Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Proyek Larkswood: Tanpa Komunikasi Mandiri, Kedaulatan Negara Jadi Taruhan

Tentu bukan cerita baru bahwa jalur komunikasi penting di Indonesia telah disadap atau berpotensi kuat disadap pihak asing. Maklum, sampai saat ini lebih dari 90 persen teknologi perangkat komunikasi di Indonesia didominasi produk dari luar negeri. Itu baru dari sisi perangkat, belum lagi dari sisi aplikasi yang marak menggunakan layanan OTT (Over The Top) dari luar negeri seperti Facebook, Twitter, BlackBerry dan WhatsApp. Maka tak heran bila komunikasi di level taktis dan strategis juga rentan penyadapan meski telah dilakukan enkripsi sekalipun. Namun penyadapan komunikasi di era terestrial yang melibatkan peran satelit baru dihadapi Indonesia pada dekade 70-an.

Baca juga: Radio AN/PRC-77 – Andalan Komunikasi Tempur TNI di Operasi Seroja

Siapa sangka, justru penyadapan komunikasi militer di Indonesia malah menggunakan fasilitas satelit milik Indonesia sendiri, yakni Palapa. Palapa generasi pertama, yaitu Palapa A1 diluncurkan pada 8 Juli 1976 sudah menjadi korban penyadapan. Seperti diungkapkan Jeffrey T. Richelson dalam buku “US Intelligence Community,” disebutkan bahwa penyadapan Palapa menjadi bagian dalam Proyek Larkswood, sebuah proyek yang dibangun pada tahun 1974 ini dipelopori oleh 1 negara adidaya, 3 negara besar dan 1 negara di kawasan Pasifik yang dikenal sebagai Traktat UKUSA. Tujuan proyek ini untuk memata-matai seluruh kegiatan militer RI di Timor Timur. Proyek ini disiapkan jauh sebelum satelit Palapa diluncurkan dan operasi TNI di Timor Timur.

Satelit Palapa A1

Richelson menjelaskan, basis penyadapan elektronik memanfaatkan peran aktif Australia dan Selandia Baru, caranya dengan mengumpulkan komunukasi intelijen dengan downlinking signals langsung dari satelit Palapa oleh empat satelit lain yang terbetang pada jarak 4.900 km. Belum lagi penyadapan dari pesawat terbang dan kapal laut. Perhatian Barat menjadi penting setelah Operasi Seroja yang dimulai tahun 1975.

Baca juga: E-7A Wedgetail – Stasiun Radar Terbang Perisai Ruang Udara Australia

Karena yang disadap adalah satelit Palapa yang mengorbit secara geostationer (tetap), maka paling ideal untuk menangkap sinyal satelit tersebut dari lokasi yang masih menjadi footprint coverage Palapa. Masih menurut Richelson, komunutas intelijen asing menggunakan basis yang berada di Shoal Bay, tak jauh dari kota Darwin di Bagian Utara Australia. Karena berada dalam coverage Palapa, maka sinyal satelit dapat diterima oleh beragam jenis antena tanpa kesulitan. Ditambah lagi, satelit Palapa A1 yang dioperasikan Perumtel diproduksi oleh Hughes Aircraft Company, kontraktor utama Departemen Pertahanan AS. Saat diluncurkan Palapa menyisakan banyak slot channel untuk disewakan kepada operator di Asia Tenggara. Adanya slot kanal yang berlebih ini yang kemudian dimanfaatkan untuk akses Proyek Larkswood.

Baca juga: EA-18G Growler – Jurus Australia Menghadapi Potensi Perang Elektronika dari Utara

Desmond Ball, pemerhati bidang pertahanan dari Australia National University menyebut bahwa fasilitas di Shoal Bay memberikan akses penuh penyadapan oleh Australian Defense Signals. Beberapa komunikasi memang telah melalui penyandian dan enkripsi, namun berkat kerjasama dengan US National Security Agency yang bermarkas di Fort Meade, Maryland, maka setiap pesan yang di enkripsi dapat diurai dengan cepat berkat dukungan bank supercomputers.

Shoal Bay juga berperan untuk basis pengawasan lalu lintas laut dan udara dari dan ke Timor Timur, dan memberikan laporan analisa kepada pengambil kebijakan di levek atas. Penyadapan yang terkait satelit di kemudian hari masih terus berlanjut dan melibatkan peran satelit mata-mata Orion, salah satu puncak penyadapan tertinggi yakni sepanjang tahun 1999 – 2000, dimana dilangsungkan jejak pendapat di Timor Timur, yang kemudian berakhir dengan lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Jadi dengan data-data komunikasi militer yang mereka peroleh dari intersepsi sejak tahun 1974, hampir tidak ada rahasia tentang operasi militer Indonesia di Timor Timur yang tidak mereka ketahui.

Pintu masuk fasilitas rahasia di Shoal Bay.

Baca juga: BRIsat – Akankah Jadi Satelit Komunikasi Utama TNI?

Satelit Palapa A1 berperan sebagai satelit repeater bagi komunikasi berbagai media, termausuk telepon dan transmisi data. Palapa mengorbit pada ketinggian 35.900 km, sebagai satelit geostationer, Palapa mengelilingi Bumi bersamaan dengan rotasi Bumi, jadi satelit ini selalu berada di atas suatu posisi tertentu di atas Bumi.

Dengan latar Proyek Larswood, poin penting yang bisa diambil adalah “Hanya Jaringan Komunikasi yang Mandiri dan Amanlah yang menjamin Kedaulatan Suatu Negara.” Berangkat dari situ, maka wajar bila TNI membutuhkan satelit khusus untuk fungsi militer. Meski penguasaan teknologi satelit komunikasi masih belum bisa dicapai, kemandirian dalam rancang bangun satelit produksi dalam negeri harus terus didukung. Sampai saat ini sudah ada dua satelit produksi dalam negeri yang telah mengangkasa, yakni LAPAN A2 dan LAPAN A3. Sementara untuk satelit komunikasi militer, saat ini menggunakan slot BRIsat dan nantinya akan dioperasikan satelit khusus militer dan pemerintah yang sedang dibagun oleh Airbus Defence and Space. (Bayu Pamungkas)

Baca juga: Garap Proyek Satelit Militer Indonesia, Airbus Defence and Space Gandeng GigaSat

17 Comments