Latihan Anti Pendaratan Amfibi, Pasukan Cina di Pulau Terluar Gunakan Rudal Anti Tank HJ-73

Berita provokasi di Laut Cina Selatan dan upaya Beijing untuk menginvasi Taiwan telah menggambarkan upaya ofensif Sang Naga, sebaliknya tak banyak pemberitaan yang mengulas aspek defensif militer Cina. Meski jarang terdengar, militer Cina telah menyiapkan serangkaian strategi pertahanan di pulau terluar, khususnya untuk antisipasi bila terjadi serangan balik dari lawan ke wilayah pesisir.

Baca juga: Di Ambang Perang, Cina Tempatkan Rudal Anti Kapal di Pesisir yang Menghadap Selat Taiwan

Dari postingan akun X @jesusfroman, ditampilkan aktivitas latihan dari unit kecil garnisun yang bertanggung jawab atas pertahanan di Pulau Nanpeng. Unit pasukan pertahanan pantai tersebut tengah menjalankan operasi anti pendaratan amfibi, yakni mencengah invasi asing ke teritorial Cina daratan.

Dalam latihan tersebut, nampak pasukan pertahanan Cina menggunakan rudal anti tank HJ-73, yakni untuk menargetkan kendaraan amfibi yang akan melakukan pendaratan. Pulau Nanpeng menjaga sisi barat jalur transportasi laut Guangdong-Fujian dan keberadaan pulau tersebut penting untuk jalur pasokan laut ke wilayah Macau Barat.

HJ-73
HJ-73 merupakan rudal anti-tank produksi, meskipun model pertama merupakan copy-an dari rudal anti-tank Soviet 9M14M Malyutka. Meskipun dianggap usang, senjata anti tank ini masih digunakan secara luas, selain murah dan mudah digunakan dibandingkan dengan senjata anti-tank modern.

HJ-73 dikendalikan dari kotak kendali 9S415. HJ-73 digunakan baik dari peluncur manpack atau instalasi pada kendaraan. Peluncur manpack model awal adalah salinan langsung dari kotak kendali buatan Soviet. Kemudian stasiun kendali Semi-Automatic Command to Line of Sight (SACLOS) domestik dikembangkan, dan berlanjut pada adopsi HJ-73 di beberapa kendaraan modern Cina yang dilengkapi dengan HJ-73C di kedua sisi turret.

Model awal HJ-73 memiliki kelemahan, salah satunya penetrasi lapis baja hanya 400 mm dan pemandu Manual Command Line of Sight (MCLOS). Namun, di tangan Cina HJ-73 terus ditingkatkan, tetapi tidak sekuat model terbaru Serbia. Sistem pemandu SACLOS mulai digunakan pada varian HJ-73B dan seterusnya. Semua model HJ-73 memiliki jangkauan maksimum 3 km.

Selain HJ-37B, kemudian ada varian HJ-73C, yakni mengandalkan pemandu SACLOS dengan probe hidung yang diperluas untuk ledakan stand-off dengan peningkatan efektivitas terhadap Explosive Reactive Armor (ERA). Ada lagi varian HJ-37D, yakni hadir dengan hulu ledak tandem High Explosive Anti Tank (HEAT) untuk meningkatkan efektivitas melawan ERA. Varian ini dapat diidentifikasi dengan sirip kecil pada probe hidung.

Dari spesifikasi, rudal anti tank HJ-73 punya berat 10,9 kg (termasuk berat hulu ledak HEAT 2,6 kg), panjang 0,86 meter, diameter 0,12 meter dan lebar bentang sayap 0,39 meter. HJ-73 ditenagai single-stage solid propellant rocket motor dapat melesat dengan kecepatan 115 meter per detik untuk menguber target sejauh 3 km. (Gilang Perdana)

Perkuat ‘Cengkraman’ di Laut Cina Selatan, Beijing Bangun Dok yang Bisa Menampung Kapal Induk di Pulau Hainan