Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Lifetime Extend, Jurus Saab Optimalkan Rudal RBS-70 MK2 Hingga 30 Tahun

RBS 70 milik Arhanud TNI AD.

Meski target pengadaan rudal hanud (pertahanan udara) kini diproyeksikan ke segmen rudal jarak sedang (menengah), namun bukan berarti tingkat kesiapan rudal hanud jarak dekat VSHORAD (Very Short Range Air Defence) terabaikan. Guna memenuhi tingkat kesiapan operasional, alutsista rudal SHORAD MANPADS (Man Portable Air Defence System) yang masih serviceable layak untuk dilakukan maintenance secara maksimal. Salah satu yang cukup sukses adalah proyek LTE (Lifetime Extend) yang ditawarkan Saab pada rudal RBS-70 MK2 milik Arhanud TNI AD.

Baca juga: PT Pindad dan Saab Perpanjang Usia Operasional Rudal RBS-70 Arhanud TNI AD

Resminya proyek LTE untuk RBS-70 MK2 TNI AD ditandatangani saat ajang Indo Defence 2014. Sebagai mitra Saab dalam proyek LTE ditunjuk BUMN Strategis PT Pindad. Dan hampir dua tahun berselang, belum lama ini terdengar kembali kabar tentang Saab dan PT Pindad, yakni dalam event one day workshop tentang GBAD (Ground Base Air Defence) di Bandung, Jawa Barat (14/9/2016). Tema GBAD mengusung integrasi senjata (rudal) dan perangkat radar Giraffe dalam satu sistem terpadu.

IMAG0281

Baca juga: Giraffe 40 – Radar Intai Mobile Arhanud TNI AD

Dalam workshop yang dihadiri anggota Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara (Pussenarhanud) dan dipimpin Wakil Komandan Pussenarhanud, Kolonel Arh I Ketut Sugiartha, adalah upaya lanjutan dari kemitraan strategis antara Saab dan PT Pindad. Pasalnya pada bulan Juni lalu, Direktur Utama PT Pindad saat itu, Silmy Karim menyebut bahwa Pindad akan memproduksi dua jenis rudal anti serangan udara. Diantaranya langsung disebut dari Swedia dan diharapkan dalam waktu dua tahun dapat diproduksi. Sinyal tersebut bertambah kuat saat kunjungan Dirut PT Pindad Abraham Mose ke Stockholm, Swedia, 16 September lalu. Disebut-sebut ada agenda pembicaraan terkait kerjasama produksi rudal RBS-70 NG dan radar Giraffe AMB.

Baca juga: Giraffe AMB – Generasi Penerus Radar Giraffe 40 Arhanud TNI AD

rbs70_3

Sementara proses RBS-70 NG sedang berjalan, Saab dalam ajang one day workshop GBAD di Bandung menawarkan solusi komprehensif terkait proyek LTE pada RBS-70 MK2. “Dalam proyek GBAD kami ingin mengalihkan dukungan logistik agar kesemuanya bisa dilaksanakan secara lokal di Indonesia,” ujar Lars Nielsen, Deputy Head of Saab Indonesia kepada Indomiliter.com. Sebagai informasi, standar normal lifetime rudal RBS-70 MK2 adalah 30 tahun. Akan tetapi untuk menjamin kinerja optimal, pada tahun ke -15 perlu dilakukan LTE agar masa 30 tahun dapat dicapai. Setelah itu Saab menyarankan agar rudal di dispose dengan aman.

Lebih lanjut Lars Nielsen menjelaskan, “Pada proyek LTE paling tidak ada lima atau enam komponen pada rudal yang diganti. Namun secara keseluruhan pada mid life test ada lebih dari 100 check point, jadi ini adalah solusi yang cukup komprehensif,” kata Lars. Meski RBS-70 MK2 dilakukan LTE, namun sistem MK2 dipastikan tidak dapat di upgrade ke rudal Bolide, yakni rudal yang digunakan pada platform RBS-70 NG. Bila RBS-70 MK2 TNI AD mendapatkan proyek peremajaan dalam LTE, lain lagi dengan AD Irlandia, RBS-70 milik Irlandia malah mendapat program upgrade, mencakup peningkatan firing units, new simulators, night vision equipment dan associated weapons support.

Penulis dengan simulator RBS-70 NG
Penulis dengan simulator RBS-70 NG

Baca juga: RBS-70 NG – Menjajal Simulator Rudal Hanud Supersonic Berpemandu Laser

Secara umum, Ada 2 tipe RBS-70 yang dimiliki TNI AD, yakni RBS-70 MK1 dan MK2. Keduanya sama-sama berpengendali laser, yang membedakan terletak pada kemampuan jarak tembaknya, RBS-70 MK1 dapat menghajar target mulai dari 500 – 5.000 meter, sedangkan RBS-70 MK2 bisa mengenai target mulai dari 200 – 7.000 meter. Ketinggian yang bisa dicapai pun berbeda, RBS-70 MK1 bisa melesat hingga ketinggian 3 km, dan MK2 hingga 4 km. Beratnya pun berbeda sedikit, bila MK1 punya bobot 24 kg, maka MK2 beratnya 26,5 kg.

Selain dari bentuk tabung peluncurnya, yang unik dari rudal ini adalah adanya alat bidik berupa teleskop monoculer yang memiliki pembesaran (zooming) hingga 7x. Dengan material yang sifatnya mudah dibongkar pasang, RBS-70 dapat disiapkan dalam waktu tempur sekitar 30 detik, dan waktu isi ulang kurang dari 10 detik. Ditangan awak yang terlatih, waktu reaksi rudal ini hanya 8,5 detik. Dengan kecepatan luncur mencapai Mach 1.6, RBS-70 MK2 mempunyai kemungkikan perkenaan pada target antara 70 – 90 persen.

Konfigurasi RBS-70 dapat dibawa oleh tiga personel.
Konfigurasi RBS-70 dapat dibawa oleh tiga personel.

Baca juga: RBS-15 MK3 – Rudal Anti Kapal Untuk KCR Klewang Class TNI AL

RBS-70 Arhanud TNI-AD
RBS-70 Arhanud TNI-AD

Hingga pertengahan tahun 2015, Saab menyebut telah memproduksi 1.600 peluncur dan 17.000 lebih rudal RBS-70. Indonesia diperkirakan memiliki tak kurang dari 70 peluncur RBS-70 dalam versi MK1 dan MK2. Selain Indonesia, di Asia Tenggara pengguna rudal ini adalah Thailand dan Singapura. Sementara populasi penjualannya telah merambah 19 negara di lima benua. (Haryo Adjie)

28 Comments