Lepas dari Bayang-bayang AS, Perancis Siapkan Roket Artileri FLP-T 150 yang Bebas Aturan ITAR

ArianeGroup resmi memperkenalkan inovasi terbaru dalam dunia alutsista darat dengan meluncurkan roket kendali FLP-T 150. Peluncuran ini menjadi tonggak penting bagi Perancis dalam membangun kedaulatan kemampuan serang darat jarak jauh (Long-Range Land Strike) yang selama ini sangat bergantung pada teknologi luar negeri.
Baca juga: Rusia Upgrade Jangkauan Roket pada MLRS Tornado-S Hingga 300 Kilometer
Langkah strategis ini diambil melalui program FLP-T (Frappe Longue Portée Terrestre) yang diinisiasi oleh Kementerian Angkatan Bersenjata Perancis. Tujuannya jelas: menggantikan sistem peluncur roket MLRS M270 (versi Perancis disebut LRU) yang saat ini menggunakan roket GMLRS buatan Lockheed Martin Amerika Serikat.
ArianeGroup memanfaatkan keahliannya di sektor peluncuran luar angkasa untuk menciptakan roket dengan performa ekstrem. Dari spesifikasi, FLP-T 150 mampu menjangkau target hingga 150 kilometer. Angka ini hampir dua kali lipat dari jangkauan roket GMLRS saat ini yang hanya berkisar 70–80 km. Sistem ini dirancang dengan tingkat akurasi sub-decametric (di bawah 10 meter).
FLP-T 150 dilengkapi dengan sistem navigasi yang tahan terhadap gangguan sinyal (jamming) GPS, memastikan roket tetap mengenai sasaran meski dalam lingkungan peperangan elektronik yang ketat. FLP-T 150 menggunakan teknologi bahan bakar padat (solid-propellant) yang dioptimalkan dari pengalaman ArianeGroup membangun roket luar angkasa, memberikan kepadatan energi yang lebih tinggi untuk jangkauan yang lebih jauh.

Salah satu nilai jual utama dari FLP-T 150 adalah statusnya yang “ITAR-Free”. Artinya, roket ini tidak menggunakan komponen yang diatur oleh regulasi ekspor Amerika Serikat (International Traffic in Arms Regulations/ITAR). Hal ini memberikan kebebasan penuh bagi Perancis dalam penggunaan operasional maupun keputusan ekspor ke negara lain tanpa campur tangan birokrasi Washington.
Secara desain, FLP-T 150 mengusung arsitektur modular. Ini memungkinkan pengembangan varian di masa depan untuk berbagai jenis misi tanpa harus merombak total desain dasar roket. FLP-T 150 dirancang untuk ditembakkan dari platform peluncur roket bergerak (mobile ground-based rocket artillery). Sistem ini diproyeksikan kompatibel dengan platform peluncur masa depan Perancis maupun standar Eropa lainnya.
Perancis Kembangkan “Foudre” – Self Propelled MLRS yang Mampu Meluncurkan Amunisi M142 HIMARS
Dalam pengembangannya, ArianeGroup tidak bekerja sendiri, ArianeGroup bertindak sebagai kontraktor utama yang bertanggung jawab atas arsitektur roket dan sistem propulsi, dan ada peran Thales Group yang bertanggung jawab atas pengembangan sistem pemandu (guidance), navigasi, dan komponen elektronik canggih lainnya.
Meski menawarkan spesifikasi yang mengesankan, FLP-T 150 harus bersaing dengan proposal lain dalam program FLP-T, yakni sistem Thundart yang dikembangkan oleh konsorsium MBDA dan Safran. Pemerintah Perancis akan mengevaluasi kedua solusi ini sebelum memutuskan sistem mana yang akan memperkuat Angkatan Darat mereka.
MBDA has, for the first time, shown an example of its Thundart surface-to-surface rocket,Billed as a domestically produced alternative to U.S.-made Army High Mobility Rocket System (HIMARS), Thundart reflects growing interest, especially in Europe, in long-range precision fires. pic.twitter.com/HWfyUiv166
— Valhalla (@ELMObrokenWings) December 8, 2025
Uji coba demonstrator pertama untuk FLP-T 150 dijadwalkan akan berlangsung pada paruh pertama tahun 2026. Jika terpilih, roket ini akan menjadi tulang punggung kekuatan artileri Perancis dalam satu dekade ke depan, sekaligus memperkuat basis industri pertahanan Eropa agar tidak lagi bergantung pada pasokan amunisi dari luar benua. (Bayu Pamungkas)



Negara-negara NATO sekarang konsern dengan namanya kemandirian, mereka sadar, klo ga sejalan dengan Amerika bisa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan jualannya.