Tanpa Persetujuan Kongres, AS Pasok 12.000 Bom Udara BLU-110A/B Senilai US$151 Juta ke Israel

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat secara resmi mengaktifkan ketentuan darurat dalam undang-undang Arms Export Control Act (AECA) untuk mempercepat penjualan 12.000 unit bom udara ke Israel. Kesepakatan senilai US$151,8 juta ini dilakukan dengan memangkas prosedur peninjauan standar Kongres guna merespons kebutuhan mendesak sekutu utamanya di Timur Tengah.
Baca juga: SIPRI: “99 Persen Impor Senjata Israel Berasal dari Amerika Serikat dan Jerman”
Paket bantuan militer ini fokus pada pengadaan badan bom udara seberat 1.000 pon (sekitar 450 kg) beserta layanan pendukungnya. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tensi regional, termasuk laporan keberhasilan IDF dalam menghancurkan tiga peluncur rudal balistik di wilayah barat Iran baru-baru ini.
Amunisi yang menjadi inti dari kesepakatan ini adalah BLU-110A/B, yang merupakan bagian dari keluarga bom high-explosive Mark 83. Berbeda dengan bom standar, modifikasi A/B memiliki keunggulan khusus berupa lapisan tahan panas (heat-resistant coating) pada badan bom.
Lapisan ini dirancang secara spesifik untuk mencegah detonasi dini jika terjadi kebakaran di landasan pacu atau fasilitas teknis, sehingga meningkatkan standar keamanan operasional di pangkalan udara. Dalam penggunaan taktis, badan bom BLU-110A/B sering kali dipadukan dengan kit pemandu JDAM, yang mengubahnya menjadi bom pintar presisi tinggi berjenis GBU-32.
Kurangi Ketergantungan pada Amerika Serikat, Elbit Systems (Israel) Produksi Bom Berat Secara Lokal
Untuk memenuhi pesanan dalam waktu singkat, Amerika Serikat akan menggunakan kombinasi dari stok cadangan militer sendiri serta meluncurkan produksi tambahan di fasilitas strategis. Pusat produksi utama akan dilakukan di Garland, Texas yang merupakan fasilitas manufaktur komponen hulu, dan McAlester Army Ammunition Plant (MCAAP), Oklahoma, pabrik amunisi Angkatan Darat AS yang akan menangani perakitan dan pengisian bahan peledak.
Di pihak Israel, Angkatan Udara (IAF) telah mengintegrasikan BLU-110A/B ke dalam berbagai platform tempur utama mereka. Pengguna utama bom ini adalah jet tempur F-16 varian Barak dan Sufa, serta armada F-15 versi Baz dan Ra’am. Integrasi ini memungkinkan IAF meluncurkan serangan udara dengan daya hancur signifikan namun tetap mempertahankan akurasi tinggi melalui sistem pemandu elektronik.
Penggunaan prosedur khusus dalam hukum AECA menunjukkan tingkat urgensi yang tinggi dari pihak Washington. Dengan melewati lini masa peninjauan Kongres yang biasanya memakan waktu lama, pemerintah AS dapat langsung mentransfer senjata ke gudang amunisi Israel. Langkah ini tidak hanya memperkuat kapasitas ofensif Israel, tetapi juga menjadi pesan politik mengenai kesiapan AS untuk terus menyokong dominasi udara IDF di kawasan Teluk dan sekitarnya. (Bayu Pamungkas)



Beginilah kisah pemimpin lansia berjiwa ERATIK, dimanapun dia memerintah…..suka bertindak semau gue dan main tabrak aturan seolah negara ini miliknya seorang 🤞