Unik! Iran Pasang Kokpit F-5 Tiger pada Stabiliser Vertikal Tupolev Tu-154

Sudah sewajarnya bila manufaktur pesawat memiliki wahana yang disebut testbed aircraft atau flying test bed. Seperti halnya PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang mengoperasikan CN-235 220 FTB untuk melakukan serangkaian uji coba di udara pada berbagai perangkat baru CN-235 yang akan dikembangkan/dipasang pada varian baru CN-235. Nah, begitu pula dengan Iran Aircraft Manufacturing Industrial Company (HESA).

Baca juga: Kowsar – Bukti ‘Kecintaan’ Iran pada Rancang Bangun Northrop F-5

Manufaktur dirgantara asal Negeri Persia yang berdiri sejak 1976 ini, terbilang nyaring namanya dalam jagad dirgantara global, pasalnya HESA telah merilis beberapa varian jet tempur yang kebanyakan diciptakan dari hasil reverse engineering pada keluarga F-5 E/F Tiger II. Dan terkait testbed aircraft, HESA rupanya menggunakan pesawat trijet Tupolev Tu-154M yang dioperasikan oleh Armita Labs.

Namun, tak selazimnya fungsi testbed aircraft, Tu-154 milik HESA yang dikonversi dari pesawat sipil milik Iran Air Tours, mengemban peran sebagai wahana uji untuk kinerja kursi pelontar (ejection seat). Sebagai buktinya, bagian hidung dan kokpit dari RF-5A dicomot dan dipasang pada bagian atas stabiliser vertikal (vertical stablizer) Tu-154. Dengan melakukan pelontaran kursi pada kondisi nyata (terbang melesat dengan kecepatan tertentu), diharapkan dapat diukur kinerja dan efek dari pelontaran yang dilakukan.

Foto-foto: Twitter @Ninja998998

Kowsar alias F-5 Tiger cita rasa Iran, disebutkan menggunakan kursi pelontar K-36D produksi NPP Zvezda, Rusia. K-36D dirancang untuk dapat melontarkan pilot pada berbagai kondisi kecepatan dan ketinggian pesawat. Seperti halnya kursi pelontar lansiran AS dan barat, K-36D dapat digunakan dalam kondisi ketinggian nol dan kecepatan nol (zero-zero ejection seat), alias kursi pelontar dapat digunakan saat pesawat masih berada di permukaan. Untuk menggunakan kursi pelontar, disyaratkan bagi awak mengenakan peralatan pelindung, seperti harness, pressure suits dan kostum anti gravitasi.

Bobot kursi pelontar K-36D mencapai 103 kg, dimana komponen pada kursi pelontar sudah mencakup kombinasi peralatan pelindung KKO-15 dan tabung oksigen. Secara umum, peralatan yang ada di kursi pelontar terdiri dari sistem parasut, survival kit, windblast shield, sistem oksigen darurat dan pyrotechnic charges.

Dari spesifikasi, kecepatan lontaran ejection seat K-36D mencapai 1.400 km per jam dan dapat dilontarkan pada ketinggian 20.000 meter saat kecepatan pesawat Mach 2.5. Pada prinsipnya, kecepatan lontaran roket disesuaikan dari kecepatan laju pesawat, pihak pabrikan menyebut mekanisme penyesuaian kecepatan roket berlaku otomatis saat kecepatan pesawat lebih dari 850 km per jam.

Sekilas tentang Tupolev Tu-154, pesawat ini terbang perdana pada tanggal 4 Oktober 1968, dan pesawat produksi pertama mulai memperkuat armada Aeroflot pada awal tahun 1971. Namun penerbangan komersialnya dimulai bulan Februari 1972. Lini produksi Tu-154 sudah ditutup tahun 2006, meskipun bukti menunjukkan bahwa produksi terbatas masih dilakukan hingga saat ini, khusus Tu-154M.

Baca juga: Terkuak! Label Identitas ‘Asli’ Amerika Serikat di Jet Tempur Kowsar Iran

Tu-154 disebut-sebut lebih bertenaga dan lebih besar dimensinya dibandingkan Boeing 727. Namun, kapasitas maksimal Tu-154 adalah 180 orang, sedangkan 727 memiliki kapasitas penumpang hingga 189 orang penumpang. Karena disebut lebih bertenaga, konsumsi bahan bakar dan tingkat kebisingannya pun lebih tinggi dibandingkan Boeing 727. Tu-154 kini sudah dilarang memasuki wilayah udara Uni Eropa sejak tahun 2007 karena tingkat kebisingan yang tinggi, dengan perkecualian untuk keperluan pemerintahan dan militer. (Haryo Adjie)

9 Comments