US Army ‘Refurbished’ 1.900 Unit Rudal Stinger, Hemat $50.000 Per Rudal dan Perpanjang 10 Tahun Usia Pakai

FIM-92-Stinger (Foto: istimewa)

Demam refurbished pada alutsista bukan hanya terjadi di Indonesia, faktanya negara super kuat seperti Amerika Sertika juga melakukan refurbished alias pembaruan pada arsenal persenjataan yang dipandang telah berusia tua, namun masih punya potensi untuk digunakan dalam operasi. Seperti Angkatan Darat AS (US Army) yang melakukan refurbished pada 1.900 unit rudal MANPADS (Man Portable Air Defence System) FIM-92 Stinger.

Baca juga: Raytheon Kembali Produksi Rudal FIM-92 Stinger, Pensiunan Karyawan Berusia 70 Tahun Dilibatkan

Dikutip dari The Defense Post (24/1/2024). Angkatan Darat AS telah melakukan refurbished pada 1.900 rudal Stinger yang pernah dianggap “tidak dapat digunakan atau unserviceable”. Upaya refurbished diklaim mampu menghemat sekitar US$50.000 untuk biaya setiap rudal dan menambah 10 tahun masa pakai rudal hanud battle proven tersebut.

Selain itu, rudal Stinger hasil refurbished telah dilengkapi dengan teknologi baru untuk menghadapi ancaman dari drone. “Sebuah ancaman yang awalnya tidak dirancang oleh Stinger selama beberapa dekade yang lalu,” kata Angkatan Darat AS.

Upaya modernisasi Stinger mencakup melakukan serangkaian pengujian, menghancurkan rudal, mengganti komponen-komponen penting yang menua, dan memasukkan teknologi baru untuk memperpanjang umur simpan 10 tahun.”

Upaya refurbished sejatinya telah dimulai pada tahun 2017 di McAlester Army Ammunition Plant (MCAAP) sebagai bagian dari Stinger Service Life Extension Program. Namun invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 telah mengintensifkan upaya tersebut dan US Army menyetujui dana untuk perbaikan 2.700 rudal usang pada musim panas 2022 guna meningkatkan inventaris arsenal persenjataan aktif.

Program Executive Office, Missiles and Space dan MCAAP didanai untuk tugas tersebut, dengan perkiraan awal untuk memperbarui 1.100 rudal (sekitar 40 persen). Namun, MCAAP telah melampaui perkiraan awal dengan perbaikan 70 persen rudal atau empat bulan lebih cepat dari jadwal 16 bulan yang diusulkan.

Sementara itu, Angkatan Darat AS telah memberikan Raytheon kontrak untuk memproduksi 1.300 Stinger guna mengisi kembali stok rudal Stinger yang dikirim ke Ukraina.

FIM-92 Stinger sejatinya akan dipensiunkan secara bertahap dari inventaris Angkatan Darat AS. Stinger mulai masuk fase produksi pada tahun 1978 dan sejak 1981 resmi mulai dioperasikan oleh militer AS.

Stinger dengan tenaga dari solid fuel rocket motor dapat melesat hingga Mach 2.54 dan jarak jangkau ke sasaran sejauh 4.800 meter. Secara keseluruhan, produksi Stinger mencapai 70.000 unit, dimana rudal ini juga telah diproduksi secara lisensi oleh Jerman dan Turki.

Baca juga: Sudah Punya Ribuan Rudal Stinger, Taiwan Datangkan Lagi Paket FIM-92 Stinger Senilai US$500 Juta

Stinger dengan pemandu infrared mulai naik pamor saat digunakan Inggris dalam Perang Malvinas, dan di puncak era Perang Dingin, Stinger memperlihatkan tajinya di laga Perang Afghanistan, dimana Stinger yang dipasok AS ke pejuang Mujahidin berhasil merontokan banyak pesawat dan helikopter militer Uni Soviet. (Gilang Perdana)

5 Comments