Latest

VAB : Kisah Panser Perisai Ibu Kota

Sebagian besar dari kita tentu masih ingat terjadinya kerusuhan massal pada tahun 1998. Akibat rusuh massal di beberapa kota besar secara sporadis, berbuntut tumbangnya pemerintahan orde baru (orba) pimpinan Soeharto. Rusuh massal yang berlangsung sporadis amat mengerikan, terutama di Ibu Kota Jakarta sebagai titik awal gerakan demokrasi. Hampir di setiap wilayah Jakarta terjadi pengrusakan, penjarahan dan pembakaran. Aparat TNI (dulu ABRI) dan Polri dituntut kerja kerasnya untuk menanggulangi dampak rusuh yang bernuansa politik ini. (more…)

Casspir MK3: “Kuda Perang” Kopassus dari Afrika Selatan

Bagi Anda yang eksis di era 80-an, mungkin akan teringat kembali saat melihat sosok rantis Casspir. Ranpur buatan Afrika selatan (Afsel) yang dirancang oleh Council for Scientific and Industrial Research (CSIR) ini terbilang fenomemal, maklum di era 80-an berita seputar politik “Apartheid” di Afsel kerap menghiasi layar kaca di TVRI (Televisi Republik Indonesia). Nah, boleh dikata sosok Casspir kerap muncul kala itu sebagai rantis bagi aparat polisi/militer Afsel dalam meredam pemberontakan kaum kulit hitam. (more…)

IFV BVP-2 Korps Marinir: Sangar dan Battle Proven

Tak banyak alustsista (alat utama sistem senjata) milik TNI yang berkualifikasi ”sangar,” khususnya di segmen kavaleri. Lebih modern mungkin ada, tapi yang benar-benar sangar hanya bisa dihitung dengan jari. Yang dimaksud sangar pada tulisan ini yakni dilihat dari segi desain, persenjataan dan battle proven (terbukti handal dalam medan perang). Dimana kesemua unsur tadi bila digabungkan mampu menciptakan daya getar (deteren) bagi lawan. (more…)

Scorpion 90 : Little “MBT”-nya Indonesia

Scorpion 90 miliki TNI-AD

Konon karena alasan kondisi geografis dan ini itu, Indonesia ditakdirkan tak sesuai memiliki jenis MBT (main battle tank) alias tank tempur utama dengan bobot tonase diatas 20 ton. Padahal negara tetangga, Malaysia yang punya kondisi geografis mirip dengan Indonesia punya MBT dari jenis PT-91 buatan Polandia. Jumlahnya memang ‘masih’ puluhan unit saja, tapi tetap intinya mereka punya MBT dengan kaliber kanon 125 mm.

Bagaimana dengan Indonesia? Tak usah kita berkecil hati, dengan segala keterbatasan, toh dalam perspektif lain, Angkatan Darat Indonesia juga punya “MBT”, tentu dalam artian tank tempur utama, bisa dikatakan jenis tank super jadoel AMX-13 yang berkanon 75 mm adalah tank utama Indonesia. Alasannya, tank buatan Perancis yang didatangkan pada era 60-an ini populasinya paling banyak beroperasi di lingkungan TNI-AD, yakni sampai 275 unit, walau sebagian sudah nongkrong sebagai pajangan di beberapa markas kesatuan TNI-AD.

Kubah Scorpion dilengkapi persikop

AMX-13 bolehlah terus beroperasi dengan program upgrade, tapi TNI-AD jelas butuh sosok “MBT” baru. Dan itu pun sudah dikabulkan oleh era pemerintah orde baru, dimana pada periode tahun 1995 – 1999 Indonesia kedatangan tank Scorpion 90 buatan pabrik Avlis. Ada identitas 90, dikarenakan tank ini mengadopsi kanon Cockerill MK3 M-A1 kaliber 90 mm. Menurut data riset dari ADF tahun 2008, disebutkan Indonesia memiliki 90 unit tank Scorpion.

Kanon Cockerill 90 mm yang digunakan pada Scorpion

Scorpion adalah tank ringan dengan bobot sekitar 8 ton. Jadi menurut analis, inilah tank yang cocok untuk kondisi geografis Indonesia. Bobotnya yang ringan, memudahkan mobilitas tank ini, rantainya pun tak merusak aspal jalan. Riwayat desain tank ini cukup panjang, mulai dirancang pada tahun 1967 dan mulai beroperasi untuk Angkatan Darat Inggris di tahun 1973. Dengan rancang bangun dan bobot yang ringan, dua unit Scorpion versi intai/Combat Vehicle Reconnaissance dapat dimasukan ke dalam sebuah pesawat angkut tipe C-130 Hercules.

Tampilan belakang Scorpion, tank ini dapat dibekali peralatan untuk berenang secara terbatas

Ada beberapa versi Scorpion, persenjataan yang paling berat memang kanon kaliber 90 mm, tapi Scorpion juga ditawarkan dalam versi kanon 76 mm dan SMB (senapan mesin berat) kaliber 12,7 mm. Versi kanon 76 mm pernah dilibatkan oleh Inggris dalam perang Malvinas dan perang Teluk pertama. Masing-masing versi pada kubahnya dibekali senapan mesin coaxial berkaliber 7,62 mm.

Khusus untuk versi 90 mm yang dimiliki TNI-AD dapat membawa 40 amunisi dari tipe HE, HEAT, HESH dan Smoke (dengan phosphorus). Scorpion dan Stormer sempat diterjunkan dalam operasi penumpasan GAM di NAD, tapi kemudian urung dilakukan karena ancaman embargo suku cadang oleh pemerintah Inggris. Populasi Scorpion dalam beberapa tipe saat ini mencapai 3000 unit di seluruh dunia, tergolong sebagai tank moden yang laris manis.

Scorpion 90 milik AD Venezuela

Saat ini Scorpion di Tanah Air memperkuat satuan Kavaleri Kostrad dalam Yon Kav 8 Divisi Infantri 2 Kostrad di Pasuruan, Jawa Timur. Dan Yon Kav 1 Divisi Infantri 1 Kostrad yang berada di Cijantung, Jakarta. (Haryo Adjie Nogo Seno)

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=PWqG4IYZNHw]

Spesifikasi Scorpion 90

Pabrik : Alvis
Berat : 8 ton
Panjang : 5,2 meter
Tinggi : 2,2 meter
Kru : 3 orang
Kanon : Cockerill caliber 90 mm
Mesin : Cummins diesel BTA 5.9 liter 190 hp (140 kW)
Transmisi : David Brown TN15
Suspensi : Torsion-bar
Jarak tempuh : 756 Km
Kecepatan Max : 80 Km/jam

Alvis Stormer : Tank APC Modern TNI-AD

Stormer versi Commando - TNI-AD

Indonesia bisa dibilang telah menjadi pelanggan setia produk militer besutan Alvis. Sejak dekade tahun 60-an, beragam alat tempur kavaleri TNI-AD didatangkan, salah satunya berasal dari Inggris. Alvis menjadi pemasok yang cukup strategis, produsen alat tempur asal Inggris ini telah memasok beragam tipe panser, seperti Ferret, Saracen, dan Saladin. Walau telah berusia lebih dari 50 tahun, ketiga panser tadi masih operasional lewat program upgrade.

Memasuki era 90-an, TNI-AD kembali kedatangan alat tempur besutan Alvis. Yakni tank ringan Scorpion dan tank APC (armored personel carrier) Stormer, kedua tank ini didatangkan pada medio tahun 1997 hingga 1999. Hadirnya Scorpion dan Stormer memang disiapkan sebagai arsenal kaveleri utama, dimana andalan TNI-AD sebelumnya yakni tank AMX-13 kanon 75 mm dan AMX-13 VCI/APC sudah dianggap terlalu tua untuk dijadikan andalan, meski varian AMX-13 sudah di upgrade total oleh TNI-AD dan hingga kini masih memperkuat beberapa batalyon kaveleri.

Stormer versi Ambulance - TNI AD

Menurut informasi dari lembaga riset ADF, Indonesia setidaknya memiliki 40 unit Stormer dari beragam versi. TNI-AD diketahui memiliki versi tank jembatan (bridge layer), recovery vehicle, ambulance, logistic vehicle, dan versi commando. Sedangkan masih ada beberapa versi yang tak dimiliki oleh TNI-AD, seperti versi penyapu ranjau (mine layers), air defence dengan rudal atau kanon 30 mm, dan versi pelontar mortir 81/120 mm. Pada versi commando yang dimiliki TNI-AD, Stormer sebatas dilengkapi senjata berupa kanon 12,7 mm dan 7,62 mm.

Stormer versi Bridge Layer dari Yon Kav 1 Kostrad

Stormer mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya mampu mendukung proteksi personel pada kondisi perang NBK (nuklir, biologi, dan kimia) lewat penambahan perangkat khusus. Stormer dilengkapi pula dengan passive night-vision equipment. Walaupun sejatinya Stormer bukan tank amfibi, tank ringan ini dilengkapi dengan amphibious kit untuk melaju di air secara terbatas.

Penampilan Stormer versi Commando dalam sebuah defile di Surabaya

Stormer adalah tank angkut personel yang sangat ideal untuk kondisi geografis di Indonesia. Hal ini terlihat dari bobotnya yang hanya 12,7 ton. Mobilitas Stormer pun terbilang tinggi, tank dengan 2 kru dan kapasitas angkut pasukan 12 personil ini dapat diangkut dengan mudah oleh pesawat angkut sekelas C-130 Hercules. Sebuah Hercules dapat memuat 1 unit Stormer.

Stormer versi air defence milik AD Inggris
Stormer milik AD Malaysia
Stormer versi Commando milik AD Inggris

Di lingkungan TNI-AD, Stormer disiapkan dalam satu paket gelaran dengan tank Scorpion. Penempatan kedua tank ini dibawah satuan kavaleri Kostrad, yakni pada Yon Kav 8 di Divisi Infrantri 2 Kostrad (Jawa Timur) dan Yon Kav 9 di Divisi Infantri 1 Kostrad (Jawa Barat). Selain Indonesia, negara jiran Malaysia diketahui juga menggunakan Stormer dengan jumlah 45 unit, Oman membeli 4 unit dan tentunya AD Inggris dengan 151 unit. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Stormer
Negara pembuat : Inggris
Berat : 12.7 tonnes
Panjang : 5.27 m
Lebar : 2.76 m
Tinggi : 2.49 m
Kru : 2 + 12
Mesin : Perkins 6 litre, 6 cylinder diesel 250 hp (186 kW)
Transmisi : David Brown TN15D
Suspensi : Torsion bar
Jarak tempuh : 640 Km
Kecepatan Max : 80 km per jam

BRDM-1 : Panser Amfibi 4×4 dari Era Bung Karno

Peninggalan mesin perang era tahun 60-an di Republik ini lumayan banyak, terutama yang berasal dari Uni Soviet. Meski sebagian besar arsenal tempur era Bung Karno ini sudah masuk museum, tapi toh masih ada beberapa yang terus digunakan hingga saat ini, contoh nya tank amfibi legendaris PT-76 dan panser amfibi BTR-50 milik Korps Marinir TNI-AL.

Ibarat tak kenal maka tak sayang, pada era tahun 60-an, utamanya saat momen pembebasan Irian Barat, Indonesia ternyata pernah kedatangan panser amfibi 4×4 yang cukup legendaris, yakni BRDM (Bronirovannaya Razvedyvatelnaya Dozornaya Mashina)-1. Panser untuk misi intai ini terbilang unik, sebab BRDM-1 dilengkapi 4 roda tambahan yang bisa dinaikan dan diturunkan. Guna 4 roda tambahan tersebut untuk meningkatkan performa panser saat melahap medan off road.

Tampilan dua dimensi BRDM-1

BRDM-1 dirancang dengan beberapa versi, dari mulai versi standar hingga versi lanjutan yang mampu menggotong 3 sampai 6 rudal anti tank ‘Sagger’. BRDM-1 versi Indonesia adalah versi standar, dirancang untuk dipersenjatai senapan mesin kaliber sedang 7,62 mm atau senapan mesin berat Dshk kaliber 12,7 mm. Secara keseluruhan, versi BRDM-1 mencakup varian Command Vehicle, Radiological Chemical Reconnaissance Vehicle, dan BRDM-1 with Sagger.

Susunan ban yang unik menjadi ciri khas BRDM-1

BRDM-1 diawaki oleh empat orang, (driver, co-driver, gunner, dan komandan). Untuk melaju di lautan, panser ini dilengkapi penangkal gelombang yang bisa digerakan secara otomatis. Untuk melaju di air, panser ini dibekali baling-baling tunggal pada bagian belakang. Panser ini menggunakan mesin tipe GAZ-40PB dengan 6 silinder berbahan bakar bensin. Letak mesin berada di bagian depan.

BRDM-1 dengan rudal Snapper

Menurut sumber dari Wikipedia, Indonesia setidaknya pernah memiliki 10 unit BRDM-1 yang dipesan pada tahun 1962 dan tiba di Tanah Air pada tahun 1963. Populasi BRDM-1 di seluruh dunia diperkirakan lebih dari 10.000 unit, sebagian besar berada di negeri eks sekutu Uni Soviet. Saat ini diketahui salah satu unit BRDM-1 masih dirawat oleh Korps Marinir TNI-AL sebagai kendaraan non operasional. Sisanya, dua unit BRDM-1 bisa Anda lihat di depan gerbang Ksatrian Marinir di Cilandak. Ada lagi 1 unit BRDM-1 menjadi penghuni museum Satria Mandala di Jakarta. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Tampilan bagian belakang, memperlihatkan penutup baling-baling

Spesifikasi BRDM-1
Negara Pembuat : Uni Soviet
Produksi : 1957 – 1966
Berat : 5630 Kg
Panjang : 5,7 meter
Lebar : 2,25 meter
Tinggi : 2,9 meter
Kapasitas BBM : 150 liter
Jangkauan operasi : 750 Km (di darat)
120 Km (di Air)
Kecepatan maksimum : 90 Km/jam di darat
9 Km/jam di air

Alvis Saladin: Panser Yang Dipakai Jarang Dibuang Sayang

Saladin TNI-AD dalam kamuflase tempur

Selain punya panser lawas model Ferret dan Saracen, Kavaleri TNI-AD masih punya panser lain yang juga sama-sama berusia lanjut dan berasal dari satu pabrik, yakni panser berpenggerak roda 6×6 FV601 ”Saladin”. Trio panser, Ferret, Saracen, dan Saladin ketiganya merupakan asal pabrikan Alvis dari Inggris. Trio panser ini sama-sama didatangkan pada awal tahun 60-an. Bila Saracen populer sebagai APC (Armoured Personal Carrier) yang legendaris sebagai kendaraan pengusung peti jenazah Pahlawan Revolusi. Maka Saladin juga punya sisi fenomenal yang tak kalah serunya. (more…)

BTR-40 : Panser Yang Nyaris Jadi Besi Tua

BTR-40 hasil retrofit Bengkel Pusat Peralatan TNI-AD

Satu lagi inventaris alutsista TNI-AD yang berusia sepuh, yakni panser BTR (Bronetransporter)-40. BTR-40 bisa dikategorikan sebagai mesin perang satu angkatan dengan tank amfibi PT-76/BTR-50P buatan Rusia yang legendaris. Yakni sama-sama didatangkan pada awal tahun 1960-an. Meski menyandang ”gelar” BTR, panser ringan ini tidak mempunyai kemampuan amfibi. Pada masanya BTR-40 sangat diunggulkan sebagai kendaraan taktis berpenggerak roda 4×4.

Persiapan konvoi BTR-40 TNI-AD

Diperkirakan populasi BTR-40 di Indonesia mencapai 85 unit. Dan seperti halnya mesin perang ex Rusia, BTR-40 sempat terbengkalai dalam waktu lama akibat ketiadaan suku cadang. Bisa dikatakan sebagian panser ini telah menjadi besi tua. Sadar akan jumlahnya yang relatif banyak dan kualitas baja yang cukup baik. BTR-40 pada tahun 1995/1996 dicoba untuk ”dibangkitkan” dari ”kubur”. BTR-40 mengalami program retforofit besar-besaran. Utamanya mencakup penggantian mesin dari bensin ke diesel, perangkat komunikasi, rangka, persenjataan, dan masih banyak lainnya. Program retrofit BTR-40 dilakukan oleh Direktorat Peralatan Bengkel Pusat Peralatan TNI-AD. BTR-40 hasil retrofit pertama kali diperlihatkan ke publik pada pameran ABRI di tahun 1995.

Tapi perubahan yang cukup mudah dilihat adalah dilengkapinya BTR-40 hasil retrofit dengan atap model tetutup. Hal ini menjadikan personel dan awak panser terlindungi dari serangan peluru lawan. BTR-40 retrofit pun kini sudah dilengkapi air conditioner. BTR-40 dirancang dengan beragam versi, TNI-AD memiliki tipe APC (Armoured Personel Carrier) dengan bekal standar senapan mesin kaliber 7,62 atau 12 mm. Dengan desain persenjataan yang terbilang minim, akhirnya diputuskan sebagian BTR-40 disalurkan untuk satuan Brimob Polri. Di tangan Polri, justru BTR-40 banyak mengemban penugasan, contohnya keterlibatan BTR-40 dalam menumpas GPK GAM di Aceh.

BTR-40 Polri, dirancang untuk penangkal aksi huru hara
BTR-40 Retrofit Polri saat beroperasi di Aceh

Sejarah BTR-40
Pengembangan desain BTR-40 dimulai pada awal tahun 1947 oleh biro Gorkovsky Avtomobilny Zavod (GAZ). Rancang bangun BTR-40 didasarkan dari kendaraan truk tipe GAZ-63 4×4 yang berbobot 2 ton. BTR-40 sejak tahun 60-an hingga kini masih digunakan di banyak negara, terutama di negara-negara sahabat Rusia, seperti RRC, Vietnam, Korea Utara, eks Jerman Timur, Ukraina, Polandia, Yaman Utara, Cuba, dan Mesir. Bahkan Israel pun sempat memiliki BTR-40 hasil dari rampasan perang saat melawan Mesir.

BTR-40 versi awal milik pejuang Palestina
Beragam varian BTR-40

BTR-40 terbilang fleksibel untuk urusan persenjataan, selain versi APC, BTR-40 juga bisa disulap sebagai pengusung mortir dan dapat dipasangi kanon anti serangan udara tipe ZPTU twin gun kaliber 14,5 mm. Di lingkungan TNI-AD, BTR-40 ditempatkan sebagai komponen unit kavaleri di beberapa Kodam di luar pulau Jawa.

BTR-40 dengan kanon anti AA ZU23 kaliber 14,5mm

BTR-40 Retfofit TNI-AD/Polri
Tentu BTR-40 di era Sukarno berbeda dengan BTR-40 di era reformasi. Untuk urusan body memang tetap dipertahankan, tapi pada versi retrofit ditambahkan armoured steel plate armox 500S setebal 6 hingga 8 mm. Ini menjadikan BTR-40 punya atap, dan personil lebih terlindungi baik dari serangan lawan dan cuaca hujan/panas.

Rangka BTR-40 yang nyaris jadi besi tua
Proses retrofit di Bengkel Peralatan TNI-AD
BTR-40 Retrofit dengan senjatan GPMG 7,62 mm tanpa kubah

Dari sisi mesin, BTR-40 retrofit menggunakan dapur pacu Isuzu 4 BEI motor diesel dengan 4 silinder. Jumlah percepatan yakni 5 maju dan 1 mundur, tipe silinder Isuzu MSA 5G. Kecepatan maksimumnya 100 km/jam dengan jarak jelajah 660 Km. Bandingkan dengan BTR-40 versi jadoel, mesin menggunakan jenis GAZ-40 motor bensin dengan 6 silinder. Jumlah percepatan 4 maju dan 1 mundur, kecepatan maksimumnya hanya 80 Km/jam dengan jarak jelajah 288 Km. Jelas dari performa mesin, BTR-40 retrofit punya kinerja yang jauh lebih baik.

BTR-40 TNI-AD tanpa kubah

Bagaimana dengan persenjataan? Untuk versi kavaleri TNI-AD, BTR-40 dilengkapi variasi pilihan senjata, diantaranya pelontar granat otomatis AGL 40mm, senapan mesin berat kaliber 12,7 atau senapan mesin ringan kaliber 7,62 mm GPMG. Untuk menjamin keamanan awak penembak, BTR-40 dilengkapi kubah lapis baja yang dapat berputar kesegala arah. Bila panser terjebak di medan perang tak perlu khawatir, BTR-40 dibekali pelontar granat asap kaliber 66 mm sebanyak 8 tabung. Untuk keamanan pengemudi, BTR-40 punya kaca anti peluru dari jenis bullet protective glass setebal 62 mm dengan kemiringan 45 derajat.

Ruang kemudi BTR-40
BTR-40 milik AD Rusia

Bila BTR-40 jadoel tak dilengkapi alat komunikasi, BTR-40 retrofit sudah dibekali radio komunikasi tipe PRC 64. Sebagai kendaraan dengan kemampuan four wheel drive, BTR-40 sangat siap untuk terjun di medan off road. Kemampuan ini semakin afdol berkat penambahan alat pionir seperti kapak, skop, gergaji, dan kabel sling. Untuk jelajah off road, BTR-40 dibekali winch, pada versi jadoel winch digerakan secara mekanis pada gearbox dengan beban tarik 5 ton. Sedangkan pada BTR-40 retrofit, winch menggunakan jenis electronic ramsey model RE10.000 dengan beban tarik 4,5 ton. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi BTR-40 Retrofit
Panjang : 4,780 meter
Lebar : 1,880 meter
Tinggi : 2,695 meter (versi kanon dengan kubah)
Mesin : Isuzu 4 BE1 Diesel
Berat kosong : 4960 Kg
Berat tempur : 6000 Kg
Awak + personel : 10 orang
Radius putar : 6,7 meter
Kapasitas tanki : 110 liter
Kecepatan max : 100 Km/jam
Sumber listrik : Alternator 24 volt

Tactica: Panser Korban Tragedi Priok

Tragedi berdarah di Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara 14 April lalu membuat keprihatinan mendalam, ratusan orang mengalami luka berat/ringan dan ditambah tiga nyawa anggota Satpol PP melayang. Tapi korban kerusuhan di Koja tentu cukup luas, salah satunya terbukti puluhan kendaraan aparat dari Polri dan Satpol PP hancur dan dibakar massa. Dalam tiap kerusuhan yang melibatkan aparat vs warga, sudah umum terdengar kendaraan aparat dihancurkan massa. (more…)