PT DRU Luncurkan Kapal Keempat LST Bintuni Class, KRI Teluk Palu 523

Meski tengah menghadapi gonjang-ganjing kasus korupsi oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), nyatanya tak membuat perusahaan galangan kapal swasta nasional, PT Daya Radar Utama (DRU) menjadi kendor dalam target peluncuran pesanan kapal perang dari Kementerian Pertahanan (Kemhan). Persisnya pada 1 Juni 2019, PT DRU dari fasilitasnya galangan di Lampung telah meluncurkan kapal keempat dari Landing Ship Tank (LST) Bintuni Class, kapal keempat ini diberi label sebagai KRI Teluk Palu 523.

Baca juga: Perkuat Koarmada III, LST KRI Teluk Lada 521 Resmi Diserahterimakan

Peluncuran KRI Teluk Palu 523 terbilang berdekatan dengan peluncuran kapal Bintuni Class ketiga, yaitu KRI Teluk Youtefa 523 yang diluncurkan pada 15 Mei 2019. Secara keseluruhan, LST Bintuni Class terdiri dari KRI Teluk Bintuni 520, KRI Teluk Lada 521, KRI Teluk Youtefa 522, KRI Teluk Palu 523, dan yang akan datang ada KRI Teluk Calang 524. Dari kesemuanya, yang sudah resmi diserahkan dan dioperasikan oleh TNI AL adalah KRI Teluk Bintuni 520 dan KRI Teluk Lada 521.

Dalam acara peluncuran ini, nama KRI Teluk Palu 523 belum dikukuhkan secara resmi. Terwujudnya kapal keempat dari Bintuni Class ini merupakan hasil dari sinergi antara PT DRU dengan industri nasional di antaranya PT Krakatau Steel, PT Pindad, PT LEN, PT BNI dan industri pendukung lainnya dan juga oleh Biro klasifikasi, Lloyd Register of Shipping sebagai pengawas pembangunan kapal.

Seperti biasa, peluncuran ke laut dilakukan lewat metode airbag system. Dan setelah diluncurkan, kapal kemudian akan dijadwalkan melakukan sea trial serta uji untuk mengetahui stabilitas kapal dan ke kedapan badan kapal terhadap kemungkinan risiko kebocoran.

Kapal yang kontrak pengadaannya dilakukan pada Januari 2017 ini punya spesifikasi yang identik dengan ketiga Bintuni Class sebelumnya. Bintuni Class dirancang dengan 7 lantai yang letaknya secara berurutan dimulai dari bawah yakni deck A merupakan ruang untuk tangki dan ruang pasukan. Paling bawah adalah bottom deck yang menjadi ruang khusus mesin kapal dan deck B untuk pasukan. Lalu, deck C untuk kru kapal termasuk tempat tidur dan peralatan keseharian kru kapal. Deck D juga untuk kru kapal dan deck E untuk komandan dan para perwira. Kemudian, deck F untuk ruang komando. Terakhir, deck G alias top deck atau kompas deck digunakan untuk meletakkan dua radar utama.

LST Bintuni Class mampu membawa 10 unit MBT Leopard 2A4 yang berat tiap tank mencapai 62,5 ton. Sebuah lompatan besar, bila sebelumnya LST TNI AL hanya akrab membawa tank ringan dengan berat per tank hanya belasan ton. Selain itu, LST Bintuni Class bisa membawa 2 unit helikopter, kapal ini memang dibekali dua helipad dengan fasilitas hangar. Kapal ini punya panjang 120 meter, lebar 18 meter, dengan tinggi 11 meter. Kecepatannya 16 knot dengan main engine 2×3285 KW yang ditenagai dua mesin.

Baca juga: Cargo Hose LST Bintuni Class Sanggup Angkat Beban Hingga 15 Ton

Sementara untuk persenjataan, hanya diproyeksikan untuk self defence. LST ini mengandalkan meriam Bofors kaliber 40/L70 mm yang ditempatkan pada bagian haluan. Kemudian ada kanon PSU kaliber 20 mm, serta dua unit SMB (senapan mesin berat) kaliber 12,7 mm.

Secara umum LST Bintuni Class sanggup dimuati 113 ABK (anak buah kapal), enam orang kru helikopter, dan pasukan sebanyak 361 personel. Untuk mengantar pasukan Marinir ke pantai, LST ini dapat membawa 4 unit LCVP (Landing Craft, Vehicle, Personnel). Untuk memudahkan loading logistik dan cargo, pada bagian depan anjungan juga dilengkapi crane. (Bayu Pamungkas)

3 Comments