Lebih Ramah Lingkungan, F-16 Fighting Falcon Terbang dengan Bahan Bakar Biofuel

Tanpa banyak publikasi, AU Kerajaan Belanda atau Royal Netherlands Air Force (RNLAF) membuat gebrakan dalam operasional jet tempur F-16 Fighting Falcon. Bukan terkait persenjataan atau perangkat sensor yang ada di Elang Penempur yang juga digunakan oleh TNI AU, melainkan pada jenis bahan bakar yang diasup pada jet tempur multirole ini. Bila umumnya F-16 mengkonsumsi Avtur/JP8, maka pada 14 Januari 2019, F-16 AU Belanda untuk pertama kali menggunakan biofuel, yaitu bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.

Baca juga: Emergency Jettison Fuel Tank, Makna di Balik Insiden F-16 Saat Pitch Black 2018

Seperti dikutip dari renewableenergymagazine.com (16/1/2019), penggunaan bahan bakar dari energi berkelanjutan ini dilakukan oleh F-16 yang berpangkalan di Lanud Leeuwarden. Kolonel Paul de Witte, Kepala Regulasi dan Pengembangan Bahan Logistik RNLAF mengatakan, “Transisi menuju sustainable aviation fuel (SAF) adalah kunci penting bagi Angkatan Udara Kerajaan Belanda. Pada 2010 kami melakukan penerbangan demonstrasi pertama dengan helikopter Apache menggunakan biofuel. Kami saat ini ingin bekerja menuju pengoperasian SAF di semua pesawat.”

Biofuel yang digunakan untuk F-16 komposisinya terdiri dari campuran 5 persen SAF dengan bahan bakar konvensional. Kementerian Pertahanan Belanda menyebut bahwa pihaknya telah menerima 400 ribu liter biofuel yang berasal dari olahan cooking oil (minyak goreng) selama seminggu pada 14 Januari lalu. Mengolah minyak sawit, termasuk minyak jelantah (minyak goreng bekas) untum djadikan biofuel sudah bukan cerita baru lagi, di Indonesia pun penyedia jasa pengolahan biofuel sudah ada beberapa.

Namun, asupan biofuel untuk F-16 Fighting Falcon tentu tak sembarangan, yang digunakan oleh AU Belanda adalah biofuel yang diproduksi perusahaan asal Amerika Serikat, World Energy. Sementara suplai SAF dilakukan oleh SkyRNG dan Shell Aviation.

Paul de Witte menambahkan, SAF yang dipasok di Leeuwarden sudah cukup untuk semenster petama tahun 2019. Pada tahun-tahun mendatang, Angkatan Udara Kerajaan Belanda secara bertahap akan meningkatkan persentase campuran dan akhirnya mengoperasikan semua pesawatnya dengan SAF. Targetnya pada tahun 2030, AU Belanda ingin mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil hingga 20 persen, dan pada 2050 meningkat menjadi 70 persen.

Di Indonesia pun, sudah ada wacana untuk menggunakan biofuel untuk penerbangan, baik sipil dan militer. Secara umum dari FAA (Federal Aviation Administration), biofuel telah dijamin tidak mengganggu keselamatan dalam penerbangan. Untuk biofuel ini Indonesia memang menandatangani kerjasama dengan FAA lembaga di Amerika yang mengurusi penerbangan.

Baca juga: Pilah Pilih! Mesin yang Ideal Untuk F-16 Viper (Indonesia)

Indonesia akan menggunakan bahan alami dari sawit. Pihak FAA sudah mengamini dan melakukan pengawasan serta membantu dalam urusan transfer teknologi terkait biofuel. Kenapa sawit dipilih? Lantaran sawit tersedia banyak di Indonesia. Bahan biofuel di tiap negara memang berbeda, Amerika menggunakan tebu.

Lepas dari bahan bakar yang ramah lingkungan, tentu yang juga menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana pengaruh penggunaan biofuel pada performa mesin jet tempur? (Gilang Perdana)

12 Comments