Sistem Jamming Rusia Pole-21 ‘Ganggu’ Akurasi Munisi Howitzer M982 Excalibur 155mm

Selain unjuk kemampuan rudal jelajah dan drone kamikaze, medan perang Ukraina diwarnai dengan penggunaan proyektil artileri berpemandu, yang menjadikan proyektil (munisi) dari howitzer 155 mm dapat melesat menuju sasaran dengan akurasi tinggi laksana rudal. Lantaran ada unsur pemandu yang mengadopsi sistem elektronik, maka terbuka peluang untuk melakukan jamming alias gangguan pada proyektil pintar.

Baca juga: Rusia Tingkatkan Kemampuan ‘Krasnopol’, Munisi Howitzer Berpemadu Laser di Laga Perang Ukraina

Dilaporkan proyektil berpemandu jarak jauh – M982 Excalibur Extended-range Guided Shell yang dipandu oleh GPS (Global Positioning System) pasokan dari AS untuk militer Ukraina, berhasil di-jamming oleh Pole-21 electronic warfare systems milik Rusia.

Menurut laporan Forbes yang dikutip oleh Obektivno.bg, teknik jamming yang digunakan Rusia adalah dengan mengganggu sinyal GPS dari proyektil dengan Pole-21. Akibat sinyal GPS yang terganggu menyebabkan proyektil meleset dari sasarannya.

Royal United Services Institute (RUSI) di Inggris melaporkan bahwa penggunaan peperangan elektronik dalam skala luas oleh Rusia merupakan “komponen penting” dari taktik mereka, dan hal ini secara substansial telah berdampak pada banyaknya ‘korban’ drone di Ukraina.

M982 Excalibur adalah proyektil pandu presisi yang digunakan dalam artileri medan. Dikembangkan oleh perusahaan Raytheon dan BAE Systems, Excalibur dirancang untuk meningkatkan akurasi dan efektivitas tembakan artileri lapangan serta mengurangi risiko terhadap kerugian sipil dalam operasi militer.

Versi yang lebih baru dikenal sebagai Excalibur Increment Ib atau Excalibur Ib, dan Excalibur N5. M982 Excalibur Ib memiliki jangkauan efektif yang sangat baik dan dapat mencapai target pada jarak yang signifikan. Jarak tembaknya bisa mencapai lebih dari 40 km.

Excalibur dirancang untuk memberikan tingkat akurasi yang tinggi. Proyektil ini dilengkapi dengan sistem pandu GPS dan INS (Inertial Navigation System), yang memungkinkan akurasi tinggi bahkan pada jarak yang jauh. GPS dan INS digunakan bersama-sama untuk memberikan informasi lokasi yang akurat dan mengarahkan proyektil ke target dengan presisi tinggi.

Excalibur dapat diprogram ulang dalam penerbangan, memungkinkan penyesuaian target dan keputusan yang cepat dalam perang.

Sementara tentang Pole-21 electronic countermeasures system, diketahui baru memasuki layanan militer Rusia pada tahun 2016. Perangkat jamming ini diproduksi oleh Electronic Warfare Scientific and Technical Center JSC. Pole-21 dirancang untuk melindungi instalasi strategis dari rudal jelajah musuh, bom pintar, dan drone yang bergantung pada sistem pemosisian GPS, GLONASS, Galileo, dan Beidou untuk navigasi serta panduannya.

Pole-21 terdiri dari perangkat ECM R-340RP yang biasa dipasang di tiang operator layanan seluler, terintegrasi dengan antena pemancarnya dan digabungkan ke dalam satu jaringan yang dapat mengganggu sinyal satnav – satellite navigation (sistem navigasi berbasis satelit) di area yang luas secara terus menerus.

Semua sistem satnav didasarkan pada transmisi sinyal sederhana oleh konstelasi satelitnya. Oleh karena itu, penyimpangan sekecil apa pun dari frekuensi pengoperasian, bahkan untuk satu milidetik, akan mengakibatkan penurunan akurasi pemosisian pada sasaran.

Sinyal ditransmisikan dalam gelombang yang agak sempit yang disebut frekuensi referensi. Dan perangkat jammer ini dirancang untuk mengganggu frekuensi referensi secara khusus, yang cukup mudah karena sempit dan sinyal gangguan noise yang cukup kuat digunakan.

Baca juga: Sistem Jamming Rusia Pole-21 Berhasil ‘Jatuhkan’ Drone Kamikaze Tu-141 Ukraina

Sistem pemosisian Pole-21 dirancang untuk mengganggu frekuensi 1176.45MHz – 1575.42MHz. Pun dengan pemancar 20W yang lemah cukup untuk mengganggu sinyal pemosisian dalam radius 80 km. (Bayu Pamungkas)