Setelah Gunakan Robot, Korea Selatan Kini Adopsi Teknologi Berbasis AI untuk Pantau Garis Perbatasan

Dengan gencarnya provokasi dari Korea Utara, maka Korea Selatan mutlak dalam status ‘siaga satu’ untuk mengawasi secara ketat DMZ (Garis Demarkasi Militer) sepanjang 238 km, lantaran selalu potensi penyusupan di wilayah perbatasan. Dikenal sebagai negara pemangku teknologi tinggi, sejak beberapa tahun lalu telah dikembangkan sistem canggih dengan robot pengintai di atas rel untuk memonitor perbatasan.

Baca juga: Awasi Ketat Garis Perbatasan, Korea Selatan Hadirkan Robot Pengintai di Atas Rel

Namun karena dinamika di lapangan, maka solusi pengawasan garis perbatasan terus disesuaikan dengan melihat ancaman yang ada. Dikutip dari Yonhap News Agency (9/1/2024), disebut bahwa Korea Selatan akan memperkuat pengawasan perbatasan dengan teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Adopsi teknologi AI akan ditempatkan di beberapa pos garis depan untuk menggantikan sistem yang sudah ketinggalan zaman.

“Adopsi AI digadang dapat mendeteksi ancaman dengan lebih baik di sepanjang perbatasan dengan Korea Utara,” kata juru bicara Defense Acquisition Program Administration (DAPA). Sistem baru dengan kemampuan pemantauan berbasis AI akan diperkenalkan di pos-pos umum garis depan (GOP) timur dan unit-unit garis pantai pada akhir tahun ini.

Meski tidak diungkapkan secara detaul, solusi baru ini akan menggunakan teknologi analisis AI untuk mendeteksi manusia dan hewan, dan dilengkapi dengan penglihatan termal dan teknologi inframerah gelombang pendek untuk meningkatkan kemampuan pemantauan dalam cuaca buruk.

DAPA mengharapkan sistem berbasis AI ini dapat meningkatkan kondisi kesiapan pasukan di garis depan dengan meminimalkan alarm palsu. DAPA sejatinya telah meluncurkan proyek ini pada tahun 2022 dan menandatangani kontrak dengan perusahaan keamanan S-1 untuk sistem terkait pada November tahun lalu.

Buntut Penyusupan Drone Intai Korea Utara, Seoul Incar “Sky Spotter” dari Israel

“Kami akan mempercepat penerapan sistem pemantauan berbasis AI dan secara aktif menggunakannya dalam operasi di perbatasan untuk mengoptimalkan postur kesiapan pasukan,” kata Jenderal Son-sik, Kepala Komando Operasi Darat Angkatan Darat, menurut DAPA. (Samsul Hidayat)