Masuk Pasar Eropa, Rumania Jadi Pengguna Rudal Hanud Chiron Setelah Korea Selatan dan Indonesia

Setelah Indonesia yang menjadi satu-satunya negara pengguna ekspor rudal hanud MANPADS VSHORAD (Very Short Range Air Defence) Chiron, maka ada kabar bahwa Rumania akan segera menjadi pengguna ekspor Chiron setelah Indonesia. Dari sumber media lokal, disebut bahwa Rumania akan mengakuisisi 54 unit sistem hanud Chiron.

Baca juga: Chiron – “Paket” Rudal VSHORAD Pada Kanon Oerlikon Skyshield Paskhas TNI AU

Akuisisi Chiron dilakukan seiring eratnya hubungan antara Seoul dan Bukares dalam bidang pertahanan, yang mana Rumania dan Korea Selatan telah menandatangani kerja sama pengadaan ranpur Infantry Fighting Vehicle (IFV) Redback, self propelled howitzer K9 Thunder dan rudal hanud jarak sedang – Mid-range Surface-to-Air Missile block-II( M-SAM II).

Dikenal dengan label KP-SAM, Chiron adalah rudal hanud produksi LIG Nex1. Chiron mirip dengan rudal Mistral buatan MBDA dan Saab RBS-70, yakni diusung menggunakan media tripod. Meski tak begitu populer, Chiron juga dibuat dengan varian multi laucher system yang dikendalikan secara remote.

Rudal Chiron termasuk salah satu rudal generasi terbaru di kelasnya yang dikembangkan lembaga riset selama lebih dari delapan tahun oleh LIG Next1 (anak perusahaan LG Corporation). Pengembangan rudal ini berdekatan dengan proyek rudal Grom dari Polandia. Pada awalnya Korea Selatan merintis pengembangan rudal panggul pada tahun 1995 oleh badan penelitian pertahanan pemerintah dengan anggaran 71 juta dollar dengan nama proyek KP-SAM (Korean Portable Surface-to-Air Missile) Shingung.

Fase produksi rudal Chrion dimulai pada tahun 2004 dan penggelaran operasional dilakukan pada September 2005. Sebagai launch customer, Angkatan Darat Korea Selatan memesan sebanyak dua ribu unit rudal Chiron.

Rudal Chiron Kopasgat (dalam platform tripod).

Sebagai komponennya, sensor pengindra inframerah Chiron generasi awal dipasok pabrik LOMO Rusia sedangkan sistem kendali, motor roket dan hulu ledak dikembangkan sendiri oleh Korea Selatan.

Bobot Chiron mencapai 14,4 kg, sedangkan berat peluncur dan rudal jika ditotal mencapai 24,3 kg. Meski bisa dioperasikan dengan dipanggul, efektivitasnya akan lebih baik bila dilepaskan dengan tripod untuk menjaga stabilitas saat penembakkan. Dalam gelar tempur, satuan tembak Chiron diawaki oleh tiga orang, masing-masing adalah gunner, loader amunisi, dan observer.

Personel Marinir TNI AL sedang menjajal simulator Chiron.

Dengan sokongan solid rocket motor, Chrion dapat menguber target dengan kecepatan 700 meter per detik (setara Mach 2.4). Karena bergelar VSHORAD, jarak uberan rudal ini memang terbatas, hanya 7.000 meter dan jarak ketinggian luncur maksimum 3.500 meter.

Chiron beroperasi dengan pemandu infra red dengan dual mode (IR/UV) sehingga lebih tahan terhadap aksi jamming. Sistem rudal juga dilengkapi interrogator IFF (Identification Friend or Foe) yang dipasok oleh sistem radar pemandu. Pihak LIG Nex1 mengklaim sistem Chiron hanya membutuhkan waktu penembakan kurang dari tiga detik untuk meluncur setelah dipicu.

Indonesia Berpotensi Mengakuisisi (lagi) Rudal Hanud Chiron

Sistem Chiron menerima informasi dari sistem sensor dan mengirimkan informasi posisi dan status misil ke TDR (Target Data Receiver) dari piranti GPS yang ditanamkan dalam misil. Mekanismenya hulu ledak dengan berat 2,5 kg akan otomatis meledak jika misil mendekati 1,5 meter dari sasaran dengan menyebarkan 720 potongan fragmen berenergi kinetik yang akan mengoyak badan maupun mesin helikopter atau pesawat yang menjadi sasaran. (Gilang Perdana)