KRI Prabu Siliwangi 321 Uji Tembak Perdana Meriam Leonardo Strales Sovraponte 76/62

Setelah resmi menyandang nama KRI Prabu Siliwangi 321 dalam upacara serah terima pada 22 Desember 2025 di galangan kapal Muggiano, La Spezia, Italia, kabar terbaru menyebut kapal kombatan serbaguna PPA (Pattugliatore Polivalente d’Altura) class terbaru TNI AL, KRI Prabu Siliwangi 321 sukses melaksanakan penembakan perdana meriam Leonardo Strales Sovraponte 76/62.
Penembakan perdana Sovraponte 76 mm dalam rangka pelayaran uji coba structural firing sebagai bagian dari rangkaian sea going lanjutan. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menguji kekuatan struktur kapal, integrasi sistem senjata, serta memastikan seluruh aspek mekanis dan elektrikal berfungsi sesuai dengan spesifikasi teknis.
Penembakan meriam ini menjadi momen penting dalam tahapan uji coba kapal perang, di mana getaran, respons struktur, serta stabilitas platform senjata diamati secara menyeluruh guna menjamin keselamatan dan efektivitas operasional di masa mendatang. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan dengan menerapkan prosedur keselamatan secara ketat dan melibatkan personel sesuai fungsi dan keahliannya masing-masing.
Selain structural firing, pada pelayaran uji coba ini juga dilaksanakan uji coba peran sekoci guna menguji kesiapan sistem penurunan dan pengoperasian sekoci, sekaligus meningkatkan keterampilan awak kapal dalam mendukung keselamatan pelayaran dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.
Melalui rangkaian uji coba tersebut, diharapkan KRI Prabu Siliwangi-321 semakin siap memasuki tahapan operasional berikutnya serta mampu mendukung tugas-tugas TNI Angkatan Laut dalam menjaga kedaulatan dan keamanan perairan nasional.
Leonardo Sovraponte disebut meriam superfiring atau meriam buritan superfiring. Istilah “superfiring” merujuk pada penempatan meriam yang lebih tinggi dari meriam atau struktur lain di depannya, sehingga memiliki sudut tembak yang lebih luas dan tidak terhalang. Dalam konteks kapal perang, meriam buritan superfiring ditempatkan di posisi yang lebih tinggi di bagian belakang kapal, memungkinkan tembakan ke belakang kapal tanpa terganggu oleh struktur hanggar atau bagian lainnya.
Sesuai dengan namanya Sovraponte (“di atas dek”), meriam ini tidak memiliki penetrasi dek, sehingga memungkinkannya ditempatkan di lebih banyak lokasi di kapal. Hal ini penting karena meriam ini juga dipasarkan sebagai sistem senjata jarak dekat, dengan amunisi berpemandu yang memberikan jangkauan serangan lebih jauh, jika dibandingkan kanon CIWS (Close In Weapon Systrem) yang punya kaliber lebih kecil, sebut saja CIWS kanon laras putar Goalkeeper (30 mm) atau Phalanx (20 mm).
Leonardo Sovraponte menggabungkan banyak teknologi yang terkait dengan dudukan senjata pada varian OTO Melara Super Rapid 76 mm. Hal ini termasuk laras meriam kaliber 76 mm 62, bagian dari feed mechanism (automatic loader) dan optional Strales radar beam guidance system.

Ciri khas Leonardo Sovraponte dirancang dengan kubah (turret) yang miring, sehingga menghasilkan tanda radar yang berkurang dan mendukung desain kapal stealth. Semua amunisi ditempatkan di atas dek, yang secara keseluruhan terdapat 76 amunisi yang terpasang pada turret.
Leonardo Sovraponte dapat menembakkan amunisi NATO 76 mm dengan jangkauan reguler (16 km), ditambah amunisi Vulcano 76 mm jarak jauh dan amunisi DART berpemandu. Amunisi Vulcano 76 mm hadir dalam beberapa varian dengan jangkauan 30 hingga 40 km dan mungkin dilengkapi panduan terminal.
Dari spesifikasi, turret Leonardo Sovraponte dalam kondisi tanpa amunisi punya berat 4,7 sampai 5,5 ton. Dengan sudut putar 360 derajat, laras meriam ini punya sudut elevasi -15° to +85°, sementara kecepatan luncur proyektil disebut mencapai 925 meter per detik. (Bayu Pamungkas)
OTO-Melara/Oerlikon KBA 25mm – Kanon PSU di fregat KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321



@Doyok : kaliber dimensi besar jika hanya untuk hit drone mungkin terlalu over
Untuk drone akan lebih bijak menggunakan kaliber 20mm – 35mm dan saat ini para pakar sedang berlomba menggunakan senjata laser sebagai anti dot drone dan lainnya lebih dikarenakan biaya yang jauh lebih murah dari kaliber Close in weapon sistem (CIWS)
Sejatinya Close in weapon sistem (CIWS) difungsikan sebagai payung pertahanan short range, yang artinya sebagai pertahanan terakhir
Penempatan CIWS di bagian atas pada kaprang lebih disebabkan untuk menembak serangan sea skimming seperti rudal, drone atau serangan lainnya yang mendekat kearah kaprang
Saat ini banyak negara sedang mengembangkan senjata laser, Perusahaan Rafael dari negara zeonis Israel sedang mengembangkan Naval Iron Beam yaitu senjata berbasis laser yang diperuntukan untuk kaprang untuk antidot rudal dan UAV
Selain itu PT Pal juga sedang mengembangkan senjata laser untuk Frigat Merah Putih dengan jangkauan -+ 500 meter untuk antidot pertahaanan jarak dekat
Senjata laser kedepannya akan menjadi lebih diandalkan karena dari segi harga lebih murah, lebih persisi, akselerasi lebih cepat (kecepatan cahaya) dan lainnya
@Diesel : mungkin ada pertimbangan tertentu, karena secara teori diameter lebih besar akan memiliki jangkauan lebih jauh dan daya rusak yang lebih luas
Dengan diameter lebih besar dapat melakukan tembakan pembuka untuk pengamanan tank dan pasukan hingga tujuan
Hanya saja LPD dengan ukuran yang tentunya tidak kecil rawan dari rudal pertahanan pantai yang biasanya memiliki range lebih jauh dan daya rusak dari meriam
@odong-odong : PPA milik TNI AL adalah Fitted For But Not With” (FFBNW) dari PPA aslinya, yang artinya tanpa persenjataan berat seprti spek PPA aslinya
Pada PPA milik TNI AL dapat dimungkinkan memiliki perbedaan teknis dari PPA Itali dalam persenjataan beratnya seperti rudal
Akan tetapi pihak Indonesia telah menyatakan “ketertarikan” dengan rudal Aster
Perlu diketahui juga untuk armada Heavy Frigat TNI AL 2+2 KRI Merah Putih kita diinstal dengan sistem radar, sonar, persenjataan berat dan lainnya hampir kesemuanya merupakan made in Turki
Jadi tidak tertutup kemungkinan juga PPA milik TNI AL akan di instal milik made in Turki
Berhubung Turki dan Itali adalah bagian dari NATO seharusnya kompleksitas sistem & data link dapat terkoneksi dengan lancar
Secara pribadi saya lebih memilih Aster, karena sudah terbulti butol pulpen, akan tetapi benefit seperti contohnya ToT dan lisensi dari Turki akan lebih memikat, dikarenakan selain dari price lebih miring, Turki membutuhkan kepercayaan militer dati luar untuk produksi militernya dan partner dalam pengembangannya
Akan berbeda cerita jika kita mrnggunakan Aster, yang secara kapabilitas sudah tidak diragukan lagi di kancah dunia militer di dunia
Jika RI niatnya untuk kemandirian di dunia militer, maka made in Turki adalah pilihan bijak, tetapi jika RI memilih Aster maka artinya Ri memilih langsung untuk pilihan mapan jangka pendek disaat kekacauan politik dan militer saat ini
Tidak tertutup kemungkinan juga RI akan mix untuk persenjataan beratnya untuk kelas Heavy Frigat milik TNI AL
Yang patut dicatat adalah apapun pilihannya rudalnya tetap mentok dibawah 300 km
Jika ingin memiliki range diatas 300 km RI hanya nemiliki dua opsi, yaitu : 1. RI harus resmi menjadi anggota Missile Technology Control Regime (MTCR) dan yang ke 2 adalah riset berkepanjangandibantu dengan ToT dan lisensi dari negara importir rudal yang sudah terpercaya di dunia
Pada poin no 2 terkadang kebijakan para pemimpin terkadang berubah ketika pergantian pucuk pimpinan, faktor politiik, keuangan dan lainnya
Tidak jarang berakhir diluar keinginan seperti C-705
Sebenarnya RI telah berangsur menyempurnakan programnya, hanya saja banyak faktor diluar kendali, hal terdebut dikarrnakan hak paten komponen dalam alusista jarang ditemukan yang 100% buatan hanya 1 negara, contohnya KFX/IFX (KF-21 Boramae)
Jadi jangan terkesima jika ada alusista yang akan di jual berasal dari suatu negara terkadang membutuhkan persetujuan negara lain
apa kabar perudalannya min nih kapal? masa ga ada samsek?
Bisa banget.
Jangan cuma dilihat sebagai anti drone aja. Masih ada kegunaan lain tergantung amunisi yang digunakan
Bisa DICOPOT NGGAK SIH ni gun….. cangkokkan ke LPDkita…..buat apa sih GUN GEDE depan blakang……kyk Kriegsmarine BISMARCK, jamannya SWARMING DRONES ATTACK, mending 3-4 BOFORS 40mm/57mm dgn smart burst munition jauh lebih efektif buat drone masal