Kronshtadt Orion-E: Bukti Eksistensi Rusia di Pasar Ekspor Drone Tempur

Bila dibandingkan Amerika Serikat, Israel dan Cina, tak bisa dipungkiri bahwa Rusia masih tertinggal dalam pengembangan drone. Meski begitu bukan berarti Negeri Beruang Merah ini layu dalam inovasi seputar drone. Dari beberapa konsep dan prototipe yang tengah dikembangkan, nama Orien bisa disebut sebagai drone produksi Rusia yang paling terdepan saat ini, dengan status telah diluncurkan dan diproduksi. Bahkan varian ekspor-nya (Orion-E) disebut-sebut telah berhasil dijual ke Mesir dan Suriah.

Baca juga: TNI AU Ditawari Watchkeeper WK450, Drone Battle Proven di Afghanistan

Bagi Anda yang pernah mengikut artikel kami terdahulu, nampak bahwa Orion-E desainnya mirip dengan drone intai lansiran Inggris, yang juga pernah ditawarkan ke TNI AU – Watchkeeper WK450, yang battle proven di laga Afghanistan. Kemiripan tentu terlihat dari desain dua sayap vertikal yang miring laksana pesawat tempur stealth.
Orio-E merupakan produksi Kronshtadt Group, dan termasuk kategori drone MALE (Medium Altitude Long Endurance). Predikat MALE pantas disematkan, lantaran Orion-E sanggup terbang terus menerus selama 24 jam pada ketinggian maksimum 8.000 meter, dengan jarak jelajah 250 km.

Tak ubahnya prinsip drone pada umumnya, Orion-E pada bagian bawah fuselage-nya dilengkapi kubah yang berisi sensor electro-optical/infrared (EO/IR) dengan dua kamera thermal, wide angle TV camera, dan laser range finder/target designator. Dengan bobot keseluruhan 1.000 kg, kapasitas payload Orion-E maksimum mencapai 200 kg, pihak Kronshtadt menyebut tipe sensor merupakn kustom sesuai kebutuhan pengguna.

Meski secara terbatas, Orion-E dapat disulap sebagai UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle) dengan kemampuan melepaskan 4 bom pintar dengan bobot masing-masing 50 kg.

Orion-E ditenagai mesin tunggal turbo propeller Saturn 36MT dengan tenaga 100 hp. Orion-E secara teknis dapat terbang dengan kecepatan 120 – 200 km per jam. Bila kendali dengan LoS (Line of Sight) adalah 250 km, maka dengan penggunaan unmanned transponder maka jarak jelajah dapat ditingkatkan menjadi 300 km.

Dengan kemampuan yang ada, jelas Orion-E masih tertinggal dibanding drone sejenis yang dibangun oleh Cina atau Turki sekalipun. Orion-E yang pertama kali dipernalkan pada MAKS 2017 AirShow pun tengah dibangun varian yang lebih majunya, yaitu Orion2.

Baca juga: Star Shadow – Mengudara Pertengahan 2019, Satu Lagi Prototipe Drone Tempur Stealth dari Cina

Orion 2 digadang sebagai HALE (High Altitude Long Endurance) dengan bobot 5.000 kg. Drone tempur ini sanggup membawa payload sampai 1.000 kg dan bisa terbang sampai ketinggian 12.000 meter, serta kecepatan 350 km per jam. Rencananya Orion 2 akan diperkenalkan pada tahun 2020. (Gilang Perdana)

One Comment