Shahed Drone SeriesKlik di Atas

NATO Retak: Spanyol dan Inggris “Membangkang”, Donald Trump Berang atas Sikap Sekutu Terkait Iran

Gedung Putih kembali memanas setelah dua sekutu paling strategis Amerika Serikat di Eropa, Spanyol dan Inggris, secara terbuka menyatakan penolakan untuk terlibat dalam operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran. Keputusan ini memicu kemarahan Presiden Donald Trump, yang menilai sikap kedua negara tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap komitmen pertahanan kolektif NATO di tengah eskalasi konflik Samudra Hindia dan Timur Tengah yang kian meruncing.

Baca juga: Spanyol Lirik KAAN: Lagi-lagi Terganjal Isu Mesin Buatan AS

Kemarahan Trump meledak setelah Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, dan Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, mengeluarkan pernyataan bersama yang menekankan bahwa negara mereka tidak akan memberikan dukungan logistik. Bagi Starmer, stabilitas harga energi di dalam negeri adalah prioritas, sementara bagi Sánchez, menjaga kedaulatan wilayah Spanyol dari penggunaan pangkalan militer untuk serangan ofensif adalah harga mati.

Spanyol: Menutup Pintu Rota dan Morón
Kebijakan Spanyol menjadi pukulan pertama yang sangat telak bagi perencanaan militer Pentagon. Pemerintah Spanyol secara resmi mengumumkan penutupan izin penggunaan pangkalan militer strategis di Rota dan Morón untuk misi yang berkaitan dengan serangan ke Iran.

Pangkalan ini sejatinya adalah urat nadi logistik bagi armada AS yang bergerak dari Atlantik menuju Mediterania dan Samudra Hindia. Spanyol berargumen bahwa keterlibatan dalam serangan tersebut hanya akan memicu gelombang pengungsi baru menuju Eropa Selatan dan meningkatkan risiko serangan teror di dalam negeri mereka.

Sikap Keras Spanyol di Krisis Gaza: Larang Transit Pesawat dan Kapal Militer AS Pembawa Senjata ke Israel

Selain pembatasan akses pangkalan, Madrid juga menarik kapal fregat mereka yang sedianya bergabung dalam gugus tugas NATO di wilayah tersebut. Spanyol menegaskan bahwa solusi diplomatik melalui jalur Uni Eropa adalah satu-satunya cara untuk meredam konflik, sebuah posisi yang secara terang-terangan disebut Donald Trump sebagai sikap “lemah dan tidak setia” terhadap aliansi yang telah melindungi Eropa selama puluhan tahun.

Inggris: Pergeseran Tak Terduga di Downing Street
Yang paling mengejutkan bagi Washington adalah pembangkangan dari London. Inggris, yang secara historis merupakan mitra tempur paling setia AS, kali ini memilih jalan berbeda. Downing Street menginstruksikan Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) untuk hanya fokus pada perlindungan kapal dagang di Selat Hormuz dan menolak perintah untuk bergabung dalam operasi pengeboman udara atau serangan rudal ke fasilitas nuklir dan militer Iran.

Inggris Percepat Pengembangan Rudal Jelajah Hipersonik dengan Target Operasional di Tahun 2030

Kebijakan Inggris ini didasari oleh kekhawatiran mendalam akan stabilitas energi global. Inggris menyadari bahwa serangan langsung ke daratan Iran akan memicu penutupan total Selat Hormuz oleh Teheran, yang akan berakibat pada meroketnya harga minyak dan gas di pasar domestik Inggris yang saat ini sedang dalam pemulihan ekonomi.

Dengan menolak perintah Trump, London ingin memposisikan diri sebagai mediator yang tetap menjaga komunikasi dengan pihak-pihak di kawasan, sebuah langkah yang disebut Trump sebagai pengkhianatan terhadap “Special Relationship” yang selama ini menjadi fondasi hubungan kedua negara.

Terungkap! Ini Dia Alasan AS Ingin ‘Akuisisi’ Greenland

Ketegangan ini mengancam keutuhan NATO secara keseluruhan. Trump melalui media sosial dan pernyataan resminya telah memberikan sinyal bahwa AS mungkin akan meninjau ulang komitmen keamanannya terhadap negara-negara yang “setengah hati” dalam mendukung kepentingan strategis AS.

Di sisi lain, sikap berani Spanyol dan Inggris ini mulai diikuti oleh beberapa negara Eropa lainnya yang juga merasa jenuh dengan keterlibatan dalam konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Krisis kepercayaan ini menunjukkan bahwa di tahun 2026, peta kekuatan dunia tidak lagi hitam-putih. Sekutu AS kini lebih berani menghitung untung-rugi nasional mereka sendiri dibandingkan sekadar mengikuti komando Washington. Dunia kini menanti, apakah kemarahan Trump akan berujung pada sanksi ekonomi terhadap sekutunya sendiri, atau justru memaksa Gedung Putih untuk kembali ke meja perundingan guna menghindari perpecahan total di tubuh NATO. (Gilang Perdana)

Khawatir Atas Kebijakan Donald Trump, Portugal Singkirkan Opsi Pembelian Jet Tempur F-35 Lightning II

6 Comments