Lindungi Jembatan Kerch, Rusia Gelar Sistem Hanud Rudal S-500 Prometheus di Krimea

Bagi Rusia sangat penting untuk mempertahankan Kerch Bridge, atau juga dikenal sebagai Jembatan Krimea, pasalnya inilah akses utama yang menghubungkan antara Semenanjung Taman di Rusia dengan Semenanjung Kerch di Krimea, menyediakan jalur transportasi darat langsung antara Rusia dan Krimea. Sebelum jembatan ini dibangun, akses utama ke Krimea dari Rusia adalah melalui jalur laut atau udara, yang kurang efisien dan lebih mahal.

Baca juga: Antisipasi Serangan Rudal dan Drone Kamikaze, Rusia Buat Decoy Kapal Selam ‘Kilo’ di Dermaga Laut Hitam

Nah, untuk mempertahankan jembatan tersebut, khususnya dari ancaman serangan udara, ada kabar bahwa Rusia untuk pertama kalinya menempatkan sistem hanud rudal tercanggih S-500. Menyusul keberhasilan serangan Ukraina terhadap sistem pertahanan udara Rusia di Krimea, pasukan Rusia kini telah memperkuat pertahanan mereka dengan mengerahkan elemen sistem rudal permukaan-ke-udara yang diklaim paling mutakhir dan belum ditawarkan ke pasar eskpor, yakni S-500 Prometheus.

Namun, kabar penempatan S-500 di Krimea bukan berasal dari pihak Rusia, melainkan hal tersebut diungkapkan Kyrylo Budanov, Kepala Direktorat Utama Intelijen Kementerian Pertahanan Ukraina (GUR).

Budanov menjelaskan bahwa penggunaan S-500 masih bersifat eksperimental karena belum pernah digunakan oleh militer Rusia sebelumnya. Dia juga mencatat bahwa logistik militer Rusia terus bergantung pada akses dari Jembatan Kerch.

“Jembatan Kerch selalu digunakan oleh pasukan Rusia dan akan terus digunakan selama masih ada. Meskipun feri digunakan untuk sebagian besar kargo, personel terutama menggunakan jembatan tersebut. Angkutan kargo memang lebih jarang, namun bagi personel, ini tetap menjadi jalur utama,” kata Budanov.

S-500, yang dikenal sebagai Prometey atau Triumfator-M, dirancang untuk menghancurkan rudal balistik jarak menengah, pesawat terbang, drone, dan rudal hipersonik. Sistem pertahanan udara generasi berikutnya ini diharapkan dapat menggantikan sistem rudal anti-balistik A-135 di sekitar Moskow dan melengkapi sistem hanud udara jarak jauh S-400 Triumf.

Rusia bertujuan untuk menggunakan sistem yang sebanding dengan erminal High Altitude Area Defense (THAAD) AS, tetapi dengan penundaan yang signifikan sekitar 30 tahun. Namun rupanya untuk urusan kecepatan meluncur, aset hanud yanga ada seperti S-300 dan S-400 jelas bukan tandingan THAAD yang dirancang sejak 1987 dan resmi diproduksi pada tahun 2008.

Seolah merespon kemajuan yang telah diraih AS, Rusia berkepentingan untuk meningkatkan pertahanan pada obyek-obyek vital nasional. Kerisauan Rusia tentu wajar adanya, mengingat yang jadi ancaman pertahanan udara bukan hanya rudal balistik antarbenua, tapi juga antisipasi untuk menghadang serangan dari rudal berkecepatan hipersonik di atas Mach 5. Potensi serangan rudal hipersonik inilah yang harus diwaspadai, dan juga menjadi dasar AS merancang THAAD.

Mengutip dari nationalinterest.org, disebutkan S-500 dengan two-stage solid fuel dapat melesat sampai kecepatan Mach 9, dan dapat meng-intercept sasaran yang bergerak di kecepatan Mach 15.6.

Almaz-Antey menyebut teknologi pada S-500 jauh lebih unggul dari S-400. Jarak jangkauan S-500 mencapai 600 km dan efektif mengejar sasaran dari ketinggian 40 – 120 km. Beberapa analis menyebut sistem rudal hipersonik ini dapat melacak 5- 20 sasaran balistik secara bersamaan, sementara sistem S-500 dapat mengeliminasi 5 – 10 sasaran balistik secara bersamaan.

Melesat awal hingga 7 ribu meter per detik, S-500 bahkan digadang dapat menghancurkan satelit yang mengorbit rendah. Sistem S-500 dapat membawa berbagai rudal. Rudal ini akan memiliki berbagai jarak dan akan digunakan melawan sasaran yang berbeda, contohnya adalah rudal hanud jarak jauh 40N6. (Gilang Perdana)

Tandingi THAAD, Rusia Lindungi Moskow dengan Sistem Hanud S-500 Prometheus