Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Misterius! Benarkah Indonesia Miliki Howitzer Tarik M-56 105mm?

Belum lama ini situs janes.com (2/7) mewartakan bahwa Yugoimport SDPR, manufaktur persenjataan asal Serbia kembali memproduksi howitzer tarik (towed howtizer) tipe M-56 105 mm dengan laras 33-calibre. Kembali diproduksinya M-56 lantaran adanya pesanan ekspor 36 pucuk M-56 untuk suatu negara yang dirahasiakan identitasnya. Yang menjadi menarik dari berita itu adalah adanya nama Indonesia yang juga disebut-sebut.

Baca juga: M2A2 105mm –  Howitzer Tua Yon Armed TNI AD

Berita tadi menyebutkan bahwa di masa lalu, howitzer M56 pernah di ekspor Serbia ke Siprus, El Salvador, Guatemala, Indonesia, Meksiko, dan Myanmar, setelah itu produksi M-56 tak berlanjut. Dari penelurusan, munculnya nama Indonesia sebagai pengguna M-56 berasal dari sumber Jane’s Armour and Artillery (19 ed.) yang dirangkum penulis senior pertahanan asal Inggris, Christopher F Foss. Lebih detai disebut Indonesia menerima M-56 pada tahun 1998 sebanyak 10 pucuk.

Dilihat dari segi jumlah, 10 pucuk artinya hanya diproyeksi memperkuat satu baterai (9 pucuk) yang mungkin sisanya sebagai cadangan atau untuk keperluan latih. Namun yang menjadi pertanyaan netizen adalah, apakah benar howitzer buatan Serbia tersebut memang benar-benar telah memperkuat arsenal alutsista TNI?

Bila merunut ke operator, maka untuk howitzer 105 mm maka ada dua kemungkinan pengggunanya, antara Artileri Medan Korps Marinir atau Artileri Medan TNI AD. Ini yang menarik, pasalnya sampai saat ini belum permah terdengar kedua elemen kekuatan artileri TNI tersebut pernah mengoperasikan howitzer M56. Pun dari penelusuran ke SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute) Arms Transfers Database, tidak ditemukan informasi akuisisi M-56 untuk Indonesia.

Mungkinkah Christopher F Foss salah menginput data? ataukah M-56 memang benar-benar ada di Indonesia namun tak terendus keberadaannya? Jawaban ini yang masih perlu ditunggu kelanjutannya. Lepas dari itu, seperti apakah sosok howtizer M-56?

Dikembangakan oleh Military Technical Institute Belgrade, M-56 sejatinya sudah dirilis sejak tahun 1956. Basis rancangan M-56 sendiri mencomot desain howitzer legendaris M2A2 105 mm yang juga digunakan Armed TNI AD, hanya saja M-56 punya laras lebih panjang dari M2A2 dan telah dilengkapi muzzle brake untuk meminimalisir efek recoil.

Dengan awak 7 personel, M56 tergolong senjata yang laris dengan terjual lebih dari 1.500 unit. Seperti pada seri M-56A1, larasnya dirancang untuk meladeni 18.000 kali tembakan. Sebagai howitzer tarik, M-56 sudah dilengkapi hydro-pneumatic balance untuk mendukung tembakan sampai jarak 18 km.

Dalam aspek persenjataan artileri, Indonesia punya pegalaman panjang menggunakan alutsista buatan Serbia (d/h Yugosloavia), yang dimaksud adalah meriam gunung M-48 kaliber 76 mm. Meriam mungil ini sudah memperkuat armed TNI AD sekitar 5 dekade, dan hebatnya masih terus digunakan hingga kini.

Baca juga: Pensiunkan Meriam Gunung 76mm, Armed TNI AD Siapkan Kedatangan Howitzer LG-1 105mm

Sementara tentang Yugoimport, manufaktur ini pada tahun 2016 sempat menawarkan Nora B52 155mm, Self Propelled Howitzer kepada Armed TNI AD. Yugoimport sendiri namanya tak asing sebagai rekanan TNI, manufaktur yang pernah hadir di Indo Defence ini beberapa kali ikut memasok beberapa jenis munisi untuk senjata artileri TNI. (Haryo Adjie)

Spesifikasi M56A1 105mm:
– Berat: 2.370 kg
– Jarak tembak minimal: 2.000 meter
– Jarak tembak maksimum: 18.500 meter
– Muzzle brake: Double
– Frequency of fire: 6-8round/min
– Panjang laras: 3.500 mm

19 Comments