Laris Manis Berkat Label ‘Combat Tested’, Pakistan Bidik Penjualan JF-17 Thunder ke 13 Negara

Setelah performa impresif jet tempurnya dalam konflik udara melawan India tahun lalu, minat global terhadap pesawat tempur JF-17 Thunder meroket tajam. Laporan terbaru dari Reuters menyebutkan bahwa Islamabad kini tengah menjalin pembicaraan serius dengan sedikitnya 13 negara untuk pengadaan alutsista, termasuk varian tercanggih JF-17 Block III.

Baca juga: Indonesia Bidik JF-17 Thunder: Menhan RI Temui KSAU Pakistan Bahas Jet Tempur dan Drone Kamikaze

Dahulu, JF-17 sering dipandang sebelah mata sebagai jet tempur “ekonomis”. Namun, narasi tersebut berubah total setelah jet ini terlibat langsung dalam pertempuran udara intens dengan Angkatan Udara India pada Mei 2025 (dikenal sebagai Operation Sindoor).

Keberhasilan JF-17 dalam menjaga ruang udara dan klaim keunggulannya atas aset-aset tempur India memberikan label “combat-tested” (teruji tempur) yang sangat prestisius. Label inilah yang kini menjadi magnet bagi negara-negara di Timur Tengah, Afrika, hingga Asia Tenggara.

Menurut sumber yang dikutip Reuters, Pakistan sedang bernegosiasi dengan 13 negara, di mana pembicaraan dengan enam hingga delapan negara di antaranya sudah memasuki tahap lanjut. Berikut adalah beberapa poin menarik dalam upaya ekspor besar-besaran ini. Negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Azerbaijan, dan Indonesia dilaporkan menaruh minat besar. Arab Saudi dikabarkan tengah mendiskusikan paket kerja sama militer senilai miliaran dolar yang mencakup jet tempur ini.

Update Kesepakatan Arab Saudi-Pakistan: Alasan di Balik Akuisisi Jet Tempur JF-17 Senilai $4 Miliar

Untuk pasar Afrika, Sudan dan Libya juga masuk dalam daftar pembeli potensial. Pakistan bahkan disebut hampir merampungkan kesepakatan senilai $1,5 miliar dengan Sudan untuk paket JF-17, pesawat latih K-8, dan ratusan drone.

Pasca pergantian kepemimpinan di Bangladesh, hubungan militer kedua negara membaik drastis, dengan diskusi intens mengenai pengadaan JF-17 Block III.

Pakistan bersandar pada varian terbaru, Block III. Varian ini membawa teknologi JF-17 Thunder setara dengan jet tempur generasi 4,5, termasuk kelengkapan radar AESA, rudal udara-ke-udara jarak jauh PL-15 yang dianggap sebagai ancaman serius bagi jet tempur Barat.

Dubai Airshow 2025: Tejas Dilanda Badai Pasca-Jatuh, JF-17 Rebut Peluang di Pasar Jet Tempur Ringan

Dengan banderol sekitar $30–$40 juta per unit, JF-17 hanya memakan biaya sepertiga dari jet tempur Barat (seperti Rafale atau F-16 terbaru), namun dengan performa yang bersaing.

Fenomena “naik daunnya” JF-17 sering dibandingkan dengan jet tempur Tejas dari India. Meski Tejas dikembangkan dengan teknologi mutakhir, JF-17 dianggap lebih unggul dalam hal rekam jejak ekspor dan pengalaman tempur nyata. Kecepatan Pakistan dalam memproduksi dan menawarkan paket pelatihan lengkap—tanpa embel-embel syarat politik yang ketat seperti senjata Barat—menjadikannya pilihan favorit bagi negara-negara berkembang.

Pakistan Raih Kontrak 40 Unit JF-17C Block III Thunder Senilai $4,6 miliar dari Azerbaijan, ‘Berkah’ Duel Udara di Kashmir?

Dengan lonjakan permintaan ini, tantangan utama bagi Pakistan Aeronautical Complex (PAC) adalah skala produksi. Saat ini, Pakistan mampu memproduksi sekitar 20 pesawat per tahun. Namun, guna memenuhi pesanan dari 13 negara tersebut, Pakistan berencana melipatgandakan kapasitas produksinya pada akhir 2027.

Keberhasilan JF-17 Thunder bukan sekadar kemenangan militer, tetapi juga kemenangan ekonomi bagi Pakistan. Jika kesepakatan dengan 13 negara ini terealisasi, industri pertahanan Pakistan diprediksi akan menyumbang miliaran dolar bagi cadangan devisa negara, sekaligus mengukuhkan posisi JF-17 sebagai salah satu jet tempur ringan paling sukses di pasar internasional saat ini. (Gilang Perdana)

Diboyong ke Inggris, Pakistan Bangga Tampilkan Jet Tempur JF-17C Thunder Block III di RIAT 2025

One Comment