
Meski tak menjadi bagian dari senjata yang dikendalikan dari pusat informasi tempur dan anjungan (cockpit nave), namun kanon penangkis serangan udara (PSU) sekaligus senjata pertahanan jarak dekat ini, terlihat telah terpasang sebagai ‘paket’ pada dua fregat terbaru TNI AL, KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321- PPA (Pattugliatore Polivalente d’Altura) Paolo Thaon di Revel class. (more…)

Guna meningkatkan daya gempur, “kawin silang” antar alutsista acap kali dilakukan, terlebih oleh operator (negara) yang anggaran pertahanannya ngepas. Setelah Armenia yang memasang meriam PSU (Penangkis Serangan Udara) S-60 pada ranpur lapis baja MT-LB, kini kabar datang dari Irak, dimana ranpur lapis baja amfibi IFV (Infantry Fighting Vehicle) BMP-2 justru dilepas kubahnya dan diganti dengan kanon twin gun PSU ZU-23-2. (more…)

Meski agak sulit mendapatkan informasi resmi, namun ada fakta yang menunjukkan bahwa TNI juga memiliki meriam (PSU) penangkis serangan udara yang berkategori heavy AA (anti aircraft). Maklum selama ini publik lebih mengenal keberadaan meriam PSU paling banter di kaliber sedang, seperti meriam S-60 kaliber 57 mm dan Bofors 40 mm. Meski bukan lagi barang keluaran baru, nyatanya etalase alutsista Arhanud Marinir TNI AL justru punya kaliber yang lebih dahsyat, yakni lewat tipe meriam M1939 52-K yang berkaliber 85 mm. (more…)

“Peran tempur.. peran tempur.. bahaya serangan udara,” peringatan lewat pengeras suara membahana di seluruh lorong dan kompartemen KRI Diponegoro 365. Saat itu disimulasikan salah satu korvet SIGMA Class TNI AL ini mendapat ancaman serangan udara. Diproyeksikan korvet buatan Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda ini mendapat serangan rudal anti kapal. Sontak seluruh elemen kesenjataan di kapal disiapkan secara penuh, terutama senjata yang berkemampuan PSU (penangkis serangan udara). (more…)