Tak Pernah Absen di RIMPAC, Dongkrak Pamor Kapal Selam Changbogo Class

Sebagai sekutu dekat Amerika Serikat, wajar bila Korea Selatan rajin turut dalam gelaran latihan tempur yang digelar Negeri Uwak Sam, terkhusus yang terkait kawasan Asia Pasifik. Dan dari beragam tajuk latihan perang, Multilateral RIMPAC (Rim Of The Pacific) yang diselenggarakan dua tahun sekali di Hawaii, tak pernah luput dari kesertaan Negeri Ginseng tersebut. Bila Indonesia baru di 2014 mengirimkan kapal perangnya, maka armada kapal perang Korea Selatan sudah sejak 2002 terlibat aktif di RIMPAC.

Baca juga: SLMM Changbogo Class – Sang Ranjau Pembunuh dari Kedalaman Laut

Ada yang unik dari keberadaan Korea Selatan di RIMPAC, yakni AL Korea Selatan (ROKN), melengkapi kehadiran kapal perang permukaan, Korea Selatan tak pernah absen menyertakan kapal selam di setiap RIMPAC, mulai dari RIMPAC 2002, sampai RIMPAC 2018, satu unit kapal selam Changbogo Class selalu diikutkan dalam misi latihan peperangan bawah laut. Bila ditakar sudah sepuluh kali Changbogo Class (Type 209/1400) turut serta dalam RIMPAC.

Di RIMPAC 2002, untuk pertama kalinya Changbogo Class (ROKS Na Daeyong – SS-069) berhasil melepaskan rudal anti kapal UGM-84 Sub Harpoon. Sebagai sasaran kala itu adalah bekas perusak AL AS. Dalam beberapa sesi latihan peperangan di RIMPAC, Changbogo disebut-sebut juga mampu menghindari sergapan dari kapal permukaan.

Ditakar dari jarak tempuh, dari Korea Selatan ke Hawaii jaraknya mencapai lebih kurang 7.600 km. Seumpama menggunakan direct flight pun membutuhkan waktu penerbangan selama 10 jam melintasi lautan lepas.

Walau pertimbangan pemilihan kapal selam lebih kepada faktor spesifikasi, harga, tawaran alih teknologi dan hubungan politik. Tak bisa dipungkiri wara-wirinya Changbogo Class di RIMPAC turut mendongkrak pamor kapal selam yang aslinya berasal dari Howaldtswerke Deutsche Werft (HDW), Jerman ini. Bila memang sedari awal TNI AL sudah sreg dengan keluarga Type 209, kesan promosi Changbogo di RIMPAC secara tak langsung juga memberi efek yang positif bagi kapal selam yang di produksi secara lisensi oleh Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME). Sampai saat ini AL Korea Selatan mengoperasikan 9 unit Changbogo Class.

Lewat negosiasi yang panjang, Indonesia akhirnya pada Desember 2011 resmi menandatangani kontrak pengadaan 3 unit Changbogo Class (aka – Nagapasa Class) senilai US$1,1 miliar. Kapal selam perdana, KRI Nagapasa 403 telah diterima TNI AL pada Agustus 2017, dan kepal kedua, KRI Ardadedali 404 juga telah diterima TNI AL pada Mei 2018 silam. Sementara kapal ketiga, KRI Alugoro 405 kini tengah dalam proses pembangunan di galangan PT PAL.

Nagapasa Class memiliki panjang 61,3 meter dengan kecepatan Β±21 knot di bawah air. Kapal ini punya ketahanan berlayar lebih dari 50 hari dan mampu menampung 40 kru untuk menunjang fungsi. Kapal juga dipersenjatai torpedo dengan fasilitas delapan buah tabung peluncur. Changbogo Class juga dirancang untuk mampu men-deploy ranjau laut, meluncurkan rudal anti kapal permukaan, serta mampu melepaskan torpedo Countermeasure.

Bukan Tanpa Masalah
Meski berhasil menabur impresi di RIMPAC, namun beberapa sumber menyebut performa KRI Nagapasa 403 tak sesuai dengan harapan. Dikutip dari laman Aryo Nugroho di UCweb, pada sesi doorstop dengan para pewarta media di Istana Kepresidenan, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan kekecewaan TNI AL terhadap kualitas kapal selam terbaru TNI AL, KRI Nagapasa-403 yang merupakan jenis kapal selam Changbogo.

Baca juga: Pelajari Akuisisi Kapal Selam Berteknologi AIP, Delegasi TNI AL Sambangi Turki

Masalah yang diungkapkan adalah soal kapal selam yang kurang bertenaga, akibat baterai yang kurang mampu memasok daya total yang dibutuhkan. Karena spesifikasi kapal selam Changbofo yang dibeli Indonesia masih belum memiliki sistem canggih seperti AIP (Air Independent Propulsion) yang dapat membantu pengisian baterai, pada akhirnya kemampuan arung bawah air kapal selam asal Korsel ini juga jadi terbatas. Selain itu, kurangnya daya dapat menyebabkan ketidakstabilan pada berbagai perangkat elektronik yang tertanam di kapal selam yang dibeli untuk TNI AL tersebut, yang kemudian juga dapat berdampak pada keandalannya.

Dalam masa garansi, kesemuanya menjadi tantangan bagi DSME untuk melakukan perbaikan pada Nagapasa Class. Untuk urusan yang satu ini, Korea Selatan sudah seharusnya menjaga standar kualitas kapal selam Jerman, khususnya di kelas Type 209. Kita semua tentu berharap Nagapasa Class dapat ‘awet’ dan handal seperti halnya Cakra Class (KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402) yang telah dioperasikan TNI AL sejak awal tahun 80-an. (Bayu Pamungkas)

14 Comments