Profil Pulau Kharg: Terminal Minyak Iran yang Jadi Target Operasi Khusus Donald Trump

Ketegangan di kawasan Teluk Persia kini berada di ambang titik didih baru seiring mencuatnya laporan mengenai rencana operasi militer ambisius yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Fokus utama dari spekulasi strategi ini adalah Pulau Kharg (Kharg Island), sebuah daratan strategis yang berfungsi sebagai terminal ekspor minyak mentah utama Iran.
Di bawah arahan Presiden Donald Trump, rencana untuk merebut atau melumpuhkan pulau ini dipandang sebagai langkah pamungkas dalam strategi “tekanan maksimum” untuk meruntuhkan fondasi ekonomi Teheran secara permanen.
Secara geografis, Pulau Kharg merupakan pulau karang kecil yang terletak sekitar 25 kilometer di lepas pantai daratan Iran dan 483 kilometer di sebelah utara Selat Hormuz. Meskipun luasnya hanya sekitar 20 kilometer persegi, pulau ini memiliki peran yang sangat tidak proporsional dibandingkan ukurannya.
Sejarah mencatat bahwa pengembangan Kharg sebagai terminal minyak dimulai pada tahun 1950-an, dan sejak saat itu, ia bertransformasi menjadi “jantung” yang memompa lebih dari 90% ekspor minyak mentah Iran ke pasar global. Dengan kapasitas penyimpanan mencapai jutaan barel, Kharg adalah aset yang paling dijaga ketat sekaligus paling rentan bagi Teheran.
JUST IN: 🇺🇸🇮🇷 US President Trump considers plan to seize Iran’s Kharg Island, a key oil export hub in the Persian Gulf, Axios reports. pic.twitter.com/QOTpsjU2oK
— BRICS News (@BRICSinfo) March 8, 2026
Menyadari nilai strategisnya yang tak ternilai, Iran telah mengubah Pulau Kharg menjadi benteng pertahanan yang sangat padat. Berdasarkan laporan intelijen, Teheran menggelar sistem pertahanan udara berlapis di pulau tersebut, mulai dari baterai rudal jarak jauh S-300 hingga sistem pertahanan titik seperti Tor-M1 dan Mersad.
Selain itu, pesisir pulau ini dijaga oleh unit elit Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang dilengkapi dengan kapal cepat peluncur rudal dan baterai rudal anti-kapal pesisir. Sistem radar canggih juga terus memantau setiap pergerakan di permukaan maupun udara guna mencegah serangan pendadakan.

Namun, yang membuat kabar pengerahan pasukan khusus AS dan Israel ini begitu menarik adalah pilihan taktiknya. Penggunaan unit elit seperti US Navy SEALs atau Sayeret Matkal dari Israel mengindikasikan bahwa tujuan operasi bukanlah penghancuran total, melainkan penguasaan infrastruktur secara presisi.
Dengan merebut terminal minyak secara fisik melalui operasi amfibi dan infiltrasi udara, AS dan Israel dapat memutus aliran dana Iran tanpa harus menyebabkan bencana lingkungan besar yang dipicu oleh pemboman udara masif.
🚨🇺🇸🇮🇷 U.S officials are reportedly discussing a plan to seize Iran’s Kharg Island, the chokepoint responsible for roughly 90% of Iran’s oil exports.
If the proposal moves forward, the island would fall under direct U.S. military control in the next phase of the war.
And Kharg… https://t.co/CJzs393EEx pic.twitter.com/cWAqNbFJjA
— Mario Nawfal (@MarioNawfal) March 8, 2026
Presiden Donald Trump dilaporkan melihat penguasaan Pulau Kharg sebagai instrumen politik yang sangat kuat. Dengan memegang kendali atas terminal minyak ini, Washington secara otomatis memiliki daya tawar yang absolut untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan dengan posisi yang sangat lemah. Namun, langkah ini ibarat bermain api di atas tumpukan mesiu.
Para analis militer memperingatkan bahwa serangan langsung terhadap Pulau Kharg hampir pasti akan memicu perang terbuka di seluruh kawasan, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang dapat mengguncang stabilitas energi dunia dalam sekejap.
Kehadiran armada tempur AS yang terus diperkuat di Laut Arab menunjukkan bahwa rencana ini bukan sekadar gertakan diplomatik. Keterlibatan aktif Israel dalam koordinasi intelijen memberikan dimensi baru pada konflik ini, mempertegas aliansi strategis untuk melumpuhkan proksi dan kapasitas nuklir Iran dari akarnya. Kini, dunia menanti dengan cemas: apakah “Operasi Pulau Kharg” akan menjadi sejarah baru dalam taktik perang asimetris, atau justru menjadi pemicu bagi konflik besar yang selama ini dihindari di Timur Tengah. (Gilang Perdana)
Selat Hormuz Memanas, Iran Sukses Luncurkan Rudal Udara ke Udara ‘Sidewinder’ dari Drone Karrar



Amrik nyerang itu nggak jauh dari minyak. Berbagai alasan disebut untuk merebut minyak.
Kemarin Israel hancurin ladang minyak Iran si Amrik marah-marah.
Makanya hati-hati kalo kita nemu sumber minyak. Jangan digembar-gemborkan ke media. Diserbu dan direbut Amrik baru tahu rasa.