Lakukan Penyamaran, Rudal Balistik Diluncurkan dari Truk Kontainer

Penyamaran rupanya masih menjadi kebutuhan bagi satuan peluncur rudal jelajah dan rudal balistik. Selain Iran yang belum lama menampilkan rudal anti kapal Noor yang diluncurkan dari truk sipil berukuran kecil, maka serupa tak tak sama, di era Perang Dingin, Uni Soviet pernah merancang peluncuran rudal balistik jarak jauh antarbenua dari platform truk trailer kontainer sipil yang disamarkan.

Baca juga: Lakukan Penyamaran, Iran Luncurkan Rudal Anti Kapal “Noor” dari Truk Sipil

Dalam gelaran pertempuran, unit peluncur rudal balistik ICBM dalam platform mobile adalah sasaran prioritas yang menjadi incaran untuk dihancurkan dalam babak awal serangan udara. Mengutip sumber dari Topwar.ru (12/2/2015), pada awal dekade 80-an yang menjadi puncak dari ketegangan antara Uni Soviet dan AS/NATO, dari kubu Soviet rupanya telah mengantisipasi hal tersebut.

Upaya pun kemudian dilakukan oleh Moscow Institute of Thermal Engineering (MIT) yang pada tahun 1983 mengembangkan proyek yang disebut Temp-SM, namun terakhir lebih dikenal sebagai rudal balistik berbahan bakar padat dengan label 15P159 “Courier” (RSS-40 Kuryer). Selanjutnya ada permintaan dari Kremlin untuk memperkecil desain rudal Courier agar mampu diluncurkan dari platform truk kontainer dan tentunya dapat juga diluncurkan dari platform kereta api.

Adopsi peluncur pada truk trailer sipil dilakukan dengan tujuan untuk mengelabui pengintaian dari udara, baik oleh pesawat intai maupun satelit mata-mata. Sejatinya dokumentasi tentang program platform peluncur rudal dengan truk trailer berkontainer ini masih banyak yang belum dibuka ke publik.

Namun dari beberapa foto yang berhasil didapat, terlihat platform pembawa dan peluncur menggunakan truk MAZ-6422 dengan menggandeng MAZ-9389 semi trailer. Guna memaksimalkan kamuflase, direncanakan peluncuran akan memanfaatkan sebuah ‘gudang’ yang disamarkan, alhasil benar-benar sistem peluncur ini tersamarkan.

Meski menawarkan sejumlah keunggulan, namun dari sisi operasional pola ini kurang disukai oleh awak satuan tembak, diantaranya ada kendala pada aspek koordinasi, kendali dan komunikasi yang minim pada platform truk kontainer.

Dari dokumentasi yang ada, rudal Courier disebut punya panjang tidak lebih dari 11,2 meter dengan diameter 1,36 meter. Pada tahap awal proyek, rudal punya bobot 15 ton, tetapi kemudian ditingkatkan menjadi 17 ton guna menjangkau sasaran sejauh 10-11 ribu km. Hulu ledak rudal ini bisa mencapai 500 kg, mencakup isian berupa hulu ledak nuklir.

Baca juga: Korea Utara Tampilkan Hwasong-16, Rudal Balistik Antarbenua Terbesar di Dunia

Seiring bubarnya Uni Soviet, pengembangan platform ICBM dari truk semi trailer pun dihentikan. Meski begitu, perkembangan sistem ini tak kunjung hilang. Pada dekade 90-an, Moscow Institute of Heat Engineering secara aktif mengerjakan sejumlah proyek teknologi rudal yang menjanjikan untuk Strategic Missile Forces dan armada angkatan laut. Model rakitan dan rancangan Courier diterapkan pada rudal Topol-M dan Bulava. (Bayu Pamungkas)

10 Comments