Mengenal ‘Remus 600’ – Drone Bawah Laut (AUV) Milik AS yang ‘Diciduk” Houthi

Meski tidak terkait langsung dengan operasi tempur, namun, peran dari drone bawah laut atau Autonomous Underwater Vehicle (AUV) tak bisa dianggap remeh. Berukuran relatif kecil dengan adopsi beragam sensor, AUV identik sebagai perangkat canggih. AUV yang operasinya dibalut sebagai misi penelitian hidro oseanografi, kerap digunakan untuk misi intai dan pengumpulan data-data kelautan, yang pada konkritnya dibutuhkan untuk pelayaran kapal selam sampai menunjang pendaratan amfibi.

Baca juga: AL India Uji ‘Neerakshi’ – Drone Bawah Laut (AUV) yang Mampu Deteksi Ranjau dan Misi Anti Kapal Selam

Seperti halnya drone bawah laut milik Cina yang beberapa kali pernah ditangkap nelayan Indonesia, belum lama ini beredar kabar milisi Houthi Yaman telah ‘menyita’ Remus 600, yakni AUV milik Amerika Serikat. Video yang beredar di media sosial, mengklaim menampilkan penangkapan perangkat keras militer bawah laut AS. Secara khusus, video tersebut menyatakan bahwa “gadget kuning” yang ditampilkan adalah Remus 600 – kendaraan bawah air otonom.

Rumor yang beredar menyebutkan bahwa drone bawah air ini telah diangkut ke Iran, di mana konstruksi, komponen, dan pengoperasiannya sedang diperiksa oleh para ahli lokal. Sulit untuk memverifikasi klaim ini karena visual dalam klip video di bawah ini buram dan berkualitas rendah.

Meskipun Remus 600 tidak memiliki kemampuan ofensif, kemampuannya untuk melawan ranjau dapat merevolusi strategi militernya.Remus 600 adalah AUV yang digunakan terutama untuk survei hidrografi, mengatasi ancaman ranjau, operasi keamanan pelabuhan, pemantauan lingkungan, pemetaan lapangan puing-puing, dan pengambilan sampel ilmiah.

Diproduksi oleh Hydroid Inc., anak perusahaan Kongsberg Maritime, AUV ini menonjol karena keserbagunaan dan daya tahannya, dirancang untuk ditempatkan di kedalaman 600 meter di bawah permukaan laut.

Angkatan Laut AS menggunakan Remus 600 terutama untuk memerangi ranjau. Side scan dan multibeam sonar pada Remus 600 memungkinkan deteksi, klasifikasi, dan lokalisasi ancaman bawah air ini. Selain itu, teknologi ini terbukti bermanfaat dalam survei hidrografi, karena menghasilkan peta dasar laut terperinci yang penting untuk navigasi serta untuk mengidentifikasi bahaya di bawah air.

Sesuai dengan namanya, Remus 600 mampu bertahan di lingkungan perairan dangkal hingga kedalaman 600 meter, menunjukkan ketahanan, keandalan, dan pengumpulan data berkualitas. Berukuran panjang hanya 3,25 meter, diameter 32,4 cm dan berat 240 kg. Desainnya yang ringkas dan ringan membuatnya mudah dipasang dan diambil. Mampu mencapai kecepatan hingga 5 knot, dapat beroperasi selama 70 jam dengan sekali pengisian baterai.

Inilah D-19, Drone Bawah Laut Andalan AL Perancis dengan Standar Kaliber Torpedo

Jangkauan operasional Remus 600 sangat mengesankan. Tergantung pada kecepatan dan konfigurasi muatannya, pesawat ini dapat menempuh jarak hingga 286 km dalam satu misi. Rangkaian navigasi canggihnya, yang mencakup sistem navigasi inersia [INS], log kecepatan Doppler [DVL], dan GPS, memastikan penentuan posisi dan pelacakan yang tepat.

Dari segi spesifikasi, Remus 600 memiliki kapasitas muatan 40 kilogram sehingga mampu membawa beragam instrumen dan sensor. Didukung oleh baterai lithium-ion, Remus 600 menawarkan daya tahan yang mengesankan. Selain itu, desain modular Remus 600, memungkinkan perawatan sederhana dan pertukaran muatan (payload) untuk mengakomodasi kebutuhan misi yang berbeda. (Gilang Perdana)

Kongsberg Pasok Drone Bawah Laut Hugin “Endurance dan Superior” untuk Angkatan Laut AS

One Comment