HNLMS Karel Doorman: Sedari Awal Tak Siap ‘Bertarung’ Melawan Armada RI

Setelah membahas Hawker Hunter F4 eks Belanda yang kini menghuni Museum Dirgantara Mandala, Yogyakarta, ingatan sontak terbawa pada sejarah perebutan Papua (d/h Irian Barat) dari tangan kolonial. Dan bila dicerna lebih dalam, terutama dari aspek alutsista, maka fokus incaran dan daya upaya TNI kala itu tertuju pada sosok kapal induk HNLMS Karel Doorman (R81).

Baca juga: Intip Pengecatan Hawker Hunter F4 di Museum Dirgantara Mandala

Siapa yang tak kenal dengan kapal perang kebanggaan AL Kerajaan Belanda, dari pelajaran sejarah di sekolah dasar pun nama kapal induk ini sudah kerap disebut. Tapi tahukah Anda, bahwa sejatinya HNLMS Karel Doorman kala itu tak benar-benar siap tempur.

Ya, dari dokumen intelijen Belanda yang diungkap pada 3 Januari 2012, disebut bahwa niatan Belanda mengirim HNLMS Karel Doorman ke perairan Papua pada 1960 tak lebih ‘hanya’ ingin pamer kekuatan. Namun dituturkan dalam dokumen bahwa respon Indonesia jauh dari perkiraan, justru Indonesia melakukan mobilisasi dan perangkat tempur besar-besaran dari Uni Soviet.

Dengan status kapal induk, meski terlihat ‘mentereng’ HNLMS Karel Doorman adalah lawan yang tak sebanding dengan perkuatan alutsista TNI saat itu, mulai dari kedatangan kapal penjelajah KRI Irian, kapal selam Whiskey Class, pembom jarak jauh Tu-16KS Badger dengan rudal AS-1 Kennel, kombinasi kesemuanya jelas sangat rentan bagi HNLMS Karel Doorman. Lewat proses perundingan dan atas saran dari Amerika Serikat, faktor di atas menjadi poin penting bagi Belanda untuk lebih baik hengkang dari Papua.

Baca juga: AS-1 Kennel – Rudal Bongsor “Penakluk” Kapal Induk Belanda Karel Doorman

HNLMS Karel Doorman. berlabuh di Papua.
Hawker Sea Hawk

Sebagai kapal induk, HNLMS Karel Doorman jelas membawa jet tempur, dan memang ada 12 unit Hawker Sea Hawk, varian naval dari Hawker Hunter. Jet tempur dengan sayap lipat ini jelas bukan tandingan dalam duel udara dengan MiG-21F-13 TNI AU.

Dirunut dari sejarahnya, meski kekuatan militer Belanda tersohor di dunia, namun untuk urusan kapal induk, Negara Kincir Angin ini juga membeli produk bekas pakai. Persisinya AL Belanda mengakuisisi HNLMS Karel Doorman pada 1948, sebelumnya kapal induk induk ringan ini bernama HMS Venerable milik AL Kerajaan Inggris. Bila diperdalam lagi, HMS Venerable termasuk dalam Colossus-class aircraft carrier.

Tak terima baran bekas begitu saja, HNLMS Karel Doorman pada 1955-1958 dilakukan perluasan flight deck, agar mampu menampung puluhan pesawat. Dalam upgrade ini Belanda juga memasang elevator baru, perangkat pelontar pesawat, pemasangan fasilitas pendukung penerbangan yang lebih modern, dan peragkat navigasi elekttronik. Sementara dalam aspek hanud, sayangnya pada masa itu belum hadir kanon CIWS (Close In Weapon System) model Goalkeeper, alhasil perisai hanud diserahkan pada 12 unit Bofors L/70 40 mm.

HNLMS Karel Doorman dengan latar super carrier USS Enterprise (CVN-65).
Suasana flight deck HNLMS Karel Doorman .

Tapi jangan anggap pergerakan kapal induk lemah, pasalnya SOP kapal induk selalu menyertakan body guard, seperti HNLMS Karel Doorman yang saat ke Papua dikawal dua destroyer dan satu kapal tanker.

Karena dianggap punya potensi ancaman besar, Pergerakan HNLMS Karel Doorman dari Belanda menuju Papua telah terpantau pihak intelijen Indonesia. Agar pelayaran berlangsung aman dan bebas tekanan politik dari Mesir yang merupakan sekutu Indonesia. Maka HNLMS Karel Doorman dan kapal pengiringnya berlayar tak melewati Terusan Suez, melainkan harus memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Seiring reorganisasi AL Belanda, HNLMS Karel Doorman kemudian tak lagi digunakan. Dengan latar perubahan strategi militer Belanda dan yang pasti biaya operasional kapal induk yang dianggap terlalu tinggi, pada 1969 HNLMS Karel Doorman berpindah kepemilikan ke Agentina, dan berubah nama menjadi ARA Veinticinco de Mayo (V-2).

ARA Veinticinco de Mayo (V-2)
Super Etendard di ARA Veinticinco de Mayo (V-2).

Di tangan Argentina, kapal induk ini bertambah garang, jet tempur yang lepas landas diantaranya A-4Q Skyhawk dan Super Entedard, jet tempur yang kondang membawa rudal anti kapal AM-39 Exocet. Ironisnya, salah satu misi besar Veinticinco de Mayo adalah melawan negara yang dahulu membuatnya, Inggris, dalam Perang Malvinas (1982).

Baca juga: HTMS Chakri Naruebet: Nasib Kapal Induk Yang Beralih Fungsi Jadi “ThaiTanic”

Setelah diluncurkan dari galangan Cammell Laird pada 30 Desember 1943, akhirnya Argentina resmi memensiunkan kapal induk ini pada 1997. Sebagian dari sisa spare part Veinticinco de Mayo dijual untuk mendukung kapal induk Brasil, NAeL Minas Gerais. Dan struktur kapal induk legendaris ini akhirnya di-scrap pada tahun 2000. (Gilang Perdana)

Spesifikasi HNLMS Karel Doorman
– Class and type: Colossus-class aircraft carrier
– Displacement: 19.900 tons
– Length: 192 meter
– Beam: 24.4 meter
– Draught: 7,5 meter
– Propulsion: 4 boilers with steam turbines 2 shafts 40,000 shp (30,000 kW)
– Speed: 24 knots (44 km/h)
– Complement: 1.300
– Armament: 12 x 40 mm AA guns

7 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *