Latma Albatros Ausindo 2021 – Ajang ‘Pertemuan’ Dua Pesawat Intai Maritim Beda Generasi Satu Keturunan

(TNI AU)

Untuk kesekian kalinya, TNI AU dan Angkatan Udara Australia (Royal Australian Air Force/RAAF) menggelar latihan bersama (latma), dan yang terbaru adalah Latma Albatros Ausindo 2021 (20 – 23 September), yakni latma dengan tema operasi intai maritim.

Baca juga: Pantau Lokasi Gempa di Mamuju, Boeing 737-200 Surveillance TNI AU Perlihatkan Video Beresolusi Tinggi

Dikutip dari tni-au.mil.id (23/9/2021), TNI AU mengerahkan satu pesawat Boeing 737 AI-7302 dari Skadron Udara 5 Lanud Sultan Hasanudin, Makassar, sementara RAAF mengerahkan pesawat P-8A Posaidon, dari Wing 92 Edinburgh AFB Australia. Tujuan latma ini untuk meningkatkan kemampuan kedua Angkatan Udara dalam melaksanakan patroli maritim terkoordinasi yang digelar di ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) III.

Selama latihan, Boeing-737 TNI AU berada di Lanud Eltari Kupang sebagai pangkalan ajunya, sementara P-8A Posaidon diterbangkan langsung dari Australia Wing 92 yang berlokasi di Lanud Edinburgh, bagian utara Adelaide, Australia Selatan. Sebelum Albatros Ausindo 2021, seperti pada Albatros Ausindo 2012, RAAF mengerahkan pesawat intai maritim P-3C Orion.

Boeing 737-200 Surveillance AI-7302 (TNI AU)

Nah, yang menarik dicermati dari Latma Albatros Ausindo 2021, yaitu ‘bertemunya’ dua pesawat intai beda generasi namun masih satu keturunan, yaitu sama-sama menggunakan platform Boeing 737.

Boeing 737 Surveillance bernomer AI-7302 yang digunakan Skadron Udara 5 jelas lebih senior, lantaran menggunakan basis varian 737-200 yang dicirikan dengan jenis ‘mesin lonjong’. Berdasarkan catatan, Boeing 737-200 Surveillance dengan nomer AI-7302 tiba di Indonesia pada 30 Juni 1983.

Apa yang membuat Boeing 737-200 Skadron 5 ini begitu menarik? Jawabannya terletak dari keberadaan radar modular yang terpasang berdekatan dengan sirip tegak. Airborne radar ini lebih kondang dengan identitas SLAMMR (Side Looking Airborne Modular Multi Mission Radar) buatan Motorola. Dalam identifikasi sistem radar oleh AS, SLAMMR diberi kode AN/APS-94. Radar ini berbentuk punuk kecil dengan dua blade antenna yang mengapit sirip tegak. Masing-masing antenna radar ini punya panjang 4,87 meter. Kebisaan radar ini adalah mampu mengendus keberadaan kapal hingga ukuran kecil dalam coverage sejauh 185 km pada ketinggian 9.150 meter dari permukaan laut.

P-8A Poseidon RAAF.

Pesawat intai ini juga dilengkapi kamera resolusi tinggi WESCAM MX-20HD Electro Optical and Infrared (EO/IR) buatan L3 Communications. WESCAM MX-20HD termasuk kategori multispectral sensor dengan gyro-stabilised, WESCAM MX-20HD dapat dimuati tujuh sampai delapan sensor yang bekerja secara simultan, termasuk infrared, HD thermal, HD daylight, CCDTV (Charge-Coupled Device Television), image intensifier, laser rangefinder dan laser illuminator.

Sementara P-8A Poseidon yang digunakan RAAF mengusung platform Boeing 737-800ER (Extended Range). Pesawat yang didapuk sebagai pesawat intai maritim tercanggih ini tak hanya mampu melakukan tugas pengintaian di atas dan bawah permukaan laut, lebih jauh Poseidon dapat melakoni aksi tindakan untuk misi serangan pada target kapal permukaan dan kapal selam.

Baca juga: Dikerahkan dalam Misi SAR KRI Nanggala 402, Inilah Teknologi yang Digunakan P-8A Poseidon

Beberapa etalase senjata yang dibawa memang tergolong maut, sebuat saja rudal udara ke permukaan AGM-84H/K SLAM-ER, rudal anti kapal AGM-84 Harpoon, torpedo MK54, ranjau laut MK52, dan bom laut (depth charge). Singkat kata, Poseidon memang punya tugas khusus membinasakan kapal selam. Tak hanya bekal bomb bay, hebatnya bagian sayap pesawat ini bisa pula ditempeli cantelan senjata. (Gilang Perdana)

8 Comments