Respon Situasi di Ukraina, Italia Usul Pembentukan “European Army – (Tentara Eropa)”

Invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022 telah merubah peta politik dan strategi pertahanan di Eropa. Negara-negara Eropa yang sebagian besar terafiliasi dengan NATO tak pelak menjadi gusar dan khawatir ikut terdampak perang. Untuk itu serangkaian inisiatif baru dilakukan untuk memperkuat pertahanan di Benua Biru, selain 19 negara Eropa yang bersatu salam ‘European SkyShield Initiative’, ada usulan anyar dari Italia yang terbilang kontroversial, yakni pembentukan European Army alias tentara Eropa.

Baca juga: Meski Ditentang Perancis, 19 Negara Eropa Bersatu dalam ‘European SkyShield Initiative’

Seperti dikutip defensenews.com (6/2/2024), Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mengatakan dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Italia La Stampa bahwa “Uni Eropa harus memiliki tentaranya sendiri.” Tajani mengusulkan agar pasukan tempur Eropa dapat dilibatkan dalam misi penjaga perdamaian dan mencegah konflik.

Meski perang sedang berkecamuk di Ukraina dan ada dorongan untuk kerja sama pertahanan yang lebih kuat di seluruh benua, namun usulan dari Italia belum mendapatkan daya tarik. Sebagai permulaan, hanya terdapat sedikit konsensus di antara 27 negara Uni Eropa mengenai perlunya kekuatan semacam itu.

Anggota Uni Eropa seperti Slovenia, Spanyol, Denmark dan Polandia mengatakan gagasan Italia tersebut tidak realistis dan tidak diperlukan. Pemerintah Denmark berpendapat, bahwa Eropa sudah memiliki kekuatan pertahanan di NATO, sehingga tidak diperlukan kekuatan terpisah yang hanya terdiri dari Eropa.

“NATO adalah landasan keamanan kolektif kita, dan pertahanan tetap menjadi masalah kedaulatan nasional – jadi tidak ada tentara NATO atau Uni Eropa, yang ada hanyalah kerja sama pertahanan yang erat antara sekutu dan negara-negara anggota,” kata kementerian pertahanan Denmark dalam sebuah pernyataan. “Denmark tidak mendukung pembentukan tentara Eropa.”

“Bila kerangka kerja yang diperlukan untuk pengembangan ‘Tentara Eropa’ digulirkan, maka akan memerlukan keputusan bulat dari Dewan,” kata Kementerian Pertahanan Spanyol dalam sebuah pernyataan. “Jika pemenuhan persyaratan ini hampir tidak mungkin dilakukan pada tahun 1992, ketika Uni Eropa terdiri dari 12 negara anggota, keputusan Uni Eropa yang saat ini terdiri dari 27 negara atau lebih di masa depan, akan sangat sulit untuk diambil – dalam konteks ini gagasan tersebut tidak realistis dan tidak terjangkau dalam waktu dekat.”

Di masa lalu, tantangan yang dihadapi Uni Eropa dalam mencapai prioritas blok ini adalah bahwa negara-negara anggota cenderung menerapkan rencana pertahanan mereka di tingkat nasional. Temuan ini disorot dalam 2022 Coordinated Annual Review on Defense Report yang diterbitkan oleh European Defense Agency. Dokumen tersebut juga menemukan bahwa sebagian besar negara Uni Eropa juga merupakan bagian dari NATO, dan memandang aliansi militer sebagai orientasi multilateral utama mereka.

Polandia berpandangan bahwa keduanya harus dilihat sebagai sesuatu yang saling melengkapi dan bukan sebagai sesuatu yang tidak sejalan.

Tujuh Negara Eropa Bersatu Kembangkan Korvet Bersama dalam ‘European Patrol Corvette’

Konsensus yang disepakati oleh tiga dari empat negara anggota adalah bahwa inisiatif lain telah ditetapkan yang akan memainkan peran serupa dengan konsep tentara Eropa yang diusulkan Italia. Kementerian Pertahanan Slovenia, Spanyol, dan Polandia semuanya menunjuk pada pengembangan European Rapid Deployment Capability pada tahun 2025 yang bertujuan untuk memungkinkan pengerahan kekuatan modular hingga 5.000 tentara secara cepat di lingkungan yang tidak permisif. (Gilang Perdana)