Latest

Duel Kapal Perang di Blok Ambalat

KRI tengah mengejar kapal perang Malaysia
KRI tengah mengejar kapal perang

Cuplikan percakapan radio antara kapal perang Kerajaan Malaysia dan otoritas Indonesia (TNI AL) di perairan Ambalat pada suatu malam di bulan Mei 2009 dalam situasi cuaca yang sangat buruk dan berkabut.

INDONESIA: “Harap belokkan kapal Anda 15 derajat ke utara untuk menghindari
tabrakan.”

MALAYSIA : “Lebih baik Anda yang membelok! krn kami berada di wilayah
perairan kami..”

INDONESIA: “Kami juga berada di wilayah kedaulatan kami,Anda yang harus
membelok untuk menghindari tabrakan fatal !!”

MALAYSIA : “Saya Laksamana Muda Tengku Datuk Mahmod sofyan Komandan Gugus
Timur Tentara Laut Diraja Malaysia.. Saya bilang belokkan kapal
Anda!!!!sekarang! !!”

INDONESIA: “Negative!!! . Saya Mayor (Mar) Yophie Purba,Komandan Penjaga
Perbatasan kepulauan Ambalat dari Korps Marinir TNI AL Republik
Indonesia,saya katakan sekali lagi, belokkan kapal Anda!!! untuk
menghindari tabrakan yang konyol !!!”

MALAYSIA : “Ini adalah Kapal DestroyerTentara Laut Diraja Malaysia, kapal
kedua terbesar dari Armada Utama kami. Kami dilengkapi tiga destroyer
missil, tiga rudal berhulu ledak nuklir,1 lusin canon dan 2 unit
hellicopter tempur. Saya MINTA Anda belok 15 derajat ke selatan. Sekali
lagi saya ulangi: 15 derajat ke selatan, SEKARANG!!atau sebuah tindakan
akan kami lakukan untuk mengamankan kapal Anda!!!”

INDONESIA: “Dasar Malaysia goblok!!!!! Ini mercusuar tauuu!!! Sotoy banget
sihh ..!!!!”

Exocet : Si “Ikan Terbang” Andalan TNI-AL

MM 38 Exocet
MM 38 Exocet

Dari beragam rudal (peluru kendali) yang dimiliki TNI-AL, boleh dibilang Exocet adalah jenis yang paling populer, selain tipe rudal Harpoon, Mistral dan C-802. Pasalnya Exocet telah memperkuat TNI-AL cukup lama, yakni sejak awal tahun 80-an Rudal buatan Prancis ini mulai memperkuat jajaran alutsista (alat utama sistem senjata) TNI-AL bersamaan kehadiran frigat-frigat yang  disiapkan guna mengusung Exocet sebagai senjata utama anti kapal permukaan.

Container Exocet MM 38 di salah satu KRI
Container Exocet MM 38 di salah satu KRI
Tampilan Exocet dalam wadah container box
Tampilan Exocet dalam wadah container box
Bagan Container Exocet
Bagan Container Exocet
Tampilan utuh Exocet
Tampilan utuh Exocet

TNI-AL memiliki dua tipe Exocet, yakni MM38 dan MM 40. MM 38 adalah generasi pertama yang diterima TNI-AL, dan saat ini setidaknya ada delapan KRI yang mengusung Exocet MM 38. Diantaranya adalah frigat KRI Fatahilah, KRI Malahayati, KRI Ki Hajar Dewantara dan KRI Nala. Sedang empat KRI lainnya berjenis Kapal Cepat Rudal buatan Korea, yakni KRI Rencong, KRI Mandau, KRI Badik dan KRI Keris. Setiap kapal pengusung, membawa empat buah rudal yang memiliki kecepatan sub sonic.

Harusnya Exocet family ship milik TNI AL bertambah, lantaran TNI AL kini ketambahan dua KCR baru, yakni KRI Salawaku dan KRI Badau. KRI Salawaku-642 dan KRI Badau-643 adalah kapal cepat rudal yang dihibahkan oleh pemerintah Brunei Darussalam kepada pemerintah Indonesia, kapal ini berdimensi 37 meter yang dibuat oleh Vosper Thornycroft Singapura tahun 1978. Dalam paket persenjataan, harusnya dua KCR tersebut sudah dibekaliu rudal MM-38 Exocet, tapi dalam pengiriman ke Indonesia, rudal tersebut tidak disertakan. Belum diketahui, apakah nantinya akan dipasang MM-38 Exocet kembali atau bisa jadi malah dipasang rudal C-802.

Container MM 40 Exocet
Container MM 40 Exocet

Dilihat dari usianya, versi MM 38 kini sudah tergolong usang. Untuk itu pihak pabrikan, MBDA (anak perusahaan Aerospatiale) menciptakan generasi lanjutan Exocet, yakni MM 40 blok 2. Jenis terbaru ini pun sudah dimiliki TNI-AL. Kapal pengusung MM 40 adalah empat jenis frigat yang baru dibeli dari Belanda, yakni KRI Diponegoro, KRI Hasanuddin, KRI Sultan Iskandar Muda dan KRI Frans Kaisiepo. Setiap kapal membawa empat buah rudal MM 40 Block II.

Jenis yang Exocet terbaru milik TNI AL, MM-40 Block II bukanlah tipe terbaru, keluarga Exocet terbaru kini sudah ada MM-40 Block III. Selain bisa menjangkau sasaran hingga 180 Km, seperti halnya MM-40 Block II, rudal ini bisa dioperasikan secara fire and forget. Kemampuan lain yakni untuk menghindari jamming dari musuh. Dengan memiliki jangkauan target antara 75 – 180 Km, Excocet juga layak disebut rudal lintas cakrawala. Untuk itu tantangan bagi TNI AL selanjutnya adalah penyediaan elemen OTHT (Over The Horizon Target), berupa radar penjejakan yang memdadai, baik pada unsur kapal perang, pesawat udara, kapal selam, ataupun satelit. Meski Block II bukan versi Exocet terbaru, tapi kabarnya bisa dilakukan upgrade dari Block II ke Block III. Dengan upgrade ke Block II, dimungkinkan rudal Exocet untuk menghantam sasaran di pantai dan daratan.

Exocet MM-40 blok III menggunakan mesin jet turbofan, termasuk empat air intake yang menjamin aliran angin secara kontinyu selama manuver high-G. Exocet MM-40 Blok III juga mengusung sistem pemandu waypoint, yang mampu menuntun rudal untuk menyerang target dari sudut yang berbeda dan beroperasi layaknya sebuah rudal jelajah.

Perbedaan bentuk dan spesifikasi antara MM-40 Block II dan MM-40 Block III
KRI Nala saat melakukan penembakan MM 38 Exocet
KRI Nala saat melakukan penembakan MM 38 Exocet
Exocet menjelang hantam target
Exocet menjelang hantam target
Perbedaan mendasar antara MM-40 Block II dan Block III, pada Block III terdapat air intake

Selain dirancang untuk platform anti kapal permukaan, Exocet yang dalam bahasa Prancis berarti ikan terbang, juga dibuat varian lain, diantaranya AM-39 (versi anti kapal yang diluncurkan dari pesawat tempur) dan SM 39 (versi yang dapat diluncurkan dari kapal selam). Versi AM 39 terbilang cukup fenomemal di dekade 80an, dimana AM 39 yang diluncurkan dari pesawat Super Etendard Argentina mampu menghajar dan menenggelamkan HMS Shiefield, frigat Inggris dalam perang Malvinas. AM 39 milik Irak yang diluncurkan dari Mirage F1 juga pernah menghajar USS Stark, walau tak sampai membuat frigat AS itu tenggelam. Saat ini tak kurang 33 Angkatan Luat di dunia menggunakan Exocet, populasi rudal ini diperkirakan ada lebih dari 3.300 unit.

Tabung peluncur MM-40 Exocet pada SIGMA class TNI AL
Perbandingan ukuran antar keluarga Exocet

Update berita terakhir tentang rudal Exocet dari TNI AL, yakni pada Rabu, 20 April 2011 telah dilangsungkan uji tembak rudal MM-40 Exocet dari frigat KRI Hassanudin. Kapal yang menjadi target tembak rudal ini adalah KRI Teluk Bayur, sasaran yang sama saat dilakukan uji tembak untuk rudal Yakhont. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Super Puma TNI-AL pernah dipasangi dummy AM-39 Exocet
Super Puma TNI-AL pernah dipasangi dummy AM-39 Exocet
Exocet juga mampu ditempatkan dalam platfom Truck
Exocet juga mampu ditempatkan dalam platfom Truck

Versi AM 39 Exocet
Versi AM 39 Exocet

SM 39 yang diluncurkan dari kapal selam
SM 39 yang diluncurkan dari kapal selam

Spesifikasi MM 38 Exocet

Mulai Beroperasi : 1979
Produsen : MBDA’s division Aérospatiale
Berat : 670 kilograms (1,500 lb)
Panjang : 4.7 metres (15 ft 5 in)
Diameter 34.8 centimetres (1 ft 1.7 in)
Berat Hulu ledak : 165 kilograms (360 lb)
Engine : solid propellant engine
Wingspan : 1.1 metres (3 ft 7 in)

Operational
Jangkauan : 70-180 kilometres (43-110 mi; 38-97 nmi)
Flight altitude : Sea-skimming
Kecepatan : 315 metres per detik (1,030 ft/s)

KRI Fatahillah 361, Korvet Modern dari Era 80an

KRI Fatahilah dengan Meriam Bofors 120 mm, saat ini menjadi meriam kaliber terbesar yang digunakan dalam armada KRI
KRI Fatahillah dengan Meriam Bofors 120 mm, saat ini menjadi meriam kaliber terbesar yang digunakan dalam armada KRI

Dengan anggaran militer yang serba terbatas, lumrah bila akhirnya TNI selalu mendapat pasokan alutsista (alat utama sistem senjata) bekas pakai dari negara lain. Tak terkecuali dalam pengadaan kapal perang (KRI). Dari ratusan KRI yang dimiliki TNI-AL, hanya beberapa saja yang dibeli berupa barang baru dari pabrik. (more…)

PT-76 – Kisah Tank Amfibi Tua TNI-AL

Manuver PT-76 saat melakukan pendaratan di pantai

Pengakuan kedaulatan atas kemerdekaan Negara Republik Indonesia oleh Kerajaan Belanda pada akhir tahun 1949 menandai berakhirnya Periode Perang Kemerdekaan 1945-1949. Pengakuan kedaulatan itu sendiri merupakan hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, antara Pemerintah Indonesia dengan Kerajaan Belanda. (more…)

Fokker F-27 : Si Troopship Yang Malang

F-27 Troopship - Skadron Udara 2 TNI-AU
F-27 Troopship – Skadron Udara 2 TNI-AU

Dilihat dari segi usia, pesawat yang satu ini sudah cukup berumur. Maklum masa baktinya di TNI-AU sudah lebih dari 30 tahun. Tapi sontak saja, Fokker F-27 M400 Troopship milik TNI-AU menjadi buah pembicaraan dimana-mana setelah musibah jatuhnya F-27 dengan nomer A2703 pada hari Senin (6/4/2009). Jatuhnya pesawat angkut personel dengan mesin Turborprop ini menambah panjang arsenal TNI-AU yang jatuh cukup sering belakangan ini. Dari musibah jatuhnya F-27 di bandara Husein Sastranegara, Bandung, TNI-AU kehilangan 24 personelnya, beberapa diantaranya adalah anggota tim elit “Bravo” yang tengah melakukan latihan terjun. (more…)

KRI Cakra 401 (Type 209/1300) – “Siluman Bawah Laut” TNI AL

KRI Cakra dalam sebuah defile
KRI Cakra dalam sebuah defile

Sampai periode awal tahun 90-an, TNI AL masih cukup membanggakan bila dilihat dari arsenal tempurnya, salah satu indikatornya hingga masa itu hanya Indonesia satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki armada kapal selam. Dominasi armada kapal selam Indonesia di kawasan Asia Tenggara telah dimulai sejak era tahun 60-an, dimana saat itu TNI-AL mengoperasikan 12 unit kapal selam kelas Whiskey buatan Rusia. (more…)

MiG-17 Fresco – Kondang Sebagai Algojo F-4 Phantom di Perang Vietnam

Dogfight antara F-4 Phantom dan MIG-17 Fresco di perang Vietnam
Dogfight F-4 Phantom dan MIG-17 Fresco di perang Vietnam

Tengah hari bolong, 9 Maret 1960, sebuah MiG-17F Fresco dari skadron udara 11 AURI, menukik ke arah Istana Merdeka. Sejurus kemudian rentetan tembakan terdengar memecah udara siang yang panas itu. Berondongan peluru menghunjam ke beberapa bagian Istana. Asalnya dari moncong kanon 23 mm Fresco bernomor 1112 yang diterbangkan Letnan II Penerbang Daniel Maukar. Untungnya Presiden Soekarno sedang tak berada di Istana ketika itu. (more…)

V-150 Commando – Si “Mobil Setan”

V-150 versi meriam 90mm. Dalam gambar meriam menggunakan jenis Cockerill. V-150 TNI-AD menggunakan meriam kaliber yang sama buatan Meca
V-150 versi meriam 90mm. Dalam gambar meriam menggunakan jenis Cockerill. V-150 TNI-AD menggunakan meriam kaliber yang sama buatan Meca

Tak banyak panser tempur Indonesia yang punya reputasi memukau dalam waktu operasional yang demikian panjang. Salah satunya tak lain adalah V-150 Commando buatan Cadilage Cage Company, Amerika Serikat.
Panser dengan empat roda ini (4×4) didatangkan ke Tanah Air sekitar tahun 70-an, dan hingga kini menjadi andalan dalam arsenal tempur Batalyon Kavaleri 7/Sersus (Panser Khusus) Kodam Jaya yang bermarkas di Cijantung, Jakarta. V-150 YonKav 7 terdiri dari empat varian, yakni versi intai dengan senapan mesin berat 12,7mm, versi meriam kaliber 90mm, versi twin gun 7,6mm MG Turret AP (Angkut Personel) dan versi komando. (more…)

OV-10F Bronco – “Kuda Liar” Pelibas GPK

Bronco saat melepaskan roket FFAR

Ulah GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) kerap harus dihadapi dengan tindakan tegas, salah satunya dengan opsi militer. Nah, dari sekian banyak cara untuk mematahkan aksi GPK, boleh jadi harus mencontoh kehebatan pesawat tempur OV-10F Bronco, sebagai pesawat dengan turbo propeller (baling-baling), Bronco sangat pas untuk misi anti gerilya dengan kecepatan yang tak terlampau tinggi, pas untuk ”menghabisi” secara akurat titik-titik konsentrasi pasukan gerilya GPK. (more…)

Menyibak Misteri “Lock” Sukhoi TNI-AU

Su-30 Skadron 11 TNI-AU
Su-30 Skadron 11 TNI-AU

Hari jumat tanggal 20 Februari 2009 boleh jadi adalah momen berharga bagi Angkatan Udara Indonesia. Pasalnya, ini kali pertama jet tempur termodern TNI-AU, Su-30 Sukhoi dikabarkan di lock (dikunci) oleh sensor rudal pesawat tak dikenal.

Sontak berita ini jadi headline di berbagai pemberitaan nasional. Ada yang menyebut dua Sukhoi TNI-AU di lock oleh pesawat tempur berkualifikasi stealth, ada lagi yang bilang Sukhoi di lock oleh kapal selam asing, lalu satelit, bahkan ada pendapat yang cukup aneh, Sukhoi telah di lock oleh UFO.

Opini di masyarakat pun berkembang luas. Mengatasi berita yang sumir, pihak Puspen TNI akhirnya memberi pernyataan bahwa dua Sukhoi mengalami kerusakan elektronik. Sejak saat itu berita Sukhoi di lock mulai sepi dari ulasan di berbagai media.

Tapi peristiwa 20 Februari itu terus mengundang tanya, apakah mungkin dua jet tempur super canggih berharga ratusan juta US dollar itu mengalami kerusakan elektronik secara bersamaan? Terlebih lagi pesawat saat kejadian diawaki oleh instruktur pilot berpengalaman dari Rusia. Nah, ketimbang dibuat bingung, ada baiknya kita analisa mengenai beberapa kemungkinan yang terjadi pada hari jumat pagi itu.

Sukhoi di “lock” pesawat tempur
Kalaupun Sukhoi di lock rudal pesawat tempur, tentu tak sulit menemukan tersangkanya. Secara kemampuan militer, hanya Amerika Serikat dan Australia yang bisa “berani” untuk melakukan hal ini.

Seandainya di lock oleh sosok pesawat stealth, AS lah yang mungkin terlibat. Tapi untuk misi ini membutuhkan pangkalan aju, semisal di Guam atau di Darwin (Australia Utara). bahkan boleh jadi perlu dukungan air refeuling untuk misi jarak jauh. Pesawat AS yang punya kemampuan stealth saat ini diantaranya F-22 Raptor, F-117 Night Hawk dan B-2 Spirit.

F-22 Raptor US Air Force. Pesawat ini rencananya akan ditawarkan ke beberapa negara sekutu AS
F-22 Raptor US Air Force. Pesawat ini rencananya akan ditawarkan ke beberapa negara sekutu AS

Tapi analisa diatas rasanya agak berlebih, mengingat untuk operasi macam ini butuh biaya besar dan beresiko tinggi. Risiko tinggi tentu bukan dari hadangan pesawat tempur TNI-AU, tapi lebih mungkin karena faktor alam. Maklum operasi digelar di lautan lepas yang faktor cuacanya sulit diduga. Kecuali AS punya niat untuk misi dagang, semisal membuktikan kecanggihan stealth F-22 Raptor kepada calon pembelinya.

Ada lagi misteri di soal jarak kunci rudal, dikabarkan di media massa Sukhoi di lock dari jarak ratusan kilometer. Pertanyaanya, jenis rudal apakah yang bisa me lock dalam radius demikian jauh? Stoknya tak terlalu banyak dipasar, rudal udara ke udara yang punya jangkauan ini kandidatnya adalah AIM-7 Sparrow dan Phoenix.

Tapi berdasar analisa lebih jauh, Phoenix lah yang paling mungkin dari segi teknis dengan jangkauan operasi sampai 200 Kilometer. Phoenix dahulu pernah dipakai F-14 Tomcat US Navy untuk menjatuhkan MIG-23 Flogger milik Libia. Tapi rudal era tahun 80-an ini sudah tergolong tua.

Seandainya memang benar Sukhoi TNI-AU di lock oleh pesawat stealth, saya yakin niatnya bukan untuk benar-benar menghancurkan, mungkin lebih tepat untuk trial response. Toh walau Sukhoi TNI AU canggih, belum dibekali paket senjata yang mematikan, seperti rudal udara ke udara. Senjata Sukhoi TNI AU baru sebatas kanon internal 30 mm. Moga-moga dengan adanya insiden ini membuat  pemerintah terketuk untuk melengkapi sang Sukhoi dengan senjata yang bisa menggetarkan lawan.

Apalah artinya pesawat tempur canggih tanpa bekal senjata yang mumpuni. Seyogyanya TNI AU harus belajar dari kasus F-16 yang cuma dibekali paket rudal AIM-P4 Sidewinder dan rudal udara ke darat AGM-65 Maverick.

Kembali ke hari dimana Sukhoi di lock, begitu ada kabar Sukhoi di kunci rudal sontak berita diteruskan ke pangkalan di Makassar dan pejabat Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional). Maka diputuskanlah untuk menerbangkan Boeing 737-200 Surveillance Skadron 5 yang juga ber-home base di lanud Hassanudin Makassar, Sulawesi Selatan.

Boeing 737 Surveillance Skadron 5 TNI-AU
Boeing 737 Surveillance Skadron 5 TNI-AU

Dikabarkan Boeing 737 langsung melakukan pencarian obyek pesawat tak dikenal dalam jangkaun 370 Km, kemudian diteruskan ke arah selatan menuju Bali. Skadron 5 sendiri hanya punya 3 unit Boeing 737 Surveillance, dan diterbangkan secara bergantian. Pertanyaanya, apakah efektif pencarian pesawat penyusup dengan Boeing 737 tersebut?

Boeing 737 Surveillance terbilang pesawat pengintai canggih di era tahun 80-an. Salah satu andalannya adalah radar pengintai laut SLAMMER (Side Looking Airborne Multimission Radar) yang bisa memantau aktivitas di lautan sepanjang area 85 ribu mil per jam (lihat artikel Boeing 737 Surveillance – Jet Pengintai TNI-AU). Tapi Boeing 737 surveillance TNI AU tak bisa disamakan dengan pesawat intai E-3A AWACS ataupun E-2C Hawkeye. Kemampuan penjejakan Boeing 737 surveillance bukan untuk keunggulan intai aktivitas di udara, melainkan untuk intai laut.

E-3A AWACS US Air Force
E-3A AWACS US Air Force

Seandainya Boeing 737 surveillance TNI AU diberi tugas intai mendadak pada pagi itu, apakah pesawat tersebut bisa diterbangkan dengan cepat? Apakah Boeing 737 bisa scramble secepat pesawat tempur? Meski menyandang status pesawat militer, Boeing 737 surveillance TNI AU tak beda jauh dengan performa mesin Boeing 737 milik penerbangan komersial. Tentu dibutuhkan waktu dan persiapan untuk mengudara. Belum lagi Lanud (pangkalan udara) menyatu dengan bandara Hassanudin, tentu diperlukan koordinasi bila butuh terbang mendadak dengan pihak ototitas penerbangan sipil di bandara, dalam hal ini PT Angkasa Pura.

Dengan skenario ini, terlihat tidak efektif bila Boeing 737 surveillance diberi tugas intai pengejaran. Tentu ada banyak jeda waktu yang terbuang sampai Boeing 737 surveillance hadir di TKP (tempat kejadian perkara). Belum lagi bila yang dihadapi pesawat jet tempur, tentu kecepatan escape nya luar biasa cepat, secepat-cepatnya Boeing 737 mengejar tentu tak akan ada hasilnya. Obyek pesawat juga tak akan bisa terlihat lagi dari layar radar.

Menurut pemberitaan, seluruh satuan radar baik sipil dan militer di darat tak ada yang melihat aktivitas black flight. Seandainya benar yang menyusup pesawat stealth, harus diacungi jempol kemampuan pesawat tersebut.

Apakah Ulah Australia?
Australia punya reputasi tinggi pada soal susup menyusup ke wilayah Indonesia. Pasca jejak pendapat di Timor Timur, beberapa kali F-18 Hornet AU Australia kerap masuk jauh ke wilayah udara Indonesia. Salah satu peristiwa yang membuat heboh saat Hawk 200 TNI AU mampu menyergap black flight F-18 Hornet Australia. Hornet dan F-111 Raven Australia diduga juga pernah terbang tinggi diatas lanud Kupang. Sayang Arhanud Indonesia tak memliki rudal anti pesawat jarak jauh seperti SA-2 di era tahun 60-an.

Hanya sekedar analisa, insiden Sukhoi di lock bukan tak mungkin melibatkan Australia. Secara geografis hal ini dimungkinkan mengingat wilayah laut Sulawesi Selatan masih dalam jangkauan pesawat tempur Australia yang bermarkas di lanud Tindal, Darwin, Australia Utara. Apalagi dengan konsep isi bahan bakar di udara segalanya menjadi mungkin.

Walau F-111 Raven dan F-18 Hornet tak memiliki kemampuan steatlh, bukan tak mungkin ada peningkatan kemampuan radar dan persenjataan dengan restu AS. Kabar terbaru AU Australia segera akan diperkuat oleh 24 armada F-18 Super Hornet. Ataukah sebuah penerbangan gelap F-22 Raptor take off dari Darwin? Walahualam..

Sukhoi di Lock Kapal Selam?
Kemampuan perang ekektronik memungkinkan segalanya bisa dilakukan, sebuah kapal selam dapat melepasan rudal dari bawah permukaan laut ke target berupa pesawat, tentu didahului dengan lock missile. Salah satu rudal dengan kemampuan ini adalah sea sparrow. Jenis kapal selam yang bisa melakukan hal ini rasanya hanya milik US Navy, seperti kelas Los Angeles .

USS Los Angeles - kapal selam serang US Navy dengan tenaga nulkir
USS Los Angeles - kapal selam serang US Navy dengan tenaga nulkir

Skenario lock dari kapal selam mencuat karena kebuntuan hasil pencarian dari pesawat intai. Banyaknya celah laut  Indonesia, memungkinkan kapal selam asing menyusup jauh ke wilayah perairan kita tanpa terditeksi. Ditambah masalah jumlah kapal perang TNI AL yang punya kemampuan anti kapal selam masih sangat terbatas.

Gara-Gara Rombongan Hilary?
Skenario ini paling kecil kemungkinannya, tapi insiden Sukhoi di Lock tak jauh dari waktu kedatangan menlu AS, Hilary Clinton di Indonesia. Bisa saja saat kedatangan ataupun kepergian Hilary dari wilayah Indonesia, pihak rombongan kurang “nyaman” dengan manuver latihan Sukhoi, lantas di lock jamming lah kedua pesawat TNI AU itu.

Berpulang kepada hal diatas, semua yang saya ungkapkan hanyalah opini pribadi.  Tetap terbuka kemungkinan bahwa semua ini adalah karena problem kerusakan elektronik semata. Mohon maaf sekiranya bila ada detail info yang kurang akurat dan benar. Yang jelas dalam dunia teknologi militer impossible is nothing. (Haryo Adjie Nogo Seno)