Lama Tak Terdengar Kabarnya, Meriam Gunung M-48 “Tito Gun” Diboyong ke IKN Nusantara

Lama tak terdengar kabar meriam gunung M-48 76 mm ”Tito Gun”, alutsista artileri medan (armed) legendaris yang dioperasikan TNI AD lebih dari lima dekade ini belum juga dipensiunkan. Malah ada kabar sejumlah M-48 berikut ratusan amunisi telah dikirim menuju IKN (Ibu Kota Negara) Nusantara dengan menggunakan pesawat angkut berat C-130 Hercules.

Baca juga: M-48 76mm – Meriam Gunung Yon Armed TNI AD

Mengutip dari akun Instagram Lembaga Keris, Batalyon Artileri Medan 7/Biring Galih atau Yon Armed 7/155/Gerak Sendiri yang bermarkas di Bekasi, Jawa Barat, telah melaksanakan pemberangkatan meriam gunung M-48 76 mm menuju IKN guna melaksanakan penyerahan meriam serta melatih bakhor kepada Batalyon Artileri Medan 18/Buritkang atau Yon Armed 18/Komposit yang bermarkas di Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, pada Sabtu (29/6/2024).

Dalam pemberangkatan tersebut, C-130 Hercules TNI AU disebut membawa beberapa pucuk meriam 76 dan munisi sebanyak 313 butir untuk diserahkan kepada Yonarmed 18 Buritkang. Lantaran diberangkatkan jelas Agustus, maka ada yang menyebut beberapa pucuk meriam gunung akan diperankan sebagai Salute Gun pada peringatan HUT RI ke-79 yang akan dihelat di IKN Nusantara.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Lembaga KERIS (@lembagakeris)

M-48 adalah meriam buatan Yugoslavia, senjata ini dirancang semasa perang dingin, dan dipersiapkan untuk bergerak di wilayah pegunungan. Ini artinya M-48 harus memiliki desain yang kompak dan ringan, sehingga memudahkan mobilitas bagi awak yang mengoperasikan. Karena dituntut punya mobiltas tinggi serta bobot yang ringan, M-48 pun hanya mengadopsi spesifikasi kaliber ukuran kecil untuk kelas senjata armed, yakni 76mm.

Berat M-48 secara keseluruhan ’hanya’ 680 kilogram, terbilang ringan dibanding meriam kaliber 105 mm dan meriam kaliber 120 mm. Meriam ini menggunakan dua roda, dan untuk mobilitasnya cukup ditarik kendaraan 4×4 sekelas jip, atau truk ringan. Tapi ada yang membuat M-48 begitu khas dibanding alutsista TNI lainnya, dimana komponen meriam ini bisa diurai, sehingga bisa dibawa oleh satu regu pasukan, untuk merakitnya kembali pun relatif singkat, dalam sebuah defile penulis sempat melihat kemampuan awak Yon Armed merakit M-48 dalam hitungan dibawah 10 menit.

Lama Tak Terdengar, Meriam Gunung M-48 “Tito Gun” Yonarmed 11 Kostrad Masih Perkasa

Sifanya yang ringan dan mobile, menjadikan M-48 sangat pas mendukung pergerakan pasukan lintas udara. Dalam beberapa latihan, helikopter Bell 412 milik Penerbad TNI AD kerap menggotong M-48 menuju area steling. M-48 pun sebenarnya sangat pas mendukung pergerakan pasukan dalam operasi gerilya, dimana M-48 juga dengan mudah ditarik oleh hewan sekelas kerbau.

TNI AD sangat mempercayakan meriam ini sebagai unsur senjata armed yang paling dominan, setidaknya ini bisa dilihat dari banyaknya batalyon armed yang masih menggunakan M-48. Dari beragam tipe M-48, yang dimiliki TNI AD adalah jenis M 48-B1-A1-I.

NBell-412 Penerbad TNI AD tengah membawa M-48

M-48 punya jarak jangkau tembakan proyektil antara 7.800 – 8.750 meter. Sudut elevasi laras bisa diset secara manual mulai -15/+45 derajat. Kecepatan luncur proyektil mencapai 387 meter per detik, dan dalam tingkat kesiapan tinggi, awak M-48 dapat menembakkan hingga 25 peluru per menit. Larasnya sendiri harus diganti bila telah melewati 6.000 tembakan.

Jenis amunisi yang bisa dilontarkan dari M-48 adalah HE (high explosive)-unitary, HE-Frag, HESH, HEAT, Smoke, dan Inert training. Berat untuk proyektilnya bervariasi, seperti untuk jenis HEAT (high explosive anti tank) – 5,1 kg dan HE M55 – 6,2 kg. Di lingkungan armed TNI AD, satu pucuk M-48 diawaki oleh 6 personel. Dengan menggunakan basis towed, meriam ini dapat ditarik jip hingga kecepatan maksimum 30 km per jam.

M-48 akrab disebut sebagi ”Tito Gun,” Tito mengacu pada nama Presiden Yugoslavia kala itu, Josef Broz Tito. Sudah tidak diproduksi, selain Indonesia M-48 masih digunakan secara terbatas oleh India, Myanmar, dan Sri Lanka. (Gilang Perdana)

3 Comments