Tag: OV-10F Bronco

Senapan Mesin Berat Eks OV-10F Bronco, Dikaryakan Menjadi Senjata Pertahanan di Satuan Radar

Sudah jamak bila pesawat atau helikopter yang telah purna tugas, lantas diabadikan sebagai koleksi museum atau dikaryakan sebagai monumen. Dalam fase tersebut, umumnya ‘jeroan’ seperti perangkat elektronik, mesin dan persenjataan dilepas, yang kemudian sebagian besar digundangkan, ada juga yang dijadikan koleksi museum, namun beberapa yang masih fungsional, bisa diberdayakan untuk tugas lain. Contohnya seperti pada eks pesawat Counter Insurgency (COIN) OV-10F Bronco TNI AU. (more…)

OV-10G+ Combat Dragon II: Lambang Supremasi Bronco dalam Jagad Pesawat COIN

Dibanding angkatan udara yang ada di Asia Tenggara, maka arsenal kekuatan AU Filipina terasa unik dan menarik untuk dibahas. Sebut saja, Filipina kini menjadi satu-satunya negara di dunia yang mengoperasikan pesawat COIN (Counter Insurgency) dan FAC (Forward Air Control) secara penuh untuk menggasak pemberontak. Bahkan ada tawaran untuk mendatangkan pesawat pelumat gerilyawan dari basis DC-3 Dakota, Basler BT-67 Gunship. Menjadikan konfigurasi kekuatan AU Filipina, tak ada duanya di kawasan ini. (more…)

Boeing Terjun dalam Proyek Pengembangan Bronco II

Label Bronco sebagai kuda liar dalam misi COIN (Counter Insurgency) serasa tak pernah lekang. Meski di Indonesia kiprahnya tinggal sebatas kenangan. Namun lain halnya di Filipina, OV-10 A/C/M Bronco masih beroperasi penuh, seperti pada Juni 2017, pesawat turbo propeller ini aktif melakukan serangan udara ke basis militas ISIS di Marawi. Dan seolah ingin menampuk rejeki dari nama besar Bronco, perusahaan asal Afrika Selatan Paramount lewat anak perusahannya di AS yakni AHRLAC Aerospace Development Corp (AADC) dengan Fulcrum Concepts yang berbasis di Virginia, merilis prototipe Bronco Combat Systems (BCS) atau populer disebut Bronco II. (more…)

NU-200 Sikumbang: Pesawat Anti Gerilya dari Bumi Priangan, Jadi Koleksi Museum Dirgantara Mandala

Nurtanio Pringgoadisuryo telah membuktikan bahwa Ia bukan hanya tokoh pendiri industri penerbangan nasional, lebih dari itu Nurtanio yang terakhir menyandang bintang dua di pundaknya adalah seorang futuris sejati. Nurtanio paham bahwa konflik yang dihadapi TNI di masa depan dominan bernuansa kamdagri. Dan jauh sebelum North American Rockwell memperkenalkan prototipe pesawat anti gerilya legendaris OV-10 Bronco di tahun 1963, Nurtanio justru sudah menerbangkan pesawat counter insurgency (COIN) NU-200 “Sikumbang” pada 1 Agustus 1954. (more…)

OV-10 Bronco Beraksi di Marawi, Ingatkan Kenangan Pada Si “Kuda Liar” Pelibas GPK

Jumat, 1 Juni 2017, perhatian kita sejenak beralih ke Marawi, kawasan konflik di Pulau Mindanau, Fililpina. Pasalnya dalam babakan ground attack yang dilakukan AU Filipina atau Philippine Air Force (PAF) muncul sosok yang amat lekat dalam legenda pesawat COIN (Counter Insurgency) Indonesia. Ya, PAF mengerahkan OV-10 Bronco untuk serangan udara ke permukaan ke basis perkubuan kelompok Maute pro ISIS di Marawi. Bronco milik PAF dengan cat cocor merah pada moncongnya terlihat jelas melepaskan bom MK82 untuk direct target.

(more…)

MK82: Bom Paling “Lethal” Milik TNI AU

AY 2013

Bagi TNI AU, ada beragam pilihan senjata yang bisa digelar untuk menghadapi sasaran di permukaan. ‘Racikan’ senjata yang umum disajikan adalah kombinasi proyektil dari kanon, roket, bom, dan jika sasaran berkulifikasi ‘tinggi,’ bisa saja pesawat tempur TNI AU melepaskan rudal udara ke permukaan, seperti AGM-65 Maverick. Namun faktanya, selama operasi udara yang digelar TNI AU hingga saat ini, jenis senjata yang digunakan masih sebatas kanon, roket, dan bom. Boleh jadi, memang karena sasaran yang dihadapi masih cukup ditangani oleh jenis senjata tersebut. (more…)

EMB-314 Super Tucano : Tempur Taktis Penjaga Perbatasan NKRI

Beberapa waktu belakangan, energi kita seolah tercurah pada pembahasan seputar polemik pengadaan tank Leopard untuk memperkuat kavaleri TNI AD. Meski mulai ada titik terang akan kedatangan tank tersebut, tapi kontroversi terus saja berjalan, tapi sayangnya justru oknum beberapa anggota parlemen malah meminggirkan esensi dari kebutuhan alutsista RI. Ya, dengan dalih demokrasi dan transparansi, pengadaan alutsista cenderung tersendat, salah satunya akibat birokrasi dan politik yang diciptakan tidak efektif dan efisien. (more…)