Linud Angkatan Darat AS Uji Coba Airdop Cargo 10 Ton dengan Teknologi RRDAS

Pasukan Lintas Udara (Linud) Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) kini tengah menguji teknologi parasut baru yang memungkinkan untuk menerjunkan kargo (airdrop cargo) hingga berat 10 ton dan mengembang pada ketinggian 230 meter. Banyak yang menjadi pertimbangan dalam adopsi parachute cargo drop system, dan Rapid Rigging De Rigging Airdrop System (RRDAS) menawarkan beberapa keunggulan yang terbilang baru di kelasnya.

Baca juga: Terjun Bebas dari Ketinggian 1.500 Meter, Begini Penampakan Ranpur BMD-1 Rusia

RRDAS yang tengah diuji Yuma Proving Ground di Arizona, selain unggul dalam kapasitas, juga menawarkan fleksibilitas dan keamanan dalam pengoperasiannya. RRDAS diklaim lebih mudah dipasang dan dilepas setelah mendarat, memungkinkan bagi pasukan linud dengan cepat meninggalkan zona pendaratan dan menghindari bahaya, menurut siaran pers Angkatan Darat AS, seperti dukutip dari interestingengineering.com.

RRDAS adalah reusable parachute cargo drop system, yang artinya sistem parasut masih digunakan kembali setelah pendaratan. “Saat melayang, udara ambien memberi tekanan pada semua kantung udara berbasis kain,” kata Mayor Matthew Rohe dari US Army Program Executive Office Combat Support and Combat Service Support.

Saat menyentuh tanah, modul airbag meredam muatan, jadi kami tidak membutuhkan model proteksi berdesain sarang lebah (honeycomb) seperti yang digunakan saat ini.

Untuk memasok logistik dan persenjataan bagi pasukan di garis depan atau mengirimkan bantuan kemanusiaan ke tempat-tempat yang sulit dijangkau, airdop cargo telah menjadi sesuatu yang lazim dilakukan.

Yang menjadi tantangan dalam airdrop cargo adalah terjadinya kerusakan pada muatan yang dibawa, khsusnya saat palet dengan bobot besar mendarat akan terjadi guncangan keras yang dapat merusak kendaraan atau muatan.

Selama ini, sistem drop parasut menggunakan karton berbentuk sarang lebah di bagian bawah palet baja untuk mengurangi hal ini. Saat tumbukan, ‘sarang lebah’ pecah, menyerap energi alih-alih menyebarkannya ke muatan.

Pada model sarang lebah (honeycomb), peluncur parasut dan pengekang harus dirakit dan sistemnya satu per satu hingga selesai. Dan setelah dijatuhkan, kartn harus dikeluarkan dari palet dan dibuang.

Sarang lebah, peluncuran, dan pengekangan harus dirakit, dan sistemnya satu-dan-selesai. Setelah dijatuhkan, karton harus dikeluarkan dari palet dan dibuang. Yang menjadi persoalan adalah, aksi tersebut memakan waktu yang sangat berharga, dan kebanyakan kasus, pasukan linud harus mencari perlindungan terlebih dahulu sebelum membongkar muatan di medan konflik.

Salah satu solusi yang sedang diuji oleh Angkatan Darat AS. adalah Rapid Rigging De Rigging Airdrop System (RRDAS). Teknologi ini menggantikan sebagian besar karton dengan bantuan serangkaian kantung udara berbahan kain yang dilipat di bawah palet.Dalam pengujian, RRDAS dapat membawa beban hingga 10 ton dan mengembang pada ketinggian hanya 750 kaki (230 meter).

Prosesi penejunan BMD-4M dari Ilyushin Il-76.

Sistem ini juga menyertakan fitur untuk memastikan bahwa kendaraan yang dijatuhkan dari udara dapat mendarat dengan tegak. Outrigger adalah komponen RRDAS yang membantu menjaga kargo berat bagian atas tetap tegak saat bertabrakan dengan tanah.

Baca juga: TNI AU Terima C-130H Hercules A-1338, Dulu Sempat Lakukan “Air Dropping” Buldoser Seberat 10 Ton

Jika dibandingkan model Honeycomb, maka adopsi RRDAS dapat mengurangi waktu rigging dan de rigging masing-masing sebesar 25 dan 40 persen. “Kami akan dapat menambah beban muatan dan panjang anjungan sehingga dapat menurunkan barang yang lebih berat dan lebih aman,” kata Rohe.

Pengujian RRDAS masih akan berlanjut tahun ini untuk menyempurnakan desain, dengan pengujian lapangan penuh dalam kondisi realistis untuk mengikuti target pengadaan di tahun fiskal 2025. (Bayu Pamungkas)

One Comment