Shahed Drone SeriesKlik di Atas

SkyDefender: Jawaban ‘Instan’ Thales untuk Tandingi Ambisi Golden Dome Milik Donald Trump

Setelah Leonardo dari Italia yang mengumkan kehadiran ‘Michelangelo’, kini giliran raksasa teknologi Perancis, Thales, meluncurkan SkyDefender sebagai sistem pertahanan udara berlapis dan terintegrasi untuk Eropa. Sistem ini hadir bukan sekadar sebagai perangkat militer baru, melainkan sebagai rival langsung bagi program Golden Dome yang diusung Amerika Serikat yang ambisius.

Baca juga: Mengenal Michelangelo: ‘Kubah’ Pertahanan Udara Generasi Baru Italia yang Akan Diuji di Ukraina

Jika Golden Dome AS dirancang sebagai iterasi modern dari inisiatif pertahanan strategis era Perang Dingin yang mencakup seluruh benua, SkyDefender menawarkan pendekatan yang lebih taktis dan operasional dengan jangkauan proteksi hingga 5.000 kilometer. Fokusnya adalah melindungi kawasan regional dari ancaman rudal balistik taktis, rudal hipersonik, hingga ancaman asimetris seperti kawanan drone yang kini merajai medan tempur modern.

Perbedaan paling mencolok yang dibawa oleh Thales melalui SkyDefender adalah tingkat kematangannya. Di saat Golden Dome besutan Donald Trump masih berada dalam tahap konseptual dan diperkirakan baru akan daring pada tahun 2029, Thales mengklaim bahwa SkyDefender sudah sepenuhnya operasional dan dibangun dari sistem yang telah teruji dalam pertempuran nyata.

SkyDefender beroperasi sebagai “sistem dari segala sistem” yang terintegrasi melalui kecerdasan buatan, menciptakan jaringan pertahanan berlapis yang modular. Lapisan teratasnya merupakan jaringan deteksi jarak jauh yang terhubung dengan satelit geostasioner Thales Alenia Space untuk memantau jejak inframerah dari peluncuran rudal secara real-time.

Golden Dome: Proposal Perisai Udara ‘Macro-Level’ Terintegrasi Generasi Baru AS untuk Indo-Pasifik

Struktur pertahanan SkyDefender dibagi dalam beberapa tingkatan untuk menjamin efektivitas intersepsi. Pada jarak menengah hingga 150 kilometer, sistem ini mengandalkan Surface-to-Air Missile Platform/Terrain New Generation (SAMP/T NG) yang dipadukan dengan radar Ground Fire untuk meluncurkan rudal Aster 30 B1 NT.

Sementara itu, untuk ancaman jarak pendek dan sangat pendek, Thales menyematkan lapisan ForceShield yang sangat efektif melumpuhkan drone dan target terbang rendah. Keunggulan fleksibilitas sistem ini semakin terlihat dengan kemampuannya mengintegrasikan berbagai persenjataan lain seperti rudal berpemandu laser Martlet, rudal pencari panas Mistral 3, hingga meriam RapidFire 40mm CTA untuk respons cepat di garis depan.

Ajukan Permintaan ke Perancis, Turki Disebut Ingin Integrasikan Sistem Rudal Hanud SAMP/T ke dalam “Steel Dome”

Secara operasional, SkyDefender tidak mencoba menggantikan peran pertahanan ruang angkasa seperti target intersepsi ICBM pada Golden Dome, melainkan memposisikan lapisan atasnya sebagai sistem peringatan dini yang sangat krusial bagi kedaulatan sebuah kawasan.

Dengan platform komando dan kendali Thales SkyView, sistem ini juga menjamin interoperabilitas penuh dengan jaringan pertahanan NATO dan sekutu lainnya. Melalui SkyDefender, Thales mengklaim mampu memberikan solusi kedaulatan bagi negara-negara yang membutuhkan perlindungan udara yang mudah diintegrasikan, terukur, dan tersedia untuk digunakan saat ini juga, sekaligus mempertegas posisi Perancis dalam peta persaingan teknologi pertahanan global. (Gilang Perdana)

Thales SkyView Command and Control – Jantung Sistem Radar GCI GM403 Koopsudnas

One Comment