Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Searcher UAV, ‘Sosok’ Terlupakan di Balik Operasi Pembebasan Sandera Mependuma

130 hari merupakan waktu yang panjang dalam sebuah drama penyanderaan di Mapenduma, Papua. Sebelas peneliti dari Ekspedisi Lorentz 95 mengalami tragedi yang tak terlupakan saat disandera Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik pada 8 Januari 1996. Lewat perjuangan dan lika liku upaya pembebasan, aksi militer yang dikenal sebagai Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma baru berakhir pada 9 Mei 1996.

Baca juga: SWG R-1 Marinir – Drone Pengintai Flying Wing Andalan Infanteri Marinir TNI AL

Dengan kondisi geografis hutan dan pegunungan yang terjal, bukan perkara mudah bagi pasukan pemburu OPM. Karena menyangkut keselamatan sandera yang sebagian adalah warga negara asing, sontak dukungan peralatan mengalir kepada satuan elite Kopassus (Komando Pasukan Khusus) TNI AD yang pada akhirnya berhasil menuntaskan operasi tersebut.

Selain US Army yang meninjamkan peralatan penglihatan malam (Night Vision Goggle), negara tetangga Singapura yang saat itu sudah menjadi pionir dalam dunia drone, turut meminjamkan drone (UAV/Unmanned Aerial Vehicle) intai yang terbilang paling canggih di arsenal AU Singapura (RSAF) saat itu, yaitu Searcher, sosok drone fixed wing buatan Israel Aerospace Industries (IAI).

Seperti halnya peran drone Aerostar dari Skadron Udara 51 yang berperan aktif dalam misi intai di Operasi Tinombala, pun Searcher II dapat memberikan pantauan udara yang dapat mendukung pergerakan pasukan pemburu di darat.

Baca juga: Antara Drone Intai Aerostar dan C-130 Hercules, Ternyata Punya Hubungan Lebih dari Erat

Searcher II bersanding dengan UAV Heron, keduanya menjadi arsenal AU Singapura.

Oleh pihak pabrikannya, Searcher disebut sebagai multi mission tactical UAV yang mengedepankan peran surveillance, reconnaissance, target acquisition, artillery adjustment and damage assessment. Searcher II dengan bobot (MTOW) 435 kg sanggup membawa payload hingga 120 kg. Disokong satu unit mesin 4 stroke Limbach L 550, 35 kW (47 hp), Searcher II sanggup terbang dengan endurance 18 – 20 jam. Kecepatan maksimum drone ini mencapai 200 km per jam dan dapat terbang sejauh 150 km (Line of Sight) pada ketinggian 6.100 meter.

Yang special dari mesin Limbach L 550 adalah sifatnya yang low noise dan low audio detection. Sementara payload yang dapat disokong Searcher mencakup sensor Electro Optical (TV & IR), Synthetic Aperture Radar (SAR), dan COMINT & ESM Integration Capability. Pada dasarnya urusan payload dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan pengguna.

India selah satu pengguna terbesar Searcher II, dengan pembelian 100 unit.

Sebelum seri Searcher II, IAI telah merilis Searcher I pada awal dekade 90-an. Singapura sendiri disebut-sebut telah mengoperasikan Searcher family sejak 1994. Negara lain di kawasan Asia Tenggara pengguna Searcher adalah Thailand dan Malaysia.

Meski belum terlihat penampakannya, Indonesia pada tahun 2005 – 2006 pernah disebut mengukuisisi Searcher II. Dikutip dari Republika.co.id, Bank Leumi dari Inggris dan Bank Union dari Filipina akan menjadi penyandang dana untuk kredit ekspor (KE) pesawat tanpa awak Searcher Mk II produk Israel bagi kebutuhan TNI. Pembelian ini menggunakan KE 2005 senilai 6 juta dolar AS. Harga satu unit pesawat UAV tersebut saat itu sekitar 6 juta dolar.

Searcher II Spanyol dalam laga di Afghanistan.

Kebutuhan akan Searcher II diajukan oleh Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI sekitar Februari 2006. UAV ini akan digunakan BAIS untuk kegiatan pengawasan seperti di Selat Malaka.

Searcher Mk II digunakan oleh banyak negara. Bahkan sejak peristiwa WTC 9/11, Amerika Serikat mengunakannya untuk memantau keamanan dalam negeri. Dalam operasi tempur di Afghanistan, bahkan militer Spanyol sangat mendalkan peran Searcher II untuk mendukung pergerakan pasukan di darat. (Gilang Perdana)

3 Comments