Vladimir Putin ke UEA dan Arab Saudi dengan Ilyushin Il-96, Dikawal Empat Unit Sukhoi Su-35

Dengan berbagai pertimbangan, termasuk alasan keamanan, Presiden Rusia Vladimir Putin membatasi dirinya untuk melakukan lawatan ke luar negeri. Sejak berperang dengan Ukraina pada 24 Februari 2022, tercatat Presiden Rusia hanya melakukan lawatan ke Belarusia dan Cina, yang notabene kedua negara itu dapat diakses lewat jalur darat.

Baca juga: Rusia Uji Kemampuan Ilyushin Il-80 Maxdome, Pastikan Komunikasi Putin dengan Kapal Selam Serang Nuklir Berjalan Lancar

Seolah membuat kejutan, pada 6 Desember 2023, Vladimir Putin dengan pesawat kepresidenan Ilyushin Il-96 telah mendarat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) dalam kunjungan kenegaraan. Rute penerbangan (direct) tersingkat antara Moskow dan Abu Dhabi sekitar 3.737 km dengan melintasi ruang udara beberapa negara bersahabat, dan menempuh durasi hampir 6 jam. Hal ini menjadikan rute penerbagan internasional terjauh yang ditempuh Putin sejak invasi Rusia ke Ukraina.

Yang menarik dari lawatan kenegaraan ini, pesawat kepresidenan Ilyushin Il-96 tidak terbang sendirian, melainkan mendapat kawalan langsung dari empat unit jet tempur multirole Su-35 dengan bersenjata lengkap, termasuk rudal udara ke udara. Tidak seperti lazimnya pengawalan oleh jet tempur pada kepala negara (termasuk Indonesia), maka pengawalan oleh Su-35 kepada Il-96 Putin tidak hanya sampai di batas ruang udara Rusia, melainkan sampai Il-96 tiba di UEA.

Keberangkatan flight Su-35 dalam misi pengawalan ke UEA telah diposting dalam video pendek oleh Kementerian Pertahanan Rusia. Jarak jangkau Su-35 dengan bahan bakar penuh sekitar 3.600 km. Dengan membawa sejumlah payload dan aspek keamanan dalam penerbangan, maka minimal diperlukan satu kali air refueling.

Kota Dubai di UEA tengah menjadi tuan rumah perundingan iklim COP28 oleh Perserikatan Bangsa Bangsa. Kunjungan Putin berlangsung meski ada surat perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) bagi dirinya kerena invasi ke Ukraina.

Dikutip dw.com, UEA belum menandatangani perjanjian pendirian ICC. Itu berarti mereka tidak berkewajiban menahan Putin berdasarkan surat perintah ICC. Putin dituduh bertanggung jawab secara pribadi atas penculikan anak-anak dari Ukraina selama perang di negara itu.

Kunjungan tersebut dilakukan saat polisi bersenjata PBB berpatroli di sebagian Kota Expo Dubai yang saat ini dianggap sebagai wilayah internasional untuk perundingan COP28. Hubungan bisnis negara-negara ini memang melonjak pesat sejak Barat menjatuhkan sanksinya terhadap Moskow.

Hingga kini, belum ada kejelasan apakah Putin akan datang ke area COP28 yang baru saja didatangi oleh berbagai pemimpin negara di dunia, termasuk Presiden Belarusia Aleksandr Lukashenko, yang lama menjadi sekutunya.

Penasihat kebijakan luar negeri Putin, Yuri Ushakov, mengumumkan perjalanan kerja tersebut pada hari Senin (04/12), tetapi tidak memberikan tanggal spesifik atau rincian lebih lanjut. Ushakov mengatakan Putin akan mendarat dan mengadakan “pertemuan di istana” dan mengadakan pembicaraan langsung dengan pemimpin UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Putin juga dijadwalkan bertemu dengan Presiden Iran Ebrahim Raisi, Kamis (07/12), untuk membahas apa yang Ushakov gambarkan sebagai “pembicaraan yang agak panjang.” Kedua negara ini memang telah mendiskusikan cara untuk menghindari sanksi Barat yang menargetkan mereka.

Sementara Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan kepada kantor berita Interfax pada Selasa (05/12) bahwa “semua ini akan berlangsung dalam waktu 24 jam.” Peskow menambahkan bahwa kunjungan kerja tersebut akan menitikberatkan hubungan bilateral, dan membahas lebih lanjut koordinasi pasar minyak internasional. Putin terakhir kali mengunjungi UEA pada tahun 2019.

Demi Lindungi Putin dan Instalasi Penting, Rusia Lakukan ‘Spoofing’ GPS dalam Skala Luas

Ke Arab Saudi
Selain itu, Putin juga dijadwalkan melakukan perjalanan ke Arab Saudi dan bertemu dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dalam perjalanan satu hari, kata Ushakov. Diskusi tersebut kemungkinan besar akan fokus pada kekhawatiran utama Moskow lainnya di Timur Tengah, yaitu minyak. Rusia adalah bagian dari OPEC+, yang merupakan sekelompok anggota kartel dan negara-negara lain yang mengatur produksi untuk menjaga dan meningkatkan harga minyak mentah. (Gilang Perdana)

3 Comments