Meski Pesawat Tak Diterima, Turki Dituntut Bayar Biaya Maintenance Enam Unit F-35A Lightning II

F-35A Turki yang ‘ditahan’ di AS.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, inilah gambaran yang dialami Turki dalam proyek pengadaan jet tempur stealth F-35A Lightning II. Setelah terkena Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) yang berujung didepaknya Turki dari proyek pengadaan F-35A, maka Turki masih mendapat tuntutan, yakni ‘keharusan’ untuk membayar kompensasi biaya pemeliharaan atas enam unit F-35A Turki yang ironisnya tidak pernah diterima oleh Turki.

Baca juga: AS Rayu Turki Kirim S-400 ke Ukraina dengan ‘Imbalan’ Bergabung Kembali di Program F-35 Lightning II

Dilansir defencesecurityasia.com, Amerika Serikat menuntut Turki membayar kompensasi sebesar US$30 juta untuk pemeliharaan teknis jet tempur F-35A. Pada tahun 2022, Washington dilaporkan meminta kompensasi kepada Turki sebesar US$30 juta karena “kebutuhan” menyimpan enam jet tempur F-35 Turki setelah Negeri Ottoman itu didepak dari proyek F-35, sementara enam jet tempur yang sudah jadi, harus dilakukan pemeliharaan teknis.

Keenam F-35A pesanan Turki yang diproduksi oleh Lockheed Martin, tidak dapat dikirim ke Turki setelah negara Mediterania tersebut ditangguhkan dari program pesawat karena keputusan Ankara untuk mengakuisisi sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia.

Menurut outlet berita Turki Aydinlik, semua jet tempur F-35A Turki disimpan di hanggar di Amerika Serikat, namun karena kecanggihannya, jet tersebut memerlukan perawatan berkelanjutan dan menimbulkan biaya tinggi.

Sejauh ini, pemerintah Turki yang dipimpin oleh Presiden Recep Tayyep Erdogan menyatakan tidak akan memenuhi permintaan Washington untuk memberikan kompensasi sebesar US$30 juta. Sebagai anggota senior NATO, Turki bergabung dengan program pengembangan jet tempur F-35 Lightning II sejak tahun 1999. Dalam program tersebut, Turki berkomitmen untuk membeli 100 unit varian F-35A dari Lockheed Martin.

Full Configuration Beast Mode

Sebagai mitra pengembangan, Ankara telah menyumbangkan US$1,4 miliar untuk biaya pengembangan jet tempur, sementara perusahaan-perusahaan pertahanan Turki ikut terlibat dalam memproduksi sekitar 900 suku cadang dalam program kemitraan industri. Setelah didepak dari program F-35, Turki meminta Amerika Serikat untuk mengganti kerugian investasinya. Perusahaan-perusahaan Turki yang terlibat dalam program pengembangan F-35 dilaporkan telah berinvestasi sekitar US$9 miliar.

Pesawat F-35A pertama pesanan Turki secara resmi diluncurkan di Amerika Serikat pada tahun 2018 dalam sebuah upacara akbar, diikuti oleh lima jet tempur lainnya, yang saat ini berada dalam “penyimpanan” di Amerika Serikat. Namun, pada tahun 2019, Turki secara resmi “dikeluarkan” dari program jet tempur F-35 oleh Washington karena desakannya untuk melanjutkan pembelian sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia.

Pejabat senior di Departemen Pertahanan Amerika Serikat dilaporkan menyatakan bahwa jet tempur F-35 tidak dapat “hidup berdampingan” dengan sistem pertahanan udara S-400, yang diklasifikasikan oleh Washington sebagai platform pengumpulan intelijen Rusia. Pejabat senior AS percaya bahwa Rusia dapat menggunakan sistem pertahanan udara S-400 untuk mempelajari kemampuan siluman jet tempur F-35. (Gilang Perdana)

AS Rayu Turki Kembali Ke Program Akuisisi F-35A, Tapi Syaratnya Bisa Bikin Rusia Murka

8 Comments