktur desain dan kemampuan mesin diesel-nya, menjadi poin plus dari korvet ini. Masa bakti KRI Patimura berakhir pada 1980, sementara KRI Sultan Hasanuddin lebih dulu pensiun di tahun 1979. Namun, TNI AL telah me-reborn kedua nama kapal perang tersebut, KRI Patimura 371 dalam wujud korvet Parchim Class dan KRI Hasanuddin 366 kini berwujud korvet SIGMA Class. AL Italia tercatat masih mengoperasikan Albatross Class hingga 1991.

5096airone1955b12024fcv6511320310888480925_2b2e07d468_o10888502436_79d89266b9_o

Dari aspek alutsista, bekal sistem senjata utama mencaku dua pucuk meriam 76 mm/62 SMP-3 laras tunggal, masing-masing disematkan pada haluan dan buritan. Meriam ini mampu menembakkan 50 proyetil per menit. Laras meriam punya sudut elevasi sampai 90 derajat. Dengan bobot munisi 6 kg, jangkauan tembak maksimum sampai 16 km, sementara kecepatan luncur proyektil 959 meter per detik. Pengoperasian meriam ini dapat dipadukan dengan radar fire control director OG-2. Namun, pengoperasian meriam 76 mm/62 SMP-3 kerap dianggap terlalu kompleks dan beberapa kali menimbulkan kecelakaan dalam proses reload. Sebagai opsi pengganti, beberapa unit milik Italia dan Denmark dipasang kanon Bofors 40 mm/70 yang justru dioperasikan secara manual. Dalam implementasinya, kanin Bofors 40 mm ada yang di pasang baik laras tungga dan laras ganda. Terakhir AL Italia melakukan upgrade pada akhir tahun 70-an, yakni dengan memasang kanon Breda.

Sebagai korvet yang berlaga di era Perang Dingin, Albatross Class dibekali senjata AKS (anti kapal selam), mulai dari dua mortir anti kapal selam Hedgehogs Mark 11, empat mortir Menon ASW, dan bom laut (depth charge chute). Sementara kehadiran torpedo dalam wujud Mark 32 triple ASW torpedo tubes baru di instalasi pada tahun 70-an untuk AL Italia. Bicara tentang radar dan sensor, Italia dan Denmark memasok instrument secara patungan, terdiri dari MLN-1A, surface search radar, later multifunction SPQ-2 (Italia), NWS-1 surface search radar (Denmark), CWS-1 aerial early warning radar (Denmark), dan QCU-2 sonar.

Baca juga: Mark 32 – Peluncur Torpedo SUT Kapal Perang TNI AL

AL Italia masih menggunakan sampai awal tahun 90-an.
AL Italia masih menggunakan sampai awal tahun 90-an.
Tampil dengan Bofors 40 mm di haluan.
Tampil dengan Bofors 40 mm di haluan.

Giliran tentang dapur pacu, Albatross Class mengandalkan dua mesin diesel Fiat M409 dengan dua propeller. Kedua mesin dapat menghasilkan 5.200 bhp. Kecepatan maksimum 20 knots, dan untuk daya jelajah, bisa mencapai 15.575 km pada kecepatan 10 knots, dan 4.667 km pada kecepatan 20 knots. (Haryo Adjie)

Spesifikasi Albatross Class
– Displacement: 850 t standard; 950 t full load
– Length: 76,3 meter
– Beam : 9,7 meter
– Draught : 2,8 meter
– Propulsion: 2 shafts, 2 Fiat M 409 diesels, 5200 bhp (3900 kW)
– Speed: 20 knots
– Fuel: 95 ton
– Range: 14.575 km at 10 knots; 4.667 km at 20 knots
– Crew : 117

5 Comments