Misi Bantuan Kemanusiaan ke Gaza, Ini Persiapan Pembangunan Dermaga Apung Garapan Angkatan Darat AS

Personel Angkatan Darat AS mempersiapkan modular causeway untuk dimuat ke kapal MV Roy A. Benavidez pada 15 Maret 2024. (Foto USNI News)

Meski mengundang kontroversi, Presiden Amerika Serikat Joe Biden tetap kepada keputusan, yakni selain menyalurkan bantuan lewat udara (airdrop), maka AS juga akan membangun dermaga apung (floating dock) untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar ke wilayah Gaza. Disebut kontroversi, lantaran AS terus memasok senjata ke Israel, sementara butuh waktu lama untuk persiapan serta pembangunan dermaga apung, di tengah ratusan ribu warga Gaza yang mengalami kelaparan.

Baca juga: Angkatan Laut Turki Kini Punya Floating Dock Khusus Kapal Selam

Dikutip dari US Naval Insititue (USNI) News (18/3/2024), dua minggu setelah Joe Biden memerintahkan Pentagon untuk membangun dermaga untuk mengangkut bantuan kemanusiaan ke penduduk Gaza yang dilanda perang, bongkahan baja yang akan menjadi jalur penyelamat yang dijanjikan telah berkumpul di Newport News, Virginia.

Para personel dari Zeni Angkatan Darat, Angkatan Laut AS, dan sipil kini berkumpul di Newport News Marine Terminals di Pelabuhan Virginia, bekerja 24 jam sehari. Mereka memuat potongan-potongan jalan lintas modular (modular causeway) sepanjang 28,9 km dan peralatan lainnya yang akan membangun dermaga ke Gaza dan dermaga apung dua mil (3,2 km) dari lepas pantai.

Specialized Army craft memindahkan potongan-potongan dermaga apung.

Berdasarkan rencana yang ada saat ini, kapal-kapal kargo akan menurunkan bantuan di lepas pantai untuk diangkut ke dermaga dengan kapal Angkatan Darat AS.

Brigjen Brad Hinson dari Angkatan Darat AS mengatakan, “Begitu selesai dibangun dan sepenuhnya mampu menjalankan misinya, setiap hari kami akan bisa mengirimkan sekitar dua juta bantuan pangan ke pantai.”

Komponen modular causeway di atas kapal MV Roy A. Benavidez pada 15 Maret 2024. (Foto USNI News)

Tetapi, para pakar menilai, proses mewujudkan rencana tersebut membutuhkan waktu lama dan mahal.

Purnawirawan Kolonel Angkatan Darat Myles Caggins dari New Lines Institute for Strategy and Policy, kelompok think thank nonpartisan di Washington DC, mengungkapkan, “Pengiriman bantuan melalui laut adalah solusi sementara. Cara terbaik untuk menyalurkan bantuan adalah dengan mengizinkan masuk truk-truk (bantuan).”

MV Roy A. Benavidez pada 15 Maret 2024, kapal yang membawa komponen dermaga apung (Foto USNI News)

Tetapi truk-truk dan pusat-pusat distribusi kini diserang Israel. Akibatnya, orang-orang Palestina di Gaza kelaparan.

Pengiriman dermaga apung akan membutuhkan waktu berminggu-minggu. Setelah itu, perlu setidaknya 10 hari untuk membangun dermaga apung itu. AS berdalih pembangunan dermaga apung sangat diperlukan, pasalnya kapal kargo dan logistik bertonase besar tidak dapat sandar di Pelabuhan Gaza, yakni akibat infrastruktur yang rusak berat. Dari aspek keamanan, keberadaan dermaga apung dapat menjauhkan kapal bantuan dari potensi ancaman serangan roket atau rudal. (Gilang Perdana)

2 Comments