Mega Deal MRFA: Mengapa Nagpur (India) Jadi Kandidat Pusat Produksi Rafale Kedua di Dunia?

Ambisi besar India untuk memperkuat kedaulatan udaranya melalui program Multi-Role Fighter Aircraft (MRFA) kini memasuki babak baru. Dassault Aviation dilaporkan tengah mempersiapkan langkah bersejarah dengan menjadikan Nagpur sebagai pusat produksi jet tempur Rafale kedua di dunia setelah fasilitas utama mereka di Merignac, Perancis.
Baca juga: India Bidik Upgrade Rafale ke Standar F4 dan Ambisi Produksi F5 Pasca 2030
Langkah tersebut merupakan bagian dari tawaran “Mega Deal” Dassault untuk memenangkan kontrak pengadaan 114 jet tempur guna memenuhi kebutuhan mendesak Angkatan Udara India (IAF) akan pesawat tempur generasi 4.5.
Fasilitas di Nagpur direncanakan tidak hanya sekadar berfungsi sebagai lini perakitan akhir, tetapi akan berkembang menjadi hub manufaktur yang terintegrasi secara mendalam dengan rantai pasok domestik.
Jika kesepakatan MRFA ini terealisasi, pabrik tersebut ditargetkan mampu memproduksi hingga 24 unit jet tempur Rafale setiap tahunnya. Kapasitas produksi yang masif ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan internal India, tetapi juga diproyeksikan untuk memosisikan negara tersebut sebagai pusat ekspor global bagi jet Rafale di masa depan.
India’s Nagpur facility is set to become Dassault Aviation’s second Rafale production hub, capable of assembling up to 24 jets per year and integrating a deep Indian aerospace supply chain. pic.twitter.com/C8LUYTqkau
— The Matrix (@thematrixloop) January 18, 2026
Pemilihan Nagpur sebagai lokasi produksi jet tempur Rafale didasarkan pada pertimbangan logistik dan teknis yang matang. Terletak di titik tengah geografis India yang dikenal sebagai “Zero Mile”, Nagpur memberikan kemudahan distribusi luar biasa ke berbagai pangkalan udara di seluruh penjuru negeri. Keberadaan kawasan Multi-modal International Cargo Hub and Airport (MIHAN) juga menjadi faktor penentu karena memberikan akses langsung ke landasan pacu internasional, yang sangat krusial bagi proses uji terbang jet-jet yang baru selesai dirakit sebelum diserahkan kepada unit operasional.
Selain itu, Dassault tidak perlu memulai segalanya dari nol karena mereka telah memiliki jejak kuat melalui kemitraan Dassault Reliance Aerospace Limited (DRAL) yang sudah beroperasi di wilayah tersebut. Fasilitas yang ada saat ini sudah berpengalaman memproduksi komponen penting untuk jet bisnis Falcon dan beberapa bagian struktur Rafale.
Perancis Tawarkan India Bangun Basis Produksi Rafale, Inilah Syaratnya
Dengan tenaga kerja lokal yang telah terlatih di bawah standar kualitas Perancis selama beberapa tahun terakhir, Nagpur dianggap sebagai lokasi yang paling siap secara teknis untuk mengemban tanggung jawab memproduksi pesawat tempur utuh dengan presisi tinggi.
Salah satu poin paling krusial dari rencana besar ini adalah komitmen Dassault terhadap pengembangan rantai pasok India yang mendalam. Berbeda dengan skema pembelian langsung sebelumnya, proyek ini dirancang untuk melibatkan ribuan vendor lokal dalam proses produksinya, sejalan dengan visi kemandirian industri pertahanan yang dicanangkan pemerintah.
India Disebut Incar Rafale F5: Bakal Jadi Launch Customer Jet Tempur Generasi Baru Perancis
Integrasi industri lokal memastikan bahwa India tidak hanya mendapatkan perangkat militer, tetapi juga transfer teknologi yang akan melahirkan ekosistem kedirgantaraan mandiri, mulai dari suku cadang hingga integrasi sistem senjata domestik ke dalam platform Rafale.
Secara strategis, keberadaan lini produksi di Nagpur akan memberikan keuntungan jangka panjang bagi kesiapan tempur Angkatan Udara India. Proses pemeliharaan, perbaikan, dan peningkatan sistem di masa depan dapat dilakukan sepenuhnya di dalam negeri tanpa ketergantungan pada fasilitas di Eropa. Langkah berani Dassault ini memberikan tekanan signifikan bagi para pesaingnya dalam tender MRFA, sekaligus menandai transformasi besar India dari sekadar pembeli menjadi produsen utama jet tempur papan atas dunia di kawasan Indo-Pasifik. (Bayu Pamungkas)
Program “Make in India”: Safran dan India Sepakati Produksi Amunisi HAMMER Rafale Secara Lokal



Bocil :
Nah itu dia, pespur keren tapi rudal dikit atau malah tanpa rudal. Lebih baik single engine.
Cocok dah ini.
J-10 series dan JF-17 adalah kandidat yang sempurna. Single engine. Murah. Rudalnya pun juga murah.
Hihihi. Udah kayak sales belum ya? Hihihi.
Ini keputusan berbau taktik dagang yg liehay, dengan menjadi pabrik ke 2 Rafale, otomatis semua penggguna Rafale akan beli suku cadang dll ke indihe apabila pabrik di Prancis mengalami masalah, sama seperti bikin MKI, Brahmos & Sudarsan, arahnya ke jual kembali tehnologi bangsa lain aka reseller sekaligus untuk kebutuhan dalam negeri dengan harga murah😁
@Tukang Ngitung : ohh iya..
Meskipun kita memiliki 100 Rafale F4 tanpa dukungan rudal BVR, AWACS, satelit militer dan pendukung lainnya dalam sekenario perang saat ini kemungkinan besar kita akan mengalami lost lebih besar
Saat ini kita dikelilingi oleh pespur gen 5 (Ausie dan Singapore) yang selain siluman, mereka memiliki faktor pendukung yang tidak kita miliki
Bahkan Angkatan Udara Kerajaan Australia (RAAF) berhasil melakukan uji tembak AIM-120 AMRAAM dari pesawat tempur tak berawak (UCAV) MQ-28A Ghost Bat, sedangkan Singapura telah mengimplementasikan rudal meteor ke F-16 miliknya
Jika kita membeli pespur di hard poinnya hanya dipasang range short dan medium lebih baik beli pespur yang single enggine yang murah dengan radar dan avionik ala kadarnya, karena membeli pespur bagus seperti Rafale F4 tanpa dukungan memadai sama saja seperti pespur keren yang berfungsi hanya sebagai pespur patroli
Kita butuh pemimpin tangan besi untuk lebih berpihak kepada rakyat, bangsa dan negara, karena cepat atau lambat jika kita hanya terkesima hanya berpatokan pada power indexs, maka kita termasuk orang yang sedang dibodohi oleh pihak luar yang ingin mengambil alih sumber daya alam yang kita miliki dan juga masyarakat kita
Tidak ada satupun bangsa luar dalam kebijakan apapun yang tidak akan mengambil untung untuk sumber daya alam dan masyarakat kita
Cina maju karena dia menerapkan pola seperti Jepang
Semua warga negaranya disebar luas untuk membangun Cina dala semua sektor
@Tukang Ngitung : India menggeser PT DI sebagai rekanan perakitan CN-295
India dalam membeli alusista memang hampir dilakukan dalam jumlah banyak dan juga dengan harga diatas lebih mahal
Mungkin hal tersebut untuk program ToT atau lainnya yang mengerucut ke “Make in India”
Btw untuk RI kebijakannya selalu berubah, sehingga tidak adanya jenjang berkelanjutan untuk tingkatan diatasnya (missing link)
Banyak kebijakan yang hanya menghamburkan dana, contohnya ketika Cina meninggalkan rudal C-705 kita malah membeli dengan jumlah masive dan entah bagaimana nasib ToTnya
Kita tidak pernah fokus dalam mencari kekurangan
Kita hanya fokus membeli barang dan kurang memperhatikan ToT, lisensi atau lainnya dan jika ini terus berlanjut maka tidak heran jika kita pergerakan kita sangat lamban
Memang saat ini diantaranya melangkah lebih cepat, khususnya untuk matra laut
Dari kasel Chang Bogo, light frigate Martadinata, freagate Arrow Head 140 dan lainnya
Tetapi dalam lainnya kita “stuck”
Terkadang saya berasumsi membeli alusista gado² apakah mungkin disebabkan mencari “missing link” untuk next lavel
Peta alusista dunia sekarang penuh ketidak pastian mungkin diantara alasan membuat drama pilihan warna warni
C-295 yang akan dibikin di India itu untuk kebutuhan India sendiri. Demikian juga dengan Rafale.
Yang buat India maju beberapa langkah itu karena India akuisisi lebih banyak senjata dengan merek dan jenis yang sama daripada kita yang suka pesan gado-gado.
Keuntungan pembelian bukan ketengang memang ToTnya bisa dinegosiasikan dengan lebih baik
Setelah CN-295 next Rafale
Padahal kualitas manufaktur India tidak ada yang special
Yang membuat India beberapa langkah lebih maju dari RI diantaranya adalah road map ToT yang terukur dan terarah yang ditunjang dengan faktor pendukung lainnya seperti satelit militer, AWACS dan lainnya
Bahkan Amerika terkesan enggan menjatuhkan sangsi CAATSA kepada India