Saab ‘Bocorkan’ Desain Jet Tempur Masa Depan Swedia, Bisa Berawak dan Tanpa Awak

Tak ada yang meragukan kecanggihan jet tempur Gripen E/F, Swedia pun bangga atas kemampuan pesawat tempur single engine yang diluncurkan pada 18 Mei 2016 tersebut. Namun, dinamika berubah cepat, khususnya pasca invasi Rusia ke Ukraina, membuat Swedia harus berpikir ulang bila ingin tetap bertahan dengan hanya menggunakan Gripen E/F (d/h Gripen NG) sampai tahun 2050.

Baca juga: Militer Swedia Minta Saab Pelajari Konsep Pesawat Tempur Masa Depan

Dengan resmi bergabungnya Swedia menjadi bagian dari NATO, ditambah negara-negara tetangganya yang sudah mengoperasikan dan memesan pesawat tempur generasi kelima (F-35A Lightning II), mendorong Swedia harus mengambil langkah konkrit di tengan tantangan yang ada, sembari tetap mempertahankan kepentingan industri pertahanan di dalam negeri.

Seperti dikutip Breaking Defense (22/5/2024), Saab baru-baru ini memberikan ‘bocoran’ sejumlah konsep demonstran pesawat tempur masa depan Swedia untuk pertama kalinya, seiring mereka terus melakukan studi desain pesawat berawak dan tak berawak menjelang keputusan pengadaan jet tempur next generation Swedia pada tahun 2031.

Model demonstran tersebut dipresentasikan sebagai serangkaian desain digital oleh pabrikan selama kunjungan media pada hari Senin ke fasilitas produksi Linkoping milik perusahaan di Swedia selatan, beberapa model fisik juga telah menjalani pengujian terowongan angin, menurut Peter Nilsson, head of advanced platforms at Saab .

Gambar-gambar yang ditampilkan kepada media hanya berisi sedikit detail, hanya kumpulan kecil siluet pesawat berwarna putih saja. Nilsson mengatakan kepada media bahwa meskipun pihak berwenang Swedia belum menjelaskan kemampuan pasti yang dibutuhkan oleh jet demonstran, beberapa rincian telah dibahas, termasuk ukuran pesawat dan “konfigurasi yang berbeda.” Selain itu, “mereka ingin kita menjadi cepat dan cepat,” tambah Nilsson, dengan jalan ke depan yang akan melibatkan pembuatan prototipe secara cepat.

Selain itu, tinjauan sistem akhir dan tinjauan konsep inovasi akan dilakukan dalam waktu dekat untuk lebih menentukan jalan ke depan bagi fase konsep demonstran

Sejauh ini, belum ada keputusan yang diambil oleh Swedia, apakah akan memilih demonstran berawak atau tak berawak. “Pesawat ini bisa saja tidak berawak, karena yang kami minati adalah beberapa teknologi yang tidak memerlukan pilot,” kata Nilsson.

“Tetapi karena mereka (Swedish Defense Material Administration/FMV) ingin melihat iterasinya, maka (desainnya) tidak harus super canggih,” namun seiring dengan kemajuan tahap konsep, setiap desain diharapkan lebih mampu dibandingkan yang sebelumnya.

Pada bulan Maret, Saab menerima kontrak dua tahun dari FMV untuk melaksanakan “studi konseptual pesawat tempur masa depan” yang difokuskan pada desain pesawat berawak dan tak berawak, sementara jadwal fase 2 pesawat tempur masa depan Swedia dinyatakan berlangsung dari tahun 2026 hingga 2031, yang berfokus pada pekerjaan konsep dan pengembangan demonstran sebelum keputusan akhir masa pengadaan.

Banyak dari apa yang diuji atau dikembangkan dalam jangka waktu lima tahun akan sangat dipengaruhi oleh laboratorium teknologi Rainforest Saab yang baru dan serangkaian proyek penelitian dan pengembangan.

Insinyur di Rainforest saat ini sedang membangun drone kecil berbiaya rendah, yang dijuluki Ruby, untuk menilai penerbangan pesawat yang dibuat dengan teknologi baru seperti 3D printed composite wing, 3D printed hull dan integrated with 4G-6G datalink connectivity — avionik berevolusi dari Jet tempur Gripen E/F.

“Kita sebagai bangsa harus memutuskan (tentang pesawat tempur masa depan) sebelum tahun 2030,” kata Tommy Petersson, Wakil Komandan Angkatan Udara Swedia. “Kami memulai studi selama empat tahun di angkatan bersenjata sehingga kami dapat memiliki perspektif yang kuat.” (Gilang Perdana)

Jet Tempur F-35 Laris Manis, Masa Depan Industri Penerbangan Eropa Terancam

One Comment