AGM-158 JASSM di Pembom B-1B Lancer – Sebuah ‘Pesan’ dari Trump untuk Xi Jinping

Meski dikemas dalam misi latihan, namun kehadiran pembom strategis B-1 Lancer di Lanud Andersen, Guam, dapat diartikan berbeda di tengah memuncaknya perang urat syaraf antara Amerika Serikat dan Cina. Seperti telah diberitakan secara luas, empat unit B-1 Lancer dan 200 ground crew dari 9th Expeditionary Bomb Squadron yang berbasis di Lanud Dyess, Texas, sejak awal Mei lalu telah diterbangkan menuju Guam untuk serangkain latihan bersama mitra sekutu AS dan yang lebih penting adalah penekanan pada reinforce the rules based international order di Laut Cina Selatan.

Baca juga: Kembali “Terjun” di Timur Tengah, B-1B Lancer Pernah Empat Hari Pukau Warga Jakarta

Bila penekanan pada rules-based international order di Laut Cina Selatan, maka sudah bisa dipastikan maksud dari wara-wirinya B-1B Lancer adalah untuk memberi efek deterens pada Republik Rakyat Cina. Didukung kehadiran pesawat tanker KC-135 Stratotanker, misi pergi dan pulang dari Guam menuju titik tengah Laut Cina Selatan tentu bukan hal yang sulit bagi B-1B Lancer.

Setidaknya, seperti terlihat dalam ilustrasi di bawah ini, ada dua pilihan rute B-1B Lancer untuk menjangkau Laut Cina Selatan, dimana keduanya ‘membelah’ ruang udara Filipina dari sisi utara dan selatan.

B-1B Lancer dapat terbang sejauh 9.400 km, jangkauan jelajah pembom ini bakal bertambah berkat dukungan air refueling model boom (seperti pada F-16 Fighting Falcon). Ketinggian terbang maksimumnya 18.000 meter dan punya kecepatan menananjak sampai 28,84 meter per detik. B-1B Lancer disokong empat mesin turbofan General Electric GE F-101-GE-102 afterburner. Setiap mesinnya mampu menghasilan daya dorong 13.605 kg. Pesawat pembom dengan sayap model swing-wing ini dapat melesat dengan kecepatan jelajah Mach 0.92 dan kecepatan maksimum Mach 1.25.

Jika hanya B-1B hanya terbang terbang mondar-mandir, boleh jadi militer Cina tak bakalan dibuat gentar. Namun situs TheDrive.com (10/5/2020), memperlihatkan sebuah foto, dimana salah satu dari B-1B  Lancer yang ada di Guam sudah menggotong rudal jelajah jenis AGM-158 JASSM (Joint Air-to-Surface Standoff Missile) pada bomb bay. Dari foto tersebut, AS seolah ingin memberi pesan tersendiri atas eskalasi yang kini kian memanas di Laut Cina Selatan.

AGM-158 JASSM merupakan kategori air launched cruise missile yang dirancang dan diproduksi oleh Lockheed Martin. Setidaknya dua varian rudal ini telah dioperasikan AU AS, yaitu AGM-158A JASSM dan AGM-158B JASSM-ER (Extended Range). Meski kedua varian punya dimensi yang sama, namun kemampuannya tidaklah sama. Kedua varian punya AGM-158 punya panjang 4,27 meter, lebar bentang sayap 2,4 meter dan bobot mencapai 1 ton.

AGM-158A yang mulai diproduksi sejak 1998, dan ditenagai mesin turbojet Teledyne CAE J402-CA-100 yang mengasilkan thrust 3.0 kN. Jarak jejalah AGM-158A mencapai 370 km. Sementara AGM-158B mulai diproduksi sejak 2006, ditenagai mesin turbofan Williams International F107-WR-105. jarak jelajah AGM-158B mencapai 925 km.

Meski pihak produsen tak menyebutkan detail kecepatan, disebut kedua varian rudal ini melesat di koridor subsonic dengan hulu ledak WDU-42/B penetrator seberat 450 kg. Harga keduanya pun berbeda jauh, AGM-158A JASSM dibandrol per unit US$850 ribu, sedangkan AGM-158B JASSM-ER harga per unitnya ditaksir US$1,32 juta.

B-1B Lancer di Indonesia AirShow 1996 (Sumber: Repro Majalah Angkasa)

AGM-158 JASSM pertama kali digunakan dalam kancah pertempuran saat serangan AS/NATO ke Suriah pada 14 April 2018. Dua unit B-1B Lancer menembakkan total 19 JASSM sebagai bagian dari serangan terhadap tiga basis pemerintahan Suriah yang diduga sebagai lokasi penempatan senjata kimia.

Menurut media Rusia, dua rudal yang gagal meledak ditemukan oleh militer Suriah dan dipindahkan ke Rusia pada 18 April untuk dipelajari lebih lanjut. Laporan awal menyatakan bahwa yang digunakan dalam penyerangan ke Suriah adalah JASSM-ER, namun belakangan diklarifikasi bahwa yang digunakan adalah varian dasar (AGM-158A).

Debut kedua AGM-158 JASSM dilakukan pada 27 Oktober 2019, rudal jelajah ini dilepaskan ke kawasan Barisha untuk menghancurkan basis pimpinan ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi. Sejumlah AGM-158B digunakan untuk meratakan kompleks tempat penyerbuan itu terjadi, menandai kedua kalinya debut JASSM dalam operasi militer.

Baca juga: Rusia Beberkan Bukti Baru Atas Serangan Rudal Jelajah AS dan Sekutu ke Suriah

Selain dapat dilepaskan oleh B-1 Lancer, AGM-158 JASSM dapat pula dilepaskan dari B-2 Spirit, B-52 Stratofortress, F-15E Strike Eagle, F-16 Fighting Falcon dan F/A-18 Hornet. Selain AS, negara pengguna rudal ini adalah Polandia, Finlandia dan Australia. Dengan melihat catatan kinerja dan kemampuan AGM-158 JASSM dalam dua kali operasi penyerangan, akanhkan akhirnya dapat membuat Cina gentar? Kita tunggu saja kelanjutannya. (Bayu Pamungkas)

23 Comments