Patuh Pada Mandat NATO, AU Jerman Cari Pengganti Tornado yang Punya Kemampuan Melepaskan Bom Nuklir

Meski era Perang Dingin telah lama berlalu, namun tingkat kesiapsiagaan jet tempur NATO yang punya kemampuan melepaskan bom nuklir tetap dipertahankan, seperti salah satunya Jerman, Negeri Bavaria ini memegang mandat dari NATO untuk menggelar jet tempur dengan kemampuan tersebut, dimana saat ini kemampuan melepaskan bom nuklir diwakilkan oleh sisa armada Panavia Tornada yang usianya telah menua.

Baca juga: Kucurkan Dana Besar, Jerman Justru Tingkatkan Kemampuan Armada Panavia Tornado

Beragam upaya pun terus dilakukan Jerman guna mempertahankan armada Tornado, salah satunya dengan kucuran dana besar untuk meningkatkan armada Tornado, setidaknya agar dapat dioperasikan hingga tahun 2030. Sejauh ini, AU Jerman masih mengoperasikan 85 unit Tornado versi IDS (Interdictor/strike) dan 28 unit Tornado varian ECR (Electric Combat/Reconnaissance).

Ternyata dalam konteks mengganti Tornado tak semudah dibayangkan, terlebih bila dikaitkan dengan calon jet tempur pengganti yang punya kapabilitas melepaskan bom nuklir. Seperti dikutip dari DefenseNews.com (27/3/2020), yang melaporkan bahwa AU Jerman bakal membeli 90 unit Eurofighter Typhoon, 30 unit F/A-18E/F Super Hornet dan 15 unit EA-18G Growler.

Yang disebut pertama tentu sudah bisa ‘dimaklumi,’ lantaran Jerman adalah bagian dari konsorsium di Eurofighter dan kini sudah mengoperasikan lebih dari seratusan unit jet tempur Typhoon. Namun lain halnya dengan F/A-18E/F Super Hornet dan EA-18G Growler, lantaran sebelumnya tak ada pembahasan serius untuk mengakuisisi dua jet tempur keluaran Boeing tersebut.

Jerman berencana mengakuisisi Super Hornet untuk memenuhi persyaratan NATO untuk menerjunkan pesawat tempur yang mampu menjatuhkan bom gravitasi nuklir B61. Media bisnis Jerman Handelsblatt pertama kali melaporkan pembelian terpisah, dimana Jerman dikabarkan juga akan membeli EA-18G Growlers untuk menggantikan Tornado Tornado varian ECR.

Namun, Justin Bronk, seorang peneliti dari Royal United Services Institute mempunyai tanggapan yang menarik, menurutnya F/A-18E/F Super Hornet sampai saat ini belum mendapat sertifikasi untuk membawa bom nuklir B61. Itu berarti bahwa Super Hornet harus melalui proses sertifikasi jika kelak diakuisisi untuk tujuan menggotong bom nuklir. Tapi yang menarik disini adalah, justru varian lawas Hornet, yaitu F/A-18 Hornet justru sudah mendapat sertifikasi membawa bom nuklir tersebut.

Menjawanb hal tersebut, juru bicara Boeing, Justin Gibbons mengatakan bahwa F/A-18 Super Hornet mampu disertifikasi untuk memenuhi persyaratan membawa B61 di bawah timeline-nya. “Boeing memiliki rekam jejak yang terbukti berhasil mengintegrasikan sistem senjata yang memenuhi kebutuhan pelanggan AS dan internasional,” ujar Gibbons. Lebih lanjut Ia tidak menyebutkan berapa waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan sertifikasi yang dimaksud.

Baca juga: Jadi Spesialis Peperangan Elektronika, Eurofighter Typhoon ECR Berdesain “Tandem Seat”

Secara historis, sebagai bagian dari perjanjian pembagian nuklir NATO, Jerman telah menyimpan sebagian armada Tornado yang dikonfigurasikan untuk menggunakan bom nuklir buatan AS. Dalam simulasi konflik dengan Rusia, pilot jet tempur Jerman dapat menjatuhkan senjata nuklir atas nama NATO. (Gilang Perdana)