Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Modernisasi Alutsista Besar-besaran, Indonesia Jadi Importir Senjata Terbesar di Asia Tenggara

Di tengah dunia yang masih dibayangi perang dan ketegangan geopolitik yang tak menentu, Indonesia kini resmi menjadi negara pengimpor senjata terbesar di Asia Tenggara.

Baca juga: Jerman Salip Cina: Kini Jadi Eksportir Senjata Terbesar Keempat di Dunia

Melansir laporan terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Indonesia kini menempati posisi ke-18 sebagai importir senjata terbesar di dunia pada periode 2021-2025, dengan pangsa 1,5% dari total impor senjata global. Meskipun angka ini sedikit turun dibandingkan periode 2016-2020 yang sebesar 1,7%—dengan penurunan volume sekitar 4,1%—posisi Indonesia tetap tak tergoyahkan sebagai kekuatan utama di tingkat regional.

Jika menilik perbandingan di Asia Tenggara dalam laporan SIPRI tersebut, posisi Indonesia tampak sangat dominan dibanding negara tetangga. Indonesia tercatat sebagai importir senjata terbesar di Asia Tenggara pada periode 2021-2025, mengungguli negara-negara tetangga yang biasanya menjadi pemain kunci. Filipina menyusul di posisi kedua dengan pangsa impor senjata sebesar 1,2%, diikuti oleh Singapura sebesar 1,1%, dan Thailand yang hanya mencatatkan 0,5%.

Kontras tersebut memperlihatkan bahwa sementara Singapura mulai menunjukkan kurva belanja yang melandai dan Thailand terjebak dalam perlambatan pengadaan akibat keterbatasan ruang fiskal, Indonesia justru melesat maju untuk memperlebar celah kekuatan (capability gap) di kawasan.

Dassault Aviation Umumkan Aktivasi Kontrak Tahap Ketiga (18 Unit) Rafale Pesanan Indonesia, Total 42 Unit Telah Masuk ke Backlog

Keberanian Indonesia dalam menggelontorkan anggaran ini diikuti dengan dinamika pemilihan pemasok yang menarik. SIPRI mencatat bahwa dalam periode 2021-2025, Italia secara mengejutkan muncul sebagai sumber impor senjata terbesar bagi Indonesia dengan porsi mencapai 40% dari total impor.

Komposisi itu menunjukkan bahwa pengadaan alutsista Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sangat bertumpu pada negara-negara Barat, di mana teknologi Italia, Perancis, dan Amerika Serikat menjadi tulang punggung baru bagi kekuatan tempur nasional. Strategi ini mencerminkan langkah pragmatis Jakarta untuk memastikan TNI mendapatkan teknologi terbaik yang mampu mengimbangi kecanggihan alutsista di kancah global.

Kemhan Singapura Genjot Anggaran di Tahun 2025, “Tambah Dua Unit Kapal Selam dan Evaluasi P-8A Poseidon”

Namun, di tengah gegap gempita kedatangan alutsista baru, industri pertahanan dalam negeri berdiri di persimpangan jalan. Belanja impor yang sangat masif bak pedang bermata dua, memperkuat otot militer dalam sekejap, namun berisiko melumpuhkan kemandirian jika tidak dikelola dengan hati-hati.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa tanpa komitmen transfer teknologi yang radikal, industri lokal terancam hanya akan menjadi “tukang servis” alutsista asing. Ketergantungan kronis pada suku cadang dan lisensi luar negeri—terutama dari blok Barat yang kini mendominasi 40% lebih pasokan kita—dapat menjadi titik lemah yang mematikan bagi kedaulatan Indonesia jika sewaktu-waktu terjadi krisis geopolitik global. (Gilang Perdana)

Kurangi Ketergantungan Impor, BUMN dan BUMS Sinergi Wujudkan Kemandirian Industri Pertahanan Nasional

4 Comments