Tupolev Tu-95 dan “Tsar Bomba” – Uji Coba Bom Nuklir dengan Efek Ledakan Terbesar di Dunia

Bayang-bayang perang nuklir selalu menjadi momok menakutkan saat terjadi konflik yang melibatkan negara-negara besar. Seperti gambaran efek kehancuran dari senjata nuklir dapat digambarkan dari serangkaian uji cobanya yang beberapa kali dilakukan di era Perang Dingin. Dan terkait uji coba senjata nuklir, peristiwa “Tsar Bomba” menjadi yang paling dikenal, lantaran inilah uji coba senjata nuklir terbesar yang pernah dilakukan.

Baca juga: Dengan Sejumlah Upgrade, Rusia Maksimalkan Operasional Pembom Strategis Tu-95 Hingga 2040

Dikutip dari ctbto.org, pada 30 Oktober 1961, berlangsung peledakan bom nuklir yang diberi label resmi RDS-220 hydrogen bomb. Peledakan berlangsung di atas langit Pulau Novaya Zemlya di Laut Arktik. Besarnya bom nuklir ini terindikasi dari kekuatan bahan peledak yang mencapai 50 megaton, atau sekitar 3.800 kali ledakan bom atom Hirsohima secara simultan. Dari spesifikasi, Tsar Bomba punya berat 27 ton dan panjang 8 meter.

Melihat dari momen waktu peledakan, maka uji coba ini tak lepas dari ketegangan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Pada 1 September 1961, moratorium pengujian yang telah berlangsung selama hampir tiga tahun dipatahkan. Dalam 16 bulan, kedua negara melakukan lebih banyak uji coba nuklir daripada 16 tahun sebelumnya, menyebabkan lonjakan tingkat radiasi global dan eskalasi lebih lanjut dari ketegangan politik sebelum Krisis Rudal Kuba.

Tsar Bomba

Sebagai reaksi, Perdana Menteri Soviet Nikita Khrushchev telah memerintahkan pengembangan senjata 100 megaton nuklir pada Juli 1961. Tidak seperti senjata termonuklir biasa, Tsar Bomba terdiri dari tahap ketiga, sedangkan hulu ledak termonuklir biasanya hanya terdiri dari dua. Dengan menambahkan lebih banyak tahap, daya ledak bom termonuklir secara teoritis dapat ditingkatkan tanpa batas. Insinyur Soviet telah mengurangi hasil sebenarnya dari 100 megaton sekitar setengahnya untuk membatasi efek ledakan.

Tsar Bomba dijatuhkan di udara untuk menunjukkan kemampuan deliverability. Parasut huge fall-retardation dipasang pada bom untuk meningkatkan peluang pesawat peluncur untuk melarikan diri. Dan pesawat yang digunakan untuk merilis Tsar Bomba adalah pembom strategis turboprop Tupolev Tu-95 Bear. Untuk misi tersebut, Tu-95 secara khusus dilapisi cat reflektif putih untuk melindunginya dari radiasi termal yang dikeluarkan oleh ledakan.

Cahaya ledakan terlihat dari jarak 1.000 km.

Meskipun demikian, kemungkinan bertahan hidup pilot Andrei Durnovtsev dan krunya diperkirakan hanya 50 persen. Pasalnya, gelombang kejut ledakan Tsar Bomba menyebabkan pesawat langsung kehilangan ketinggian satu kilometer, tetapi untungnya pesawat dapat mendarat dengan selamat. Dari spesifikasi, Tu-95 dengan mesin 4 x Kuznetsov NK-12 turboprop dapat melesat dengan kecepatan maksimum 850-925 km per jam.

Fakta yang menarik, meskipun Tsar Bomba diledakkan 4 kilometer di atas tanah, terjadi gelombang kejut seismik yang setara dengan gempa bumi lebih dari 5,0 Skala Richter diukur di seluruh dunia. Awan jamur mencapai ketinggian 60 kilometer. Luka bakar tingkat tiga mungkin terjadi pada jarak ratusan kilometer. Cincin kehancuran mutlak memiliki radius 35 km.

Baca juga: Intip Lebih Dekat Tupolev Tu-95MS, Pembom Strategis Yang Sempat Bertandang Ke Biak

Dengan menggunakan aplikasi Nukemap online oleh sejarawan senjata nuklir AS Alex Wellerstein, dampak ledakan nuklir Tsar Bomba dapat diilustrasikan yang terbesar untuk lokasi mana pun di dunia. (Gilang Perdana)