Latest

Alvis Ferret: Panser Intai “Kostrad” dari Era 60-an

Ferret Kostrad TNI-AD

Dari beragam alutsista (alat utama sistem senjata) lawas milik TNI-AD, khusus di korps kavaleri, nama panser Ferret tentu harus diperhitungkan. Bersama dengan panser Saracen dan Saladin, Ferret didatangkan pada periode tahun 60-an. Bersama panser Saracen dan Saladin pula, Ferret turut menjadi saksi sejarah pergolakan saat revolusi di tahun 1965. Pada dasarnya Ferret dirancang sebagai kendaraan intai, kawal dan pemandu tempur tanpa kemampuan amfibi. Untuk itu Ferret dibuat dengan desain body yang mungil, tujuannya agara ”si Musang” ini dapat bergerak cepat dan lincah. (more…)

Unimog : Truk Off Road Andalan TNI

Unimog 4000

Unimog di kalangan militer dan penggemar off-road, amat kesohor. Truk serbabisa ini di negara asalnya, Jerman telah menjadi legenda hidup berkat kemampuannya yang luar biasa dalam mengatasi medan berat apa pun! Di reli Paris-Dakar, kebolehan truk ini pun teruji dan mampu lolos dari lautan pasir dan medan ekstrem. Tentara di Indonesiapun memakainya sebagai kendaraan taktis (rantis) yang cukup diandalkan untuk mendukung setiap operasi.

Kapan Unimog pertama kali masuk ke Indonesia? Menurut Hardi Wibowo, Manager Government Sales PT DaimlerChrysler, truk ini masuk tahun 1958 untuk keperluan kendaraan angkutan Bulog. Jumlahnya mencapai ratusan unit. Masuk lagi pada tahun 1976 untuk keperluan Departemen Hankam/ABRI.
Jumlah Unimog terbanyak didatangkan pada tahun 1981 yakni tipe U1300L sebanyak 200 unit. Tipe ini dipakai militer untuk kebutuhan penarik meriam (artileri). Sekitar 1990-an, tambah Hardi, datang lagi 40 unit tipe U1550L untuk kebutuhan Marinir.

U4000
Belum lama ini, Daimler-Chrysler, pembuat Unimog mendatangkan 1unit versi terbaru yakni U4000 dan truk Atego 1017 ke Indonesia. Semula kendaraan ini akan diikutsertakan dalam sebuah pameran pertahanan di Jakarta, namun karena acara tersebut diundur maka ketimbang dikembalikan ke Jerman dilakukanlah uji coba. Uji coba tersebut untuk memperoleh sertifikat kelayakan sebagai kendaraan taktis yang dilakukan oleh Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD.

Pengujian terhadap Atego 1017 sudah dilakukan sebelumnya, dan giliran U4000 baru direalisasikan pada 23 September sampai 5 Oktober lalu. Pada kesempatan itu SH turut menyaksikan proses uji coba kendaraan legendaris itu. Menurut Kolonel CZi Sugeng Hartono, selaku Kepala Pelaksana Kegiatan (Kalakgiat) Uji Coba, perjalanan yang ditempuh mencapai 4000 kilometer dengan start dari Bandung, dan melintas 3 provinsi yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tim uji coba yang terlibat sekitar 40 orang, ditambah masing-masing seorang pengamat dari kesatuan lain (Kostrad, Kopassus, dan Marinir). Yang menarik, uji coba dilaksanakan di banyak lokasi di sepanjang perjalanan. Pada titik-titik tertentu, lalu lintas dihentikan untuk menguji kemampuan Unimog. Contohnya ketika akan diuji melewati tanjakan sepanjang 4 kilometer. Jalur itu terpaksa dikosongkan dari kendaraan untuk menjaga keamanan. Setelah jalur steril, aba-aba diberikan dan Unimog dengan mulus melenggang naik.

Tanjakan Ciater tampaknya bukan apa-apa bagi U4000. Di sini dicatat waktu tempuh dan konsumsi BBM dalam jarak (tanjakan) tersebut.
“Ini barulah tanjakan pemanasan. Kalau tanjakan sebenarnya ada di Sarangan, Jawa Timur, yang akan dilewati juga. Di sana terdapat tanjakan dengan kemiringan 60 derajat, disertai banyak belokan tajam,” ujar Letkol CZi Setyo Budi, Ketua Tim Uji Lapangan.

Pada lintasan Bandung – Ciater – Tasik – Purwokerto, pengujian ditekankan pada daya jelajah di jalan raya, ketahanan gardan, konsumsi bahan bakar, daya suspensi, dan tanjak.

Uji serupa juga dilalukan pada rute Purwokerto – Salatiga- Sarangan. Hanya di sini ditambah dengan uji kemampuan maksimum dan penggunaan transmisi yang tampaknya berhasil dilewati oleh U4000. Padahal kondisi ban depan sebelah kanan ketika di Wates, tertancap sekrup. Sekrup tersebut oleh tim servis dibiarkan menancap bahkan diputar lebih dalam.

Unimog juga mampu dipasangi senjata pertahanan diri

Keunikan U4000 salah satunya, mampu memompa atau mengempeskan ban sendiri hanya lewat tombol berkat adanya Central Tyre Inflation System. Ban tubeless yang terkena sekrup jika kempes di perjalanan, maka pengemudi tinggal memencet tombol fungsi memompa. Tapi ini tidak dilakukan karena ban pacul Michelin yang dipakai, cukup kenyal dan tidak bocor setelah dicek dengan menyiramkan air pada sekrup yang tertancap itu.

Turunan Maut
Tanjakan dan turunan maut di Sarangan dianggap biasa-biasa saja bagi truk yang dijuluki “Badak Besi” ini. Sementara turunan ini membawa korban, jip yang ditumpangi SH bersama tim servis mengalami panas rem. Ketika sampai di Sarangan, barulah blong. Tikungan menurun dari arah Solo menuju Sarangan, memang bikin bulu kuduk berdiri. Apalagi ketika di lokasi ini, sudah malam. Konvoi kendaraan berjalan perlahan dan menjaga jarak aman.

Kekaguman para pengamat yang duduk di kabin terlontar atas unjuk kerja U4000. “Kendaraan ini lebih stabil, lembut, tapi powerfull, walau dibebani 2,5 ton semen,” ujar Kapten Jayus dari Kopassus. Sementara Kapten Mucklas dari Marinir juga mengomentari hal senada. Di kesatuannya memang ada 90 unit Unimog dari tipe U1300L.

Di lintasan Sarangan – Karang Ploso (Malang), pengujian “dag dig dug,” begitu istilah tim servis menyebutnya, dilakukan pada sistem parkir. Pada tanjakan dengan kemiringan 60 derajat, kendaraan ini berhenti menggunakan rem parkir selama beberapa saat untuk menguji kemampuan rem. Menurut penuturan tim penguji, pernah ada kendaraan yang melorot turun ketika diuji rem parkirnya di lokasi ini. “Tapi U4000 memang lain, oleh pembuatnya diciptakan khusus untuk hal-hal di luar dugaan,” tutur Lettu Johar Asmara, pengamat dari Kostrad.

Hal-hal di luar dugaan lain misalkan ketika mengurangi air radiator hingga 25 persen. Pengujian ini dilakukan pada lintasan Karang Ploso – Tulung Agung, setelah sebelumnya di Pusdik Arhanud, U4000 diuji menarik meriam seberat 2,5 ton. Di perjalanan dicatat sejauh mana kemampuannya dengan berkurangnya air pendingin dan pengaruhnya pada ketahanan mesin.

Tanjakan Simulasi
Yang menarik adalah ketika di Ambal, tempat laboratorium alam milik Dislitbang TNI AD, di Kebumen. Di sini terdapat medan simulasi berupa tanjakan, pasir, dan air. Pengemudi uji dari Dislitbang TNI AD, dalam uji tanjakan simulasi dan lintas air digantikan oleh Klaus Baeuerle, pengemudi dan teknisi spesialis Unimog yang didatangkan dari Jerman.

“Ini uji nyali, sebab posisi kendaraan nyaris tegak. Yang belum terbiasa melakukan harus tahu trik-trik dulu. Sebab U4000 diyakini mampu melibas medan yang lebih gila dari ini,” sambung Lettu Johar Asmara.

Usaha pertama Klaus gagal merayapi tanjakan tersebut. Baru pada usaha kedua, kendaraan tersebut merayap dengan mulus dan ini dilakukan berkali-kali. Begitu juga ketika U4000 menceburkan dirinya ke kolam lumpur, lancar-lancar saja.

Yang agak berat ketika dilakukan pengujian endurance 3 kali 24 jam. Artinya kendaraan tersebut tidak dimatikan mesin selama 3 hari 3 malam dan berjalan dengan kecepatan konstan. Inipun U4000 tidak mengalami persoalan.

Kendaraan ini pantas dijuluki “Badak Besi” karena melihat kekuatannya yang luar biasa. Tim penguji dalam memasuki minggu kedua, tampak sudah letoi, sementara U4000 kalau saja bisa berbicara akan mengatakan, “no problem” sembari tersenyum. (SH/gatot irawan)

Oto Melara 76 mm : Meriam Reaksi Cepat TNI-AL

KRI Karel Satsuit Tubun 356 – salah satu fregat kelas Van Spijk TNI-AL yang dibekali meriam Oto Melara

Meriam Oto Melara 76 mm terhitung sebagai meriam yang banyak di gunakan sebagai meriam utama di berbagai jenis pada kapal perang, meriam yang di produksi oleh perusahaan Otobreda Italia ini walaupun mempunyai kaliber yang tidak begitu besar namun bisa diandalkan, sehingga banyak dipercaya oleh produsen kapal perang di dunia untuk di pasang di atas kapal perang produksi mereka, mulai dari jenis kapal patroli, korvet hingga fregat. (more…)

F-5E Tiger II : Macan Angkasa Andalan Skadron 14

F5E (kursi tunggal) Tiger II - Skadron 14

Kamis pagi, 27 April 2000, dua F-5E Tiger TNI-AU segera mengudara setelah mendapat kode “scramble” dari menara pengawas. Dengan cepat kedua jet tempur itu melejit menuju area di sekitar pulau Roti, Timor Barat. Tak berapa lama, pada ketinggian 29 ribu kaki, mereka menemukan apa yang dicari, satu gugus terbang yang terdiri dari lima pesawat: Satu pesawat tanker udara, diikuti empat F/A-18 Hornett di belakangnya, milik angkatan udara Australia (RAAF) dari Skadron 75. Itu diketahui dari identitas di ekor pesawat.

Gugus terbang itu ditangkap satuan radar sejak berjarak 120 mil laut dari Kupang. Tak ada keterangan apapun mengenai gugus terbang itu, tak juga ada ijin melintas wilayah udara Indonesia yang diterima pihak Pangkalan Udara El Tari, Kupang. Karenanya, gugus terbang itu dianggap blackflight, penerbangan tak dikenal, dan harus dicegat. Untuk itulah dua jet tempur berjuluk “Tiger” ini diterbangkan.

Manuver 3 F-5E Tiger TNI-AU

Suasana sempat tegang, karena pilot Tiger tak bisa berkomunikasi lewat radio dengan pilot Hornett. Bukan tak mungkin itu akan memicu konflik. Kalau terpaksa harus duel, bagaimana jadinya dua Tiger yang kalah jumlah, harus menghadapi empat Hornett RAAF yang lebih canggih. Pada saat itu, kedua pilot Tiger TNI-AU mencoba mendekati Hornett sampai kontak visual bisa dilakukan.

Ketika itulah, pilot-pilot F-5E melihat pilot Hornett memberi isyarat mengangkat tangan, tanda mereka tak bersenjata. Dengan bahasa tarzan juga, pimpinan penerbangan Hornett, yang diketahui berangkat dari Lanud Tindall, Australia, memberi tahu mereka sudah mendapat clearance untuk lewat wilayah udara Indonesia. Tujuannya adalah Singapura. Suasana pun mencair, kedua belah pihak saling memberi hormat. Sesuai aturan internasional, kedua Tiger tetap mengawal gugus terbang RAAF itu, hingga masuk jalur internasional, menuju Paya Lebar, Singapura.

Deretan F-5E/F bersiaga di apron

Macan Kecil
Dua F-5E Tiger II yang menyergap rombongan Hornett tadi berasal dari Sakdron Udara 14, yang berpangkalan di Lanud Iswahyudi, Madiun. Mereka saat itu tengah ditempatkan di Kupang, untuk mendukung tugas patroli dan pengamanan wilayah udara Indonesia di kawasan Timur. Skadron Udara 14 mendapat 12 unit F-5E Tiger II yang berkursi tunggal, dan 4 F-5F berkursi ganda pada tahun 1980 silam, seiring dengan revitalisasi kekuatan udara Indonesia, yang sempat gembos pasca berakhirnya hubungan mesra dengan Soviet.

Jet-jet tempur berhidung lancip ini, sebenarnya lumayan populer dan banyak digunakan di negara-negara Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Terutama negara-negara sahabat AS. Karena memang, pesawat ini dilahirkan untuk memenuhi kebutuhan pesawat tempur negara-negara sekutu AS dalam NATO dan SEATO. Di tanah kelahirannya sendiri, jet buatan pabrikan Northrop ini malah tak begitu banyak digunakan.

F-5F (dua kursi/latih) Skadron 14

Northrop mendesain pesawat ini berdasarkan hasil studi kebutuhan militer di Eropa dan Asia. Dari studi itu, paling tidak adasejumlah faktor yang harus dipenuhi. Antara lain, pesawat tersebut harus cukup canggih dan tak ketinggalan jaman. Artinya, jet perang itu harus bisa terbang supersonik. Harus murah, dengan menimbang kemampuan keuangan negara-negara (calon) pemakai, yang sebagian besar perekonomiannya belum kuat. Mesti mudah pula dioperasikan dan mudah dirawat.

Pada 1955, Northrop mengajukan konsep jet tempur ringan modern ke pihak Angkatan Udara AS (USAF). Penempur supersonik itu, didesain sebagai jet tempur untuk serang darat (air to ground role), sebagai bagian dari misi penyerbuan. Murah harganya,mudah pengoperasiannya, mampu take-off dan landing di landasan pendek, serta mudah perawatan. Tapi USAF menolak proposal itu. USAF tak butuh burung besi seperti itu.

Visual kokpit F-5E Tiger II

Tujuh tahun kemudian, tahun 1962, jet tempur ringan ini barulah mendapat tempat. Departemen Pertahanan AS di bawah pemerintahan Presiden Kennedy, memilih pesawat ini untuk program MAP (Military Assistance Program), program bantuan militer AS kepada sekutu-sekutunya di NATO dan SEATO. Prototipe berkode N-156, yang terbang pertama kali pada July 1959 itu, mulai diproduksi pada tahun 1963. Northrop memberi nama penempur mungil yang lincah ini F-5A Freedom Fighter, si Pejuang Kebebasan. Versi tempat duduk ganda, yang berfungsi sebagai pesawat latih, diberi kode F-5B.

F-5E Tiger II TNI-AU dengan muatan bom dan rudal sidewinder di sayap

Bagian badan (fuselage) pesawat perang ini langsing, dengan hidung yang runcing panjang. Mirip dengan ikan todak. Bentang sayapnya yang pendek, nampak seperti tidak proporsional dengan bodynya yang panjang singset seperti itu. Namun jangan tanya soal kemampuan. Freedom Fighter bisa melejit dengan kecepatan 1,4 Mach di ketinggian 36 ribu kaki, berkat dorongan sepasang mesin J85-GE-13 Turbo Jet, buatan General Electric, mesin kecil berdaya dorong besar. Mampu mencapai ketinggian terbang 50.500 kaki. Mampu menjangkau jarak 1.387 mil dengan tanki penuh, sementara radius tempur dengan perlengkapan penuh, mencapai 195 mil. Atau dengan tanki penuh plus dua bom, mencapai 558 mil.

Jet supersonik mungil ini mampu bermanuver dengan lincah, bisa menggendong dua rudal udara ke udara AIM-9 Sidewinder di ujung sayapnya (wingtip). Lima cantelan di sayap dan badan, mampu menggendong beban 6200 pounds. Bisa berupa tangki cadangan, bom, misil udara ke darat, serta 20 roket. Di moncongnya yang mancung, dipasangi sepasang kanon 20 mm jenis M39 dengan 280 putaran. Tapi sebagai pesawat yang didesain untuk serang darat, kemampuan tarung udaranya (air to air) memang terbatas.

Senapan mesin kaliber 20 mm dengan penutup yang dibuka

Kehandalan jet yang sejatinya untuk negara-negara kelas dua itu, tak ayal menarik perhatian USAF juga. Pada 1965 mereka meminjam 12 unit Pejuang Kebebasan dari stok MAP, untuk uji coba di palagan Vietnam, yang menjadi kancah jet-jet buatan Rusia, semacam Mig-15, Mig-17, dan yang paling gres, Mig-21 unjuk kebolehan. Program itu diberi kode nama “Skoshi Tiger”, alias “Little Tiger” (macan kecil). Sejak itulah, F-5 mendapat julukan baru, Tiger, alias si macan. Kelak, nama itulah yang terus melekat, menggeser julukan Pejuang Kebebasan.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?feature=endscreen&v=UmPk_WzmcFw&NR=1]

Berbarengan dengan produksi F-5A/B untuk negara-negara pemesan, Northrop melakukan proyek peningkatan kemampuan si Macan Kecil. Airframe dimodifikasi, sehingga bagian fuselage menjadi lebih besar, sehingga tankinya juga bisa diperbesar. Dengan demikian, daya angkut bahan bakar juga lebih banyak, bisa terbang lebih lama dan lebih jauh. Dengan tanki serta dua rudal side wider di wingtip-nya, punya radius tempur 656 mil. Jarak jangkau maksimalnya menjadi 1.543 mil.

Bagian sayap juga dipermak, menjadi lebih besar, dan ditambahi sirip sayap (flap) yang bisa diatur dalam empat moda, yang membuatnya punya sudut serang (angle of attack) lebih baik, lebih lincah bermanuver, terutama pada kecepatan tinggi. Sepasang mesinnya ikut di-upgrade, dengan J85-GE-21 Turbojet yang lebih digdaya. Ini membuat Tiger baru ini mampu melesat dengan kecepatan maksimum 1,6 mach, atau 1,5 mach dengan ujung sayap (wingtip) dicanteli rudal AIM-9 Side Winder. Terbangnya juga lebih tinggi, mencapai 51.800 kaki. Sebagai perbandingan, jet baru yang diberi kode F-5A-21 ini punya kemampuan menanjak meningkat 23% lebih baik dibanding Tiger lama, kemampuan beloknya meningkat 17%, radius putar meningkat 39%.

Tak hanya airframe, jeroannya juga di-upgrade. Sisi avionik Hoffman Electronics AN/ARN-56 TACAN, Magnavox AN/ARC-50 UHF, AN/APX-72 IFF/SIF, automatic UHF DF, AN/AIC-18 intercom, SST-181 X-band Skyspot radar transponder, dan solid-state attitude and heading reference system terbaru. Perangkat radar dari Emerson Electric AN/APQ-159 berkemampuan mencium jejak musuh dalam jarak23 mil, juga menambah kesaktian Tiger baru ini. Untuk fire control, dipasanglah jendela bidik optikal AN/ASG-31 yang terintegrasi dengan radar penjejak.

Hasil pengembangan ini adalah, Tiger baru yang lebih sakti untuk tarung udara. Cocok digunakan untuk misi meraih keunggulan udara (air superiority). Northrop membaptis jet baru ini dengan kode F-5E Tiger II. Versi tempatduduk gandanya diberi kode F-5F. Pesawat inilah yang kemudian memenangkan tender dari USAF untuk program IFA (International Fighter Aircraft), pada tahun 1970. Mengalahkan pesaingnya dari Ling-Temco-Vought dengan V-1000, yang merupakan pengembangan dari F-8 Crusade, Lockeed dengan CL-1200 Lancer, yang dikembangkan dari F-104 Starfighter, serta McDonnel Douglas, yang mengajukan versi modifikasi Phantom. Proyek ini diadakan untuk mengantisipasi ancaman –pada era perang dingin—jet musuh, yang dalam andalan Soviet, Mig-21 Fishbed. Tiger II dianggap cocok untuk meladeni Fishbed, yang ketika itu berstatus jet tempur paling mutakhir milik blok Timur.

Seiring dengan mulai produksinya Tiger II, maka era Tiger I, si Macan Kecil pun berakhir sudah. Produksinya dihentikan pada tahun 1972. Sesuai tujuan penciptaannya, Tiger II mulai memperkuat kekuatan udara negara-negara sekutu AS. Beberapa negara memesan Tiger II dengan tambahan atau perubahan peralatan. Dan memang Northrop menyediakan opsi bagi pemesannya untuk membuat F-5E sesuai keinginan negara pemesan. Misalnya perangkat radio dan avionik yang lebih modern. Bisa pula dipesan dengan kelengkapan chaff/flare (pengalih rudal). Beberapa versi, dilengkapi dengan kemampuan pengisian BBM di udara, seperti F-5E yang dimiliki angkatan udara Singapura.

Bahkan, beberapa negara pemesan, seperti Iran dan Arab Saudi, menginginkan F-5E mereka didesain punya peran utama sebagai jet serang darat. Untuk keperluan itu, dibuat varian F-5E yang dilengkapi sistem LATAR (laser-augmented target acquisition and recognation) –sistem laser pemandu tembakan ke sasaran darat. Varian ini juga dibekali kemampuan menggendong AGM-65 Maverick, rudal udara ke darat.
Sejumlah F-5E juga dibuat di beberapa negara berdasarkan lisensi dari Northrop. Swiss memproduksi 90 unit, Korea Selatan membuat 68 unit, dan Taiwan memproduksi 380 unit. Northrop sendiri memproduksi 792 F-5E (kursi tunggal), 140 F-5F (kursi ganda), dan 12 RF-5E (versi pengintaian udara/recon).

Indonesia mendatangkan 12 F-5E dan 4 F-5F versi standar pada tahun 1980 silam, lewat program Foreign Military Sales (FMS). Penempur yang masih gres itu datang dari pabrik Northrop dalam bentuk terurai, dalam dua tahap. Tahap pertama pada bulan April dan tahap kedua pada bulan Juli. Perakitan dilakukan di hanggar Lanud Iswahyudi, Madiun, yang nantinya jadi markas kawanan Macan udara itu. Tiger II resmi digunakan pada Mei 1980, masuk Skadron Udara 14 Buru Sergap, di bawah Wing Operasional 300, menggantikan F-86 Avon Sabre, yang sudah uzur. Peresmiannya, ketika itu, dilakukan oleh Menhamkan Pangab Jenderal M. Yusuf.

Upgradable
Saat ini, banyak Tiger II yang sudah pensiun dari operasional. Namun, tetap banyak juga yang masih membelah langit. Maklum, meski sudah terbilang “tua”, jet tempur generasi ketiga ini biar bagaimanapun masih bisa diandalkan sebagai alat penjaga kedaulatan langit. Apalagi bila kemampuannya ditingkatkan (up-grade), serta peralatannya dimodernisasi. Seperti yang dilakukan Singapura, dengan memodernisasi dan mendesain ulang armada F-5E milik mereka, dengan radar baru FIAR Grifo-FX Band, buatan Galileo Avionica. Kokpit didesain ulang, menjadi lebih modern, dengan display multi fungsi, serta menambah kemampuan untuk menembakkan rudal udara ke udara AIM-120 AMRAAM dan Rafael Phyton, jenis rudal yang masuk kategori BVR (beyond visual range).

Thailand juga memodernisasi sejumlah F-5E mereka, yang dilakukan di Israel, sehingga bisa menggendong rudal Phyton III dan IV, diintegrasikan dengan helm DASH, sehingga pilotnya bisa mengunci sasaran hanya dengan menoleh ke arah sasaran. Upgrade yang dikerjakan oleh Israel ini, menghasilkan varian yang diberi nama F-5T Tigris. Varian ini tak memiliki kemampuan menembak misil BVR.

F-5E milik AU Kanada yang di upgrade menjadi CF-5E Tiger. CF-5 punya kemampuan isi ulang bahan bakar di udara.

Indonesia juga sebenarnya tak ketinggalan, dengan melakukan upgrade pada armada Tiger II Skadron 14 lewat program MACAN (Modernize of Avionics Capabilities for Armament & Navigation), yang dikerjakan perusahaan Belgia SABCA. Program yang dilakukan pada tahun 1995 ini, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan elektronik dan persenjataan, agar setidaknya kemampuan F-5E Tiger II bisa setara dengan kemampuan F-16 Fighting Falcon, jet tempur generasi empat yang masuk kekuatan udara Indonesia pada tahun 1989 silam.
Upgrade itu meliputi pemasangan GEC-Marconi Avionics HUD/WAC, dan Sky Guardian RWR. Sistem komputerisasi juga ditingkatkan dengan sistem air data computer mutakhir. Peningkatan dilakukan juga pada stores management system, HOTAS control, dan MIL-STD 155eB databus. Radar APG-69 (V) 3 yang sudah lawas, diganti dengan radar (V) 5 standar. Makanya, meski kalah mutakhir dari Hornett –yang notabene perancangannya banyak mengadopsi platform dari F-5E—Macan-macan udara dari Skadron 14 masih sanggup mengejar, dan menggertak Hornett Australia dalam insiden Pulau Roti. Macan Skadron 14 mampu membuktikan fungsinya sebagai skadron buru sergap.

Namun sekarang, dari 16 unit F-5E/F yang ada, lebih dari separuhnya tak bisa menjelajah langit, alias tak siap operasional. Seretnya suku cadang, minimnya anggaran (perawatan), ditambah dampak embargo senjata yang pernah diterapkan AS, membuat Macan-macan udara kita terpaksa lebih banyak ngendon di hanggarnya. Bahkan satu Tiger II, pernah bertahun-tahun tersandera di Amerika, dan baru bisa diambil pulang ketika embargo mulai dicabut. Pesawat itu tadinya dalam program perbaikan. Namun dengan adanya embargo senjata, AS tak mengijinkan pesawat itu diserahkan kembali ke Indonesia.

Kondisi ini memang sungguh memprihatikan. Mengingat kekuatan penuh macan-macan angkasa itu sebenarnya masih sangat diperlukan untuk menjaga kedaulatan langit Indonesia, yang sangat luas itu. (Aulia Hs)

Spesifikasi:
Awak: 1 (F-5E), 2 (F-5F)
Panjang: 47 ft 4¾ in (14.45 m)
Bentang sayap: 26 ft 8 in (8.13 m)
Luas sayap: 186 ft² (17.28 m²)
Tinggi: 13 ft 4½ in (4.08 m)
Berat Kosong: 9,558 lb (4,349 kg)
Max takeoff weight: 24,664 lb (11,187 kg)
Mesin: 2× General Electric J85-GE-21B turbojet
Daya dorong: 3,500 lbf (15.5 kN) per mesin.
Daya dorong dengan afterburner: Masing-masing 5,000 lbf (22.2 kN)
Kapasitas tangki internal: 677 US gal (2,563 L)
Kapasitas tangki eksternal: 275 US gal (1,040 L) per tanki, mampu membawa hingga 3 tanki

Performance
Kecepatan maksimum: 917 kn (1,060 mph, 1,700 km/jam, mach 1.6)
Jangkauan: 760 nmi (870 mi, 1,405 km)
Jangkauan maksimum: 2,010 nmi (2,310 mi, 3,700 km[40])
Ketinggian maksimum: 51,800 ft (15,800 m)
Kecepatan menanjak: 34,400 ft/min (175 m/detik)

Persenjataan:
Gun: 2× 20 mm (0.787 in) Pontiac M39A2 cannons in the nose, 280 rounds/gun
Hardpoints: 7 total (3× wet): 2× wing-tip AAM launch rails, 4× under-wing & 1× under-fuselage pylon stations holding up to 7,000 lb (3,200 kg) of payload.
Rockets:
2× LAU-61/LAU-68 rocket pods (each with 19× /7× Hydra 70 mm rockets, respectively); atau
2× LAU-5003 rocket pods (each with 19× CRV7 70 mm rockets); atau
2× LAU-10 rocket pods (each with 4× Zuni 127 mm rockets); atau
2× Matra rocket pods (each with 18× SNEB 68 mm rockets)

Rudal:
Air to Air:
4× AIM-9 Sidewinders atau
4× AIM-120 AMRAAMs
Udara ke darat:
2× AGM-65 Mavericks

Bombs:
Aneka bom udara-darat semacam bom tanpa pemandu Mark 80 series (termasuk 3 kg and 14 kg practice bombs), CBU-24/49/52/58 cluster bomb munitions, napalm bomb canisters dan M129 Leaflet bom.

Avionics
AN/APQ-153 radar pada F-5E generasi awal
AN/APQ-159 radar pada F-5E generasi akhir

Mistral: Andalan Pertahahan Udara Frigat dan Korvet TNI AL

Tetral tampak di atas ruang navigasi KRI Diponegoro 365
Tetral tampak di atas ruang navigasi KRI Diponegoro 365

Bila Arhanud TNI AD punya rudal Grom, maka TNI AL untuk memperkuat pertahanan pada armada frigatnya juga mengandalkan rudal SAM jenis Mistral. Antara Grom dan Mistral pun sejatinya punya banyak kesamaan, kedua rudal SAM ini masuk kategori SHORAD, rudal ringan untuk sasara jarak pendek. Lebih dari itu, Grom dan Mistral juga mengusung basis platform MANPADS (Man Portable Air Defence System), alias rudal yang pengoperasiannya bisa dilakukan dengan dipanggul oleh seoeang prajurit. (more…)

Yakhont : Rudal Jelajah Supersonic TNI-AL

Yakhont juga diproduksi secara lisensi oleh India, dengan nama Brahmos
Yakhont juga diproduksi secara lisensi oleh India, dengan nama Brahmos

Ada kabar gembira di tengah berita minimnya perkembangan persenjataan Indonesia. Pasalnya TNI-AL kini sudah membeli rudal supersonic terbaru untuk menambah kemampuan (fire power) pada kapal-kapal perang. Rudal tersebut adalah SS-N-26 Yakhont buatan Rusia. Rudal di mempunyai kode P-800/SSN-X-26. Beberapa kehandalan Yakhont yang tak dimiliki rudal anti permukaan TNI-AL sebelumnya adalah Yakhont mempunyai kecepatan maksimum hingga 2,5 Mach. Ditambah lagi Yakhont punya jangkauan tembak sangat jauh, tak tanggung-tanggung 300 Km. Dua kemampuan tadi yang hingga kini belum dimiliki jajaran rudal anti kapal TNI-AL. Seperti diketahui TNI-AL mempunyai rudal Exocet MM30/40, Harpoon dan C802. Tapi dibalik itu, Yakhont mempunyai bobot dan dimensi yang terbilang bongsor di kelasnya. Harga satu unit Yakhont ditaksir sekitar US$ 1,2 juta.

Untuk pertama kalinya pada hari Rabu, 20 April 2011, sebuah rudal Yakhont berhasil di ujicoba tembak oleh TNI AL di perairan Samudera Hindia. Lewat ujicoba ini akhirnya ditehaui penempatan Yakhont, yakni di jenis frigat TNI AL kelas Van Speijk buatan Belanda. Saat ujicoba 20 April, Yakhont diluncurkan dari KRI Oswal Siahaan (354). Dalam ujicoba, sasaran tembak Yakhont berada di lintas cakrawala, yakni menghantam target dengan jarak 135 mil laut atau sekitar 250 km. Target Yakhont adalah eks KRI Teluk Bayur (502), sebuah LST (landing ship tank) keluaran tahun 1942 yang dibuat di Amerika Serikat.

Menganut Konsep VLS
Inilah rudal permukaan pertama milik TNI, khususnya TNI AL yang meluncur secara VLR (vertical launching system), artinya saat rudal meluncur dari “sarangnya” dalam posisi tegak lurus. Beda dengan rudal-rudal yang sebelumnya, dimana model peluncuran rudal dengan konsep melintang, seperti Exocet dan C-802. Hal ini kabarnya dilakukan lantaran untuk menghemat ruang, ukuran Yakhont bisa dibilang super jumbo dan berat, jauh lebih besar dari rudal-rudal TNI AL yang ada saat ini. Bila dipaksakan dengan konsep meluncur melintang, bisa dipastikan frigat sekelas Van Speijk hanya akan mampu menggotong dua Yakhont.

Namun, berkat adopsi konsep VLS, setidaknya satu frigat Van Speijk bisa membawa 4 unit Yakhont. Adopsi peluncuran rudal secara VLS juga lumrah dilakukan oleh armada firigat/destroyer US Navy, khususnya saat meluncurkan rudal Tomahawk, sebuah rudal jelajah yang juga berukuran bongsor.

Proses loading Yakhont kedalam tabung peluncur VLS

Dengan sistem VLS, saat pertama kali meluncur, Yakhont dilontarkan ke udara dengan metode cold launch. Sesaat setelah rudal keluar dari tabung, motor roket menyala mendorong tubuh rudal berbobot 3 ton ini hingga ketinggian 200 meter. Kemudian roket kecil pada hidung rudal akan mengarahkan rudal ke sasaran. Gerakan Yakhont terbilang unik, setelah terbang ia akan menanjak hingga ketinggian 14-15 km, hal ini tergantung pula pada jarak sasaran, utamanya hal tersebut dilakukan bila sasaran berada pada jarak diatas 120 Km.

Kubah penutup rudal Yakhont

Fire Control System
Sebelum rudal bisa melesat ke sasaran, terlebih dahulu dilakukan berbagai persiapan, diantaranya mengecek gyro, speedlog, dan GPS. Kemudian memasuki tahap penembakkan, kru harus memasukan pengecekan FCS (fire control system) dan sistem pendukung pendinginan setelah rudal meluncur. Lalu tahap terakhir, data referensi posisi (lintang dan bujur) dimasukan ke dalam FCS, termasuk data kapal penembak berupa main error of ship position. Dalam uji coba, Yakhont berhasil mennghancurkan target KRI Teluk Bayur dengan jarak 250 Km.

Di udara rudal akan terbang dengan kecepatan 2,5 Mach. Rudal akan kembali turun hingga ketinggian 10-15 meter (sea skimming) di atas permukaan laut. Nah, saat rudal berjarak 50 Km dari sasaran, seeker radar akan bekerja untuk memilih sasaran yang ditentukan. Jika data benar, maka target akan di lock on. Hebatnya untuk mengindari jamming dari musuh, seeker pada kepala rudal tidak menyala terus-menerus, terkadang bisa mematikan diri agar tak terlacak lawan. Pada jarak 10 Km dari sasaran, rudal akan kembali mengambil data secara horizontal dan vertical. Data sasaran secara vertical kembali diambil ketika jarak sasaran tinggal 3 Km. Pada tahap terakhir rudal akan terbang pada ketinggian 5 meter diatas permukaan laut, dan rudal pun akan meluncur menghantam sasaran.

Keterbaatasan Elemen OTHT
Bila TNI AL sudah punya rudal jelajah canggih, sayangnya untuk elemen OTHT (Over The Horizon Target) masih belum memadai. TNI AL sampai saat ini belum mempunyai pesawat atau helikopter berkempuan OTHT. Alhasil untuk misi penembakkan Yakhont, untuk suplai data sasaran dilakukan lewat kapal selam, dalam hal ini KRI Cakra.

Tekait OTHT, beberapa tahun lalu sebenarnya TNI AL sempat berencana membeli helikopter NBO-105CB dengan kemampuan radar OTHT, sayang meski targetnya cuma beli 3 unit, pembelian itupun akhirnya tidak ada kabarnya lagi hingga saat ini. Padahal AL Mexico cukup sukses menggunakan jenis BO-105 OTHT. Sekilas mengenai BO-105 OTHT, bila sedianya jadi dimiliki TNI AL, helikopter ini akan memiliki radar berkekuatan 76 Nm (nautical mile), kemampuan ini semakin mumpuni karena dipasangnya ESM (electronic support measure). Hidungnya ditempeli nose radome yang dimuati radar ocean master buatan Thomson-CSF dari Perancis. Untuk misi intai taktis masih didukung avionik (HF hoaming, VOR, DME, RALT) dan perangkat sistem navigasi (radar pencari, IFF transponder, GPS, AHRS, dan SAS).

BO-105 dengan radar OTHT
BO-105 OTHT milik AL Mexico, selain diliengkapi OTHT juga dipersenjatai kanon Aden 20 mm
Proses peluncuran Yakhont dari KRI Oswald Siahaan
Posisi penutup tabung peluncur Yakhont di frigat Van Speijk TNI AL

Menurut informasi dari situs Kementrian Pertahanan RI, saat ini 16 KRI sudah dipasang rudal Yakhont, yaitu enam pada kapal jenis frigat dan 10 di kapal perang Korvet. Pemasangan dilakukan sepenuhnya oleh PT PAL Surabaya dengan dukungan tim ahli dari Rusia.

Dengan segala kelebihan dan kecanggihannya, Yakhont pastinya akan menjadi daya getar militer Indonesia meningkat. Apalagi disebut-sebut sampai saat ini belum ada satupun senjata anti rudal yang mampu menangkis serangan Yakhont. Rusia sendiri memang merancang rudal ini untuk membungkam sistem AEGIS dari AS. Terlebih sampai saat ini, baru Indonesia dan Vietnam, negara di luar Rusia yang menggunakan Yakhont, jelas menambah angker kekuatan laut kita. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Ciri khas Yakhont dilengkapi air intake mirip pesawat tempur MIG era masa lalu
Ciri khas Yakhont dilengkapi air intake mirip pesawat tempur MIG era masa lalu
Brahmos/Yakhont dalam sebuah parade militer di India
Brahmos/Yakhont dalam sebuah parade militer di India
Model truck pengangkut/pelontar Yakhont
Model truck pengangkut/pelontar Yakhont
Pola Penembakan Yakhont dari kapal perang
Pola Penembakan Yakhont dari kapal perang
Pola penembakan Yakhont dari daratan ke laut
Pola penembakan Yakhont dari daratan ke laut


Spesifikasi Yakhont

Negara Pembuat : Rusia
Pabrikan : Beriev
Jangkauan Tembak : 300 Km pada manuver jelajah tinggi
120 Km pada menuver jelajah rendah
Kecepatan : 2 – 2,5 Mach
Ketinggian Terbang : 5 – 15 meter (fase terakhir sebelum mengenai target)
Berat Bahan Peledak : 200 Kg
Pengarah Navigasi : aktif pasif radar seeker head
Jangkauan Tembak Minimum : 50 Km
Propulsi : solid propellant booster stage dan liquid propellant ramjet sustainre motor
Media Peluncuran : dari bawah air, kapal permukaan dan dari daratan
Berat : Rudal 3,000 Kg
Rudal plus kontainer 3,900 Kg

Alvis Saracen: Panser Sepuh dari Era Revolusi 1965

Saracen Kavaleri Kostrad TNI-AD

Bagi Anda yang telah menonton film “Pengkhianatan G 30S/PKI” tentu masih ingat akan sosok panser pengangkut personel Saracen. Panser dengan enam roda ini begitu kental sebagai ikon di film tersebut, dan memang pada faktanya panser Saracen buatan Alvis ini punya peran besar dalam masa revolusi tahun 1965. Saracen dikala itu masuk dalam unit batalyon kavaleri 7 yang berada dibawah komando Kodam V (sekarang Kodam Jayakarta), dimana tugasnya yakni melindungi keamanan Ibu kota. (more…)

KRI Arun 903 : Kapal Tanker Terbesar TNI-AL

10440816_527780214023989_5643671267186330195_n

Dalam sebuah misi tempur dan patroli jarak jauh sudah umum bila terdapat unit kapal tanker pada iringan konvoi. Keberadaan kapal tanker mutlak diperlukan sebagai elemen pendukung logistik dan bahan bakar untuk kapal perang lainnya, seperti korvet, fregat, LST (landing ship tank) dan kapal selam. Dengan adanya kapal tanker, menjadikan unsur kapal perang yang sedang melakukan operasi tidak perlu kembali ke pangkalan untuk pemenuhan kebutuhan logistik dan bahan bakar. (more…)

Mi-6 : Legenda Heli Raksasa TNI-AU

Foto Mi-6 milik TNI-AU
Foto Mi-6 milik TNI-AU

Banyak hal yang patut kita kagumi dari sosok angkatan perang Indonesia di era 60-an. Seperti kita sudah kenal keberadaan jet tempur Mig-21, rudal SA-2 dan KRI Irian. Tapi masih ada lagi artefak sejarah alat tempur yang rasanya patut kita ”banggakan”, khususnya dari TNI-AU (dulu AURI). Pasalnya skadron helikopter angkut berat TNI-AU di tahun 60-an memiliki jenis helikopter raksasa, Mi-6. Mi-6 adalah helikopter buatan Rusia yang diproduksi oleh biro Mil yang dipimpin oleh Mikhail L. Mil. Keluar pertama kali pada September 1957 dan merupakan helikopter yang terbesar di dunia, dan memecahkan berbagai rekor dunia. Rekor terbesar disandang sampai muncul penggantinya pada awal 1980-an, Mil Mi-26 Halo dengan pengecualian Mil Mi-12 Homer yang dianggap gagal dan tidak diproduksi massal.

Mi-6 di sebuah museum dirgantara Rusia
Mi-6 di sebuah museum dirgantara Rusia

Helikopter Mil Mi-6 adalah helikopter yang dirancang berdasarkan persyaratan teknis bersama antara biro militer dan sipil. Mereka menginginkan heli raksasa yang tidak hanya dapat menciptakan dimensi baru dalam mobilitas perang dengan kemampuan memindahkan kendaraan lapis baja ringan, namun juga dapat digunakan untuk kegiatan eksplorasi di wilayah-wilayah terpencil di Uni Soviet. Syarat lain, helikopter itu harus dapat mengangkut kargo dalam jumlah besar, sanggup dalam berbagai macam kondisi serta memiliki jarak terbang yang jauh.

Warna khas Mi-6 AD Uni Soviet
Warna khas Mi-6 AD Uni Soviet

Setelah dihitung, syarat tersebut dapat dicapai apabila heli tersebut menggunakan mesin turbin bertenaga besar, satu hal yang belum pernah dibuat pada helikopter Soviet sebelumnya. Mesinnya sendiri cukup menakjubkan, sebagai gambaran berat rotor (baling-baling) utama dan gearbox Soloviev R-7 mencapai 3200 kilogram yang berarti lebih berat dari berat kedua mesin turboshaft Soloviev D-25V. Sejak produksi yang ke-30 pada 1960, Mi-6 dipasangi variable-incidence wing. Sayap yang terletak dekat rotor utama itu, selain sebagai stabilisator juga berguna untuk menambah daya angkat pesawat.

Mi-6 benar-benar sosok helikopter yang sangar
Mi-6 benar-benar sosok helikopter yang sangar

Saat terbang kecepatan jelajah, sayap itu menanggung 20 persen beban helikopter. Dengan begitu, Mi-6 dapat melakukan rolling take-off (lepas landas dengan meluncur seperti halnya pesawat biasa) dengan berat yang lebih besar dibandingkan dengan vertical take-off (lepas landas secara vertikal yang dilakukan helikopter pada umumnya). Menurut Chris Chant dalam buku Military Aircraft of the World, merupakan hal yang luar biasa. Helikopter ini terbang pertama pada akhir 1957 dengan pilot R.I Kaprelyan.

Rekor yang dicapai
Berbagai rekor dunia dicapai oleh helikopter ini yakni rekor dunia helikpter untuk kecepatan daya angkat, dengan rekor kecepatan 300 km/jam (180 mph) dipecahkan dan atas prestasi itu, Mi-6 memperoleh penghargaan Igor Sikorsky International Trophy pada tahun 1961. Tiga tahun kemudian, dalam sirkuit tertutup 100 km, Mi-6, kembali memecahkan rekor kecepatan 340 km/jam (211 mph), satu rekor yang bertahan hingga tahun 1989.

Mi-6 tampak menggotong tower Sutet
Mi-6 tampak menggotong tower Sutet

Teknis, daya angkut dan versi yang dibuat
Helikopter ini memiliki daya angkut internal normal 12 ton, atau 9 ton eksternal. Dengan daya angkutnya yang besar sangat disukai oleh pihak militer. Pada Pameran kedirgantaraan Tushino 1961, enam Mi-6 mendarat dalam dua kelompok : satu kelompok membawa sepasang rudal artileri lengkap dengan transporter, sementara kelompok lain membawa personel dan perlengkapan. Seperti seri pendahulunya yakni Mil Mi-4, maka Mil-6 juga memiliki pintu kerang (clamshell door) di belakang kabin guna memudahkan keluar-masuknya kendaraan lapis baja ringan. Untuk versi sipil, Biro Mil mengeluarkan versi Mil Mi-6P. Cirinya ada jendela lebih besar namun tidak memiliki pintu kerang. Versi lainnya adalah versi flying-crane helicopter dan heli pemadam kebakaran.

Heli Chinook juga bisa digotong oleh Mi-6
Heli Chinook juga bisa digotong oleh Mi-6

Helikopter Mi-6 dikembangkan hingga keluar Mil Mi-10 Harke yang lebih besar. Tapi keduanya tidak digunakan secara luas dijajaran angkatan bersenjata Uni Soviet. Tidak seperti versi berikutnya Mil Mi-8 Hip yang memiliki populasi lebih dari 10.000 dan terus diproduksi dan dikembangkan hingga kini yang dilanjutkan dengan Mi-17 yang merupakan pengembangan Mi-8, Mi-6 hanya diproduksi 1000 unit saja hingga pertengahan 1980-an. Produksinya yang rendah, kemungkinan karena helikopter bertubuh besar itu dianggap rentan dalam peperangan. Namun demikian Mil Mi-6 memiliki pengalaman perang, diantaranya pernah mengangkut senjata-senjata berat berat ke sejumlah negara-negara Afrika dukungan Uni Soviet pada 1978.Hingga kini masih banyak Mi-6 yang digunakan Rusia dan negara-negara bekas Uni Soviet lainnya.

Ruang kargo Mi-6 dapat memuat truck sampai tank ringan
Ruang kargo Mi-6 dapat memuat truck sampai tank ringan

Data teknis Mil Mi-6 Hook
– Jenis : Helikopter transpor (angkut) berat

– Dimensi : Diameter rotor utama 35 m; panjang badan 33,18 m; panjang dengan rotor 41,74 m; tinggi 9,86 meter; berat kosong 27.240 kg; kecepatan maks. 300 km/jam; kecepatan jelajah maks. 250 km/jam; tinggi terbang maks. 4.500m; jarak jangkau dengan muatan setengah daya angkut maks. 650 km dan daya angkut maks. 42.500 kg

– Mesin : Dua mesin turboshaft Soloviev D-25V (TB-2BM masing-masing 5.500 hp (daya kuda)

– Awak : 11 orang terdiri atas pilot, dua orang ko-pilot, juru mesin udara (JMU), telegrafis, navigator, loadmaster, pembantu letnan udara dan sisanya adalah pembantu JMU. Dapat mengangkut 61 pasukan bersenjata lengkap.

– Senjata : Umumnya tidak dilengkapi senjata, namun helikopter ini sering dilihat dengan kanon 20 mm di hidung pesawat.

Dengan diameter rotor yang mencapai 35 m dengan berat 650 kg, dapat dinaiki manusia hingga teknisi dapat mengecek dengan berjalan diatas rotor hingga bagian tengahnya. Namun ciri khas pesawat buatan Uni Soviet adalah fungsi dan peralatan lebih diutamakan dibandingkan faktor lain seperti kenyamanan awak pesawat. Diantaranya kesediaan safety-belt (sabuk pengaman) yang hanya satu untuk empat penumpang. Mesin yang cukup besar menghasilkan goyangan dan suara yang cukup bising namun tidak dilengkapi peredam suara sehingga para penumpang dan awak melengkapi dirinya dengan pelindung pendengaran yang dibawanya sendiri, umumnya memakai kapas ditelinga.

Tampilan 3 dimensi Mi-6
Tampilan 3 dimensi Mi-6

Mil Mi-6 yang dioperasikan TNI-AU
Menjelang Operasi Trikora, pada awal 1960-an Indonesia membeli berbagai perlengkapan militer dari Uni Soviet. Namun beberapa diantaranya tiba setelah Trikora selesai. Termasuk diantaranya adalah helikopter Mil Mi-6 Hook pesanan Indonesia yang dibeli sembilan unit yang dioperasikan oleh TNI-AU (dulu AURI, Angkatan Udara Republik Indonesia). Pesawat itu diberi nomor registrasi H 270- H278. Beberapa publikasi asing menyebutnya enam unit helikopter.

Perbandingan besar sebuah sedan dan heli Mi-6
Perbandingan besar sebuah sedan dan heli Mi-6

Helikopter Mi-6 Hook sendiri bukanlah pilihan utama TNI-AU yang sangat menginginkan Sikorsy S-61 Sea King terutama versi S-64 Tarhe yang termasuk flying-crane helicopter. Namun karena alasan ekonomi dan terutama politik, tentu tidak bisa didapatkan sehingga apa yang bisa diambil dari Uni Soviet, itulah yang digunakan.

Sebelum menerbangkan Mi-6, para pilot TNI-AU berlatih dengan helikopter Mi-4 yang sudah dimiliki di Pangkalan Udara (Lanud) Atang Senjaya di Semplak, Bogor. Awal 1965, 22 personel TNI-AU dikirim ke Uni Soviet yang terdiri atas enam pilot, satu navigator dan sisanya teknisi. Disana mereka dilatih di Akademi AU Soviet di Frunze, ibukota Kirghyzstan.

Pendidikan diselesaikan dalam enam bulan dan pada Juni 1964 mereka kembali ke Indonesia, sedangkan helikopternya dikapalkan dari Sevastopol di Laut Hitam dan dibongkar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pada tahun yang sama. Komponen Helikopter dirakit di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma oleh teknisi-teknisi Uni Soviet. Helikopter pertama Indonesia diterbangkan pada 1 Oktober 1964. Selanjutnya dimasukan ke jajaran Skadron 8 Wing 4 Lanud Atang Senjaya, Bogor.

Tampilan belakang heli Mi-6
Tampilan belakang heli Mi-6

Helikopter itu kemudian dilibatkan dalam operasi-operasi selama periode Konfrontasi dengan Malaysia (Dwikora) dan penumpasan kelompok pemberontakan Paraku di Kalimantan Barat dengan fungsi sebagai transpor dan dukungan logistik. Berbeda dengan perlengkapan militer buatan Uni Soviet yang dioperasikan Indonesia pada masa-masa Trikora dan Dwikora, helikopter ini tidak menimbulkan kekhawatiran di sejumlah negara tetangga. Selain karena helikopter transport, juga sepertnya negara tetangga mengetahui kelemahan helikopter ini.

Menurut kesaksian para pilot yang pernah mengoperasikan helikopter Mil Mi-6 Hook ini, banyak kelemahan teknis yang tidak sesuai dengan yang ditawarkan Uni Soviet seperti kecepatan jelajah yang hanya menjapai 170-175 km/jam, tidak sampai 200 km/jam. Jarak terbangnya yang pendek karena bahan bakarnya hanya cukup untuk 2 jam terbang sehingga kalau pergi ke suatu tempat harus dapat mendarat karena tidak mungkin kembali. Terbang jelajah yang pernah diperoleh maksimum adalah 2 jam 54 menit yakni dari Lanud Husein Sastranegara, Bandung hingga Tanjung Perak di Surabaya, itupun dengan muatan yang tidak terlalu penuh.

Mi-6 Rusia dalam warna merah putih, seharusnya Mi-6 bisa dijadikan monumen di Tanah Air
Mi-6 Rusia dalam warna merah putih, seharusnya Mi-6 bisa dijadikan monumen di Tanah Air

Kemudian dari daya angkut, ternyata tidak sesuai dengan yang ditawarkan. Dengan berat kosong heli 27,5 ton dan berat maksimum take off 42 ton, selisih diantaranya sebagian dipakai untuk berat awak pesawat dan bahan bakar yang mencapai sepulu ribu liter. Sebagai akibatnya, perbandingan berat operasional dengan berat maksimum untuk lepas landas sangat kecil, daya angkut efektifnya hanya 4,2 hingga 4,5 ton saja.Kelemahan lain adalah bila mendaratnya tidak tepat berakibat bantalan udara (ground cushion) sukar diperoleh, namun jika terlalu tinggi, putaran rotor ekor tidak dapat mengimbangi putaran rotor utama.

Namun demikian helikopter ini memiliki kelebihan yakni bisa digunakan untuk segala medan. Ketika TNI-AU akan menggunakan helikopter mengangkut barang-barang dengan rute Medan-Cot Girek di Aceh, terlebih dahulu diuji dengan menerbangi rute Bandung-Pengalengan dengan mengangkut barang. Ketika cuaca buruk menghadang, helikopter mendarat darurat yang ternyata bukan kebin kentang yang diperkirakan pilot, tetapi di dasar jurang dengan permukaan tidak rata.

Disinilah konstruksi helikopter Mi-6 teruji sekalipun tanah di kaki roda kiri dan kanan tidak rata, karena sistem keseimbangannya bagus sekali. Helikopter tersebut akhirnya berhasil diterbangkan keluar lembah setelah muatannya dikurangi.

Helikopter ini tidak lama berdinas aktif dalam armada AURI (TNI-AU), sekitar 1965-1968. Sebagaimana banyak peralatan militer buatan Uni Soviet yang lain, setelah peristiwa G30S/PKI banyak yang tidak dioperasikan lagi dengan alasan kekurangan suku cadang. Helikopter yang terakhir terbang adalah helikopter berseri H-277.

Lebih disayangkan lagi karena tidak ada satupun helikopter Mi-6 Hook yang dijadikan museum atau monumen. Padahal heli Mi-4 yang lebih kecil dapat dijadikan monumen di museum Satria Mandala. Semua M-6 dibesituakan, padahal menurut pilot yang pernah menerbangkannya, kondisinya sebenarnya masih bagus, diantaranya pada badan utama (body/airframe) pesawat yang logamnya mengandung timah hitam sehingga tahan karat sehingga bila diusahakan, helikopter ini sebenarnya masih dapat dioperasikan. (Dikutip dari Wikipedia dan Angkasa)