Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Rudal Bloodhound: Penangkal ‘Ancaman’ Pembom Tu-16 Badger AURI, Aktif Hingga 1990

Ambisi Soekarno untuk menyatukan Nusantara pada kenyataan membuat Indonesia bersitegang langsung dengan Inggris, Belanda, dan kemudian menyeret Australia. Menyadari menghadapi ‘lawan’ negara-negara besar, jauh-jauh hari pun sudah terpikirkan untuk melindungi kawasan obyek vital nasional, terutama Ibukota Jakarta bila suatu waktu menjadi target serangan udara. Maka tak heran kemudian bila Jakarta sempat dilindungi oleh tiga skadron peluncur rudal hanud (SAM) jarak jauh SA-2.

Baca juga: Sebelum Pilihan Ke SA-2, Soekarno Ternyata Mengincar Rudal Hanud Jarak Jauh “Nike”

Sebaliknya, Inggris beserta negara persemakmuran dalam konflik Malaysia-Indonesia (Operasi Dwikora) ikut dibuat gentar oleh kekuatan ofensif militer TNI AU (d/h AURI) yang kala itu sangat powerfull di belahan Asia Selatan. Duet interceptor MiG-21 dan pembom strategis Tu-16 Badger menjadi momok menakutkan bagi Inggris, pasalnya di atas kertas kekuatan Inggris di Asia Tenggara kalah telak dengan arsenal TNI AU. Sebagai wujud perlindungan pertahanan udara, di awal dekade 60-an, AU Inggris (RAF) pun menggelar rudal hanud Bloodhound yang dioperasikan Skadron 65 di Lanud Seletar, Singapura.

Dengan jarak tembak sasaran hingga ratusan kilometer, penggelaran Bloodhound di Singapura dalam misi “Far East Air Force” diharapkan mampu meng-cover kebutuhan hanud di wilayah Malaysia.

Sementara di belahan Selatan, sekutu dan negara persemakmuran Inggris, yakni Australia turut terbawa dalam pusaran konflik. Maka AU Australia (RAAF) yang telah mengoperasikan rudal Bloodhound sejak 1961 di Lanud Base Williamtown, New South Wales, mengambil langkah menggelar Bloodhound di kawasan utara Australia (Darwin) pada 1963. Sistem Bloodhound di Darwin dioperasikan oleh detasemen Skadron 30.

Salah satu Bloodhound menjadi monumen di Lanud Darwin.

Meski tak ada keterangan resmi, penggelaran Bloodhound yang punya kemampuan mirip rudal Nike buatan Amerika Serikat, dipercaya terkait ‘ancaman’ hadirnya pembom strategis jarak jauh AURI Tu-16 Badger. Terlebih pada pertengahan 1963, hanud Australia sempat ‘kecolongan’ dengan masuknya Tu-16 AURI yang mampu terbang tanpa terdeteksi sampai Alice Spring (kawasan tengah Australia) sebagai wujud kampanye psy war.

Pasca turunnya Soekarno dari tampuk kekuasaan RI di 1966, ketegangan Indonesia pun mereda di kawasan, sebagai perubahan geo politik berdampak langsung berdampak pada kekuatan arsenal persenjataan TNI yang berasal dari Blok Timur. Indonesia pun beralih haluan ke Dunia Barat, dan tak ada lagi ancaman yang signifikan dari menurunnya kekuatan militer Indonesia. Australia pun resmi tak menggunakan lagi Bloodhound pada akhir 1968. Uniknya Bloodhound menjadi rudal hanud terakhir yang dioperasikan AU Australia, pasalnya kemudian keberadaan arsenal rudal hanud dipercayakan pada arhanud yang dioperasikan angkatan darat dengan rudal Rapier dan RBS-70.

Namun, uniknya penggelaran Bloodhound di Singapura terus berjalan. Selepas dioperasikan oleh AU Inggris, AU Singapura (RSAF) justru melanjutkan pengoperasian baterai Bloodhound yang dioperasikan Skadron 170 di Lanud Seletar. Dengan melakukan program refurbish pada stok rudal Bloodhound MKII eks Inggris, AU Singapura resmi mengoperasikan Bloodhound pada 1 September 1974. Dan baru pada pada 1990, Singapura menonaktifkan Bloodhound, seiring hadirnya rudal hanud I-HAWK yang lebih modern dan presisi.

Baca juga: Raytheon I-Hawk – Rudal Hanud “Tua” Yang Masih Menakutkan

Bloodhound
Selain kondang digelar di Asia Tenggara, rudal buatan Bristol Aeroplane Co. ini juga marak digelar salama Perang Dingin oleh Jerman Barat, Swiss dann Swedia. Sebagai rudal hanud yang menyasar sasaran high altitude, maka sosok Bloodhound terbilang jumbo, tak beda jauh dengan penampakan rudal SA-2 milik AURI. Pun peluncurnya tak bisa dipindah-pindahkan, alias fixed erector.

Bloodhound MKII di Museum Angkatan Udara Singapura.

Dirilis dari varian MKI, MKII, MKIII dan MIV, rancangan rudal ini pertama kali diajukan pada 1950, dan mulai masuk fase produksi pada 1958. Digunakan sampai 1990/1991, populasi Bloodhound yang telah dibuat mencapai 783 unit. Pada era Perang Dingin, baterai Bloodhound umumnya ditempatkan sebagai elemen perlindungan pada pangkalan udara strategis pembom NATO. (Haryo Adjie)

Spesifikasi Bloodhound MKII
– Weight Overall: 2.270 kg
– Length Overall: 8,46 meter
– Diameter Main body: 54,6 cm
– Warhead: Continuous rod warhead
– Detonation mechanism: Proximity fuse
– Engine: 2× Ramjets, 4× solid fuel boosters
– Wingspan Overall: 2,83 meter
– Operational range: 190 km
– Speed: Mach 2.7
– Guidance system: Semi active radar homing
– Steering system: Control surfaces
– Launch platform: Fixed installation

10 Comments