‘Tidak ada Matinya,’ Roket FFAR Terus Berevolusi dari Masa ke Masa

(Arnold Defense)

Siapa yang tak kenal dengan roket FFAR (Folding Fin Aerial Rocket ) 2.75 inchi kaliber 70 mm, inilah senjata bantuan tembakan udara yang akran digunakan pada pesawat tempur TNI AU dan helikopter serbu Puspenerbad. Roket FFAR pun telah diproduksi di Indonesia sejak lama oleh PT Dirgantara Indonesia (DI). Produksi FFAR di Indonesia dimulai pada tahun 1981, khususnya setelah diperoleh lisensi dari Force de Zeeburg Belgia.

Baca juga: Helikopter Serbu Mi-35P Puspenerbad Sukses Dipasangi Roket FFAR Produksi PT DI

Namun, faktanya produsen asal FFAR tidak hanya satu, pasalnya yang pertama kali mengembangkan FFAR adalah US Naval Ordnance Test Center dan North American Aviation pada akhir tahun 1940. Dan, hingga saat ini roket FFAR masih terus diproduksi untuk memenuhi beragam operasi di banyak negara.

Kabar terbaru, Arnold Defense yang bekerja sama dengan Thales Belgium, telah menerima sertifikasi formal untuk penembakan roket FFAR Thales FZ90 70 mm untuk peran peluncuran roket udara ke udara dan permukaan ke permukaan. Sebagai informasi, Thales Belgium tak lain adalah Force de Zeeburg, yang sahamnya telah dibeli perusahaan induk Thales dari Perancis.

Sertifikasi tersebut mengikuti kampanye penembakan langsung yang didanai bersama di fasilitas padang pasir Dillon Aero dekat Maricopa, Arizona pada pertengahan Januari 2021. Selama kampanye, ‘sejumlah besar roket’ ditembakkan dari peluncur darat, udara, dan peluncur maritim Arnold Defense yang dipasang pada helikopter Bell 407 untuk pengujian tembakan udara ke permukaan. Kemudian uji penembakan dari permukaan ke permukaan dilakukan dari peluncur yang terpasang di Toyota Land Cruiser 4×4.

(Arnold Defense)

Peluncur roket FFAR dari udara ke-permukaan menggunakan LAU series dan nM-series (lightweight). Kemudian untuk pelncur roket FFAR dari permukaan ke permukaan menggunakan new LGR4 Fletcher dan LGR23 Multiple Launch Hydra System (MLHS).

LGR4 Fletcher adalah peluncur yang dibuat khusus untuk platform darat, yang tak lain merupakan peluncur empat tabung roket dengan pemandu laser (LGR) empat sel ringan yang dirancang untuk memberikan efek tembakan tunggal atau riak terhadap target statis dan bergerak di darat pada jarak 1–8 km, dengan jarak serangan presisi efektif 6 km. Dengan berat 25,4 kg, panjang 1,9 meter, dan diameter 20,3 cm, LGR4 dapat dipasang pada kendaraan ringan taktis, kendaraan taktis non-standar, dan platform stasioner.

Thales Belgium merilis varian terbaru FFAR yang disebut FZ90 MOD.2/S. Roket ini punya waktu aksi nominal 1,07 detik yang menghasilkan kecepatan luncur sekitar 400 m dan 680 meter per detik saat digunakan dengan mengusung hulu ledak 4,3 kg. Roket ini mengadopsi propelan basa ganda padat yang tidak menghasilkan asap dan thermal signatures.

Sementara PT DI membuat dua varian dari roket FFAR, yakni RD701 berbasis FFAR Mk 4 dan RD7010 berbasis FFAR Mk 40. RD701 digunakan pesawat tempur (hi-speed aircraft), sedangkan RD7010 untuk Helikopter (low-speed aircraft). PT DI juga membuat beberapa jenis hulu ledak untuk roket ini. Diantaranya WD 701 (HE), WD 703 (smoke) dan WD 704 (inert). Meski sudah bisa diproduksi di Dalam Negeri dengan tingkat kandungan lokal 60 persen, tapi sisanya memang masih harus di impor.

Merujuk dari sejarahnya, roket ini dikembangkan pada akhir 1940 oleh US Naval Ordnance Test Center dan North American Aviation. Versi pertamanya, MK4 disebut juga sebagai Mighty Mouse dan telah malang melintang dalam banyak jagad pertempuran. Desain awalnya roket ini untuk menggasak sasaran di udara (air to air rocket).

Baca juga: Skadron Udara 15 Uji Tembak Roket WAFAR, Apa Bedanya dengan Roket FFAR?

Adopsi roket FFAR untuk pertempuran udara ke udara cukup masif digunakan dalam Perang Korea. Kemudian seiring permbangan, FFAR lebih banyak difungsikan untuk melibas target di permukaan. Dengan pola tembakan salvo, FFAR yang dilepaskan dari helikopter dan pesawat tempur mampu merobek basis pertahanan musuh. (Gilang Perdana)

7 Comments