Sea Wolf, Inilah ‘Aslinya’ Rudal Hanud di Korvet Bung Tomo Class

Korvet KRI Usman Harun 359 dengan peluncur rudal Sea Wolf, yang nantinya akan digantikan dengan VLS Mica.

Tibanya paket perdana rudal Mica Naval di Bandara Juanda, Surabaya pada 14 Mei 2018, sontak mengingatkan akan keberadaan rudal berpeluncur VLS (Vertical Launching System) di Indonesia. Saat korvet Bung Tomo Class (d/h Nakhoda Ragam Class) tiba dari Inggris, sempat terbesit dibanyak kalangan, apakah tiga kapal perang eks pesanan Brunei Darussalam itu juga sudah dibekali rudal hanud VLS Sea Wolf? Maklum 16 penutup peluncur rudal terlihat jelas pada bagian haluan, namun apakah Sea Wolf ikut terpasang saat kedatangan Bung Tomo Class pada 2013 silam?

Baca juga: Gelombang Perdana VLS Mica Tiba di Surabaya, Era Baru Rudal Hanud di Kapal Perang TNI AL

Selain kanon reaksi cepat Oto Melara 76 mm, kanon PSU DS 30B REMSIG 30 mm, dan torpedo tubes 324 mm, tidak ada lagi sistem senjata yang terpasang pada korvet Bung Tomo Class, artinya rudal anti kapal Exocet MM40 dan rudal Sea Wolf tidak ikut ‘dibeli’ oleh Indonesia kala itu. Walau menyandang predikat battle proven dalam Perang Malvinas dan Perang Tekuk, faktanya usia Sea Wolf sudah tergolong uzur. Pihak pabrikan yang merilisnya pada tahun 1979 pun sudah tutup, yakni BAe Dynamics yang kini bergabung dalam grup MBDA, manufaktur yang memproduksi rudal Mica.

Merujuk ke sejarahnya, Sea Wolf yang mulai dirancang pada 1967, digadang sebagai pengganti rudal Sea Cat, jenis rudal hanud legendaris yang juga pernah digunakan pada frigat Van Speijk dan Tribal Class TNI AL. Meski kondang dengan peluncur VLS, namun Sea Wolf juga pernah dirilis dalam peluncur GWS-25 Conventionally Launched Sea Wolf (CLSW), yang dalam satu modul terdiri dari enam peluncur. Sementara yang ‘seharusnya’ ada di Bung Tomo Class adalah peluncur GWS-26 Vertically Launched Sea Wolf (VLSW).

GWS-25 Conventionally Launched Sea Wolf

Sea Wolf ditenagai blackcap solid-fuel rocket, pada saat awal peluncuran, kecepatan lesatya mencapai Mach 2, dan maksimum menuju sasaran meningkat menjadi Mach 3. Sea Wolf termasuk dalam rudal hanud jarak pendek (SHORAD/Short Range Air Defence), pasalnya jarak tembak maksimal 10 km, dan jarak tembak minimumnya 1 km. Ketinggian terbangnya pun terbatas, yakni mentok di tiga ribu meter.

Sea Wolf meluncur dari KD Lekiu.

Sistem penembakkan Sea Wolf sepenuhnya otomatis dan didukung radar tracking. Seperti pada umumnya, sasaran dideteksi oleh radar intai (surveillance) yang ada di kapal perang. Data target diproses oleh komputer dan ketika sistem aktif, target secara otomatis ditetapkan tanpa perlu campur tangan operator atau Automatic Command to Line Of Sight (ACLOS), meskipun sistem tetap dapat diambil alih oleh Missile Director di Pusat Informasi Tempur. Seperti pada korvet Bung Tomo Class, menggunakan jenis radar tracking BAE Insyte 1802SW I/J-band dan radar intai BAE Systems Insyte AWS-9 3D E- and F-band.

Bobot Sea Wolf keseluruhan adalah 82 kg dengan hulu ledak 14 kg HE Blast Fragmentation. Hulu ledak akan aktif dengan metode Direct contact/Proximity fuse activated. Panjang rudal ini keseluruhan 1,9 meter dan lebar bentang sayap 450 mm.

Baca juga: KD Lekiu 30 – Flagship Kapal Perang Malaysia dalam Misi Evakuasi Air Asia QZ8501

Di korvet Bung Tomo Class, 16 unit peluncur Sea Wolf nantinya akan digantikan dengan rudal Mica. Walau lifetime Sea Wolf segera berakhir, namun sampai saat ini Inggris, Brasil, Chile dan Malaysia, tercatat masih menyiakan Sea Wolf di beberapa kapal perangnya. Seperti Malaysia memasang Sea Wolf VLS pada frigat Lekiu Class (KD Lekiu dan KD Jebat). (Bayu Pamungkas)

14 Comments